3T: Tertinggal, Terdepan, Terluar

0

3T “Tertinggal, Terdepan, Terluar”

*Laporan Ust. Abu Safa Dai Sahdan Madina dari Desa Wewemo-Pulau Morotai Timur, Maluku Utara.

Selepas shalat tarawih seorang warga menunjuk ke hutan belakang masjid sambil menuturkan kisah tentang penduduk beragama kristen yang lari ke gunung ketika tahun-tahun kerusuhan, kepulauan Morotai merupakan salah satu daerah sebaran konflik Ambon-Maluku tahun 2000-an, banyak diantara mereka yang meninggal dalam perjalanan karena medan yang ekstrim berupa tebing curam, habitat alam liar dan kondisi yang sangat gelap, terkadang didukung cuaca hujan, Umat Kristiani yang ada di Morotai hari ini adalah mereka yang mengungsi ke Galela, Tobelo atau Manado dan selamat, kemudian akhirnya dikembalikan oleh pemerintah ke Morotai, kami awalnya enggan mendengar cerita lebih jauh tentang kerusuhan khawatir membuka luka lama, bahkan kamipun baru mengetahui bahwa Morotai termasuk dalam radius kerusuhan tersebut, tapi orang-orang yang kami temui kerap menyebut tentang kerusuhan dalam obrolan-obrolan ringan.

Menurut penuturan salah seorang Pegawai Negeri Sipil, Firman S.Ag (30), Masyarakat Muslim Morotai mengetahui dimana letak simpanan bubuk mesiu dan amunisi peluru dengan berbagai ukuran kaliber peninggalan perang dunia yang masih tersimpan baik di tanah Morotai, dibawah rumah-rumah mereka dan di dasar lautan mereka, Ia menyebut Masyarakat Muslim secara spesifik bisa berarti memang hanya Masyarakat Muslim yang mengetahui keberadaannya, karena sesuai penelusuran historis, penyebaran agama selain Islam di Morotai baru dimulai setelah Perang Dunia ke-2, sementara Islam sudah menjadi identitas sejak era Kesultanan Ternate-Tidore, Pulau Bacan, Buton, dan tentu saja Morotai di sekitarnya pun ada dibawah pengaruhnya.

Morotai juga sarat dengan kisah perjuangan, ketik saja Google dengan kata kunci ‘Morotai’, yang muncul adalah kisah-kisah tentang pangkalan udara sekutu kemudian tentara Jepang ketika Perang Dunia II, juga kisah tentang prajurit Jepang Nakamura yang baru keluar dari persembunyian setelah 30 tahun setelah negaranya menyatakan menyerah, The Last Surrender Warrior.

Meskipun memori tentang kerusuhan awal dekade 2000 tidak mudah lenyap dari ingatan masyarakat, begitupun, potensi kerusuhan-kerusuhan kecil masih mengancam keamanan Kepulauan Morotai, keindahan alam Kepulauan Morotai bagi orang yang sudah melihatnya tidak akan terlupakan. Begitu pesawat kami landing di Bandara Leo Wattimena, yang dalam penilaian kami lebih sederhana dibanding Stasiun Kranji, seorang penumpang menuturkan kepada pramugari, “Tunggu apa lagi turun saja disini, tidak ada tempat yang lebih indah dari Morotai”, selorohnya. Ternyata orang yang disebut oleh supir shuttle bandara sebagai preman bandara ini adalah seorang Pilot.

Masyarakat tinggal di pesisir sementara di tengah pulau adalah hutan belantara yang masih liar, bukan hal aneh jika didepan rumah warga terlihat satwa-satwa yang dilindungi seperti elang dan gagak hitam, sungai yang mengalir di pekarangan rumah warga pun sangat jernih dan dingin, banyak ikan di sungai dengan ukuran besar hidup berdampingan dengan warga, terdapat beberapa mata air yang mengalirkan air ke sungai-sungai ini, ditengah hutan di jantung pulau Morotai pun dilaporkan ada air terjun yang mengalirkan air deras dan jernih.

Sebagian masyarakat Morotai mempercayai adanya yang mereka sebut dengan Moro, atau sebagian menyebut Suku Moro, yang diyakini sebagai makhluk yang tidak bisa dilihat, sebagian percaya mereka adalah makhluk halus, banyak kisah tentang orang-orang yang diculik oleh Moro ke tengah hutan, dibawa ke dunia mereka sehingga bisa melihat mereka, namun tidak sedikit dari mereka yang percaya bahwa mereka adalah orang-orang dari Suku Moro di Mindanao, Filipina yang secara geografis sangat dekat dengan Morotai, dan secara fisik identik dengan Masyarakat Kepulauan Morotai, disinyalir ras keduanya masih satu rumpun, namun perlu penelitian lebih lanjut tentang ini, yang uniknya lagi nama beberapa tempat di Morotai dan di Mindanao punya banyak kemiripan. Jika benar mereka adalah Suku Moro dari Filipina pun, apa yang mereka lakukan disini masih misterius, ada yang berspekulasi mereka adalah bekas pejuang yang ikut terlibat membantu ketika kerusuhan, kemudian bersembunyi di tengah hutan, cerita tentang Moro selalu seragam, Moro menculik warga yang membawa makanan, kemudian dibawa ke tengah hutan, dikembalikan dalam 3-4 hari kemudian dalam keadaan lemas, warga mencampur legenda Moro dengan kisah-kisah takhayul membuat masyarakat semakin enggan mencari tahu tentang faktanya. Saking populernya Moro bagi masyarakat Morotai, warga menyebut setan di Morotai dengan sebutan Moro.

Sebuah kondisi geososial yang unik mudah ditemukan di Kepulauan Morotai dimana satu desa berpenduduk Muslim seratus persen kemudian di desa lain yang bersebrangan warganya seratus persen beragama Kristen sementara ditengah-tengahnya sebuah desa dengan jumlah warga beragama Kristen dan Islam hampir seimbang. Kondisi ini menegaskan bahwa konflik horizontal yang pernah terjadi membekas kuat bagi masyarakat beragama di kepulauan Morotai.

Hal unik lain lagi bahwa penduduk kepulauan Morotai yang mengenali orang dengan nama keluarganya seperti suku Batak punya anomali unik dalam sistem komunal mereka; marga sudah tidak lagi punya pengaruh dalam pembentukan komunal, tapi agama. Sangat mudah ditemukan dikepulauan ini, sebagaimana juga dituturkan berulang kali oleh orang setempat bahwa dalam satu marga, misal marga Pinoa, sebagian mereka Muslim sebagian lagi Kristen.

Menggali lebih jauh tentang memori kerusuhan dan cerita-cerita heroik didalamnya meski membuat kita berdecak kagum pada masyarakat Muslim Morotai, sayangnya tidak merubah kondisi apapun bagi mereka , meskipun seorang tokoh Muslim menuturkan bahwa kondisi lebih baik ketika masa itu karena pemuda-pemuda yang biasa mabuk dijalan jadi rajin pergi ke masjid, namun tidak ada yang menginginkan konflik sebagaimana Nabi Muhammad menganjurkan untuk menghindari konfrontasi:

لا تَمَنَّوْا لقاء العَدُو

Cukuplah kesimpulan dari kisah-kisah ini meyakinkan kami bahwa masyarakat muslim Morotai memiliki ghiroh keislamaan yang tinggi yang inheren dengan sejarah nenek moyang mereka yang menguasai Maluku dan
Filipina Selatan dengan panji Islam, sebelum penjajah dari arah Barat datang mengkoloni mereka dan mempenetrasi agama tandingan. Tapi jangan biarkan mereka sendiri kali ini, mereka kita kawal mereka dengan ilmu, senjata sekaligus benteng yang kokoh dari ancaman apapun.

Sampainya hujjah di kepulauan ini yang merupakan tanggung jawab semua Muslim khususnya di Nusantara, peran sebagai penyampai risalah -sebuah keniscayaan tak terelakkan sebagai seorang Muslim- masih sangat minim, akses terhadap dalil dan sumber-sumber wahyu masih terbatas pada mereka yang mau merantau untuk tujuan spesifik mencari ilmu agama, bahkan yang merantau belajar sains dan sosial keluar pulau saja masih sedikit, penghidupan ideal bagi penduduk lokal masih sangat klise; kuliah dan jadi PNS, sebagian orang hidup tidak dengan bekerja mencari uang tapi bekerja mencari makan, rumah mereka kecil dan sederhana tapi makan mereka banyak dan enak-enak, begitu kata orang sini.

Al-Quran dan alat ibadah seperti Mukena, sarung dan peci sangat berharga bagi mereka, sama halnya dengan bantuan logistik, namun hari ini yang paling mereka butuhkan adalah Al-Quran, syukur-syukur dengan terjemahannya, masih dalam momentum bulan Ramadhan, kami membuka jalur pengiriman Al-Quran juga bingkisan untuk Hari Raya berisi Alat Ibadah untuk masyarakat Morotai jalur yang mungkin tidak lagi dengan mudah ditemukan, adapula kotak donasi untuk pembangunan Musholla dan Perampungan Masjid. Sebagai gambaran kondisi, pemotongan hewan Qurban di Morotai Timur baru terjadi lagi tahun lalu setelah diinisiasi oleh Da’I pembuka jalur kami dari Yayasan Madina, Qurban terakhir terjadi pada tahun 1992, kami berharap tahun depan masih ada lagi. Masyarakat lokal lebih mengenal bantuan dari AMCF-Dubai atau Masjid dari Qatar dibanding dari saudara-saudaranya di Nusantara, harus diakui keterlibatan kita di Kepulauan Morotai pantas membuat kita malu, pantas saja pemerintah menjuluki Kepulauan ini dengan 3T, Tertinggal, karena memang ada kesenjangan yang jauh bahkan dengan daerah di sekitarnya, Terdepan, karena langsung berhadap-hadapan dengan perbatasan Negara Filipina, Terluar, karena merupakan pulau kecil paling utara di Indonesia, Kami ingin usul Pemerintah supaya diganti menjadi 4T, ditambah Terlupakan, karena Muslim di Nusantara tidak tahu bahwa ada saudaranya yang sudah 30 tahun tidak potong hewan Qurban.

*Ust Abu Safa, Da’i Sahdan Madina melaporkan dari Indonesia Timur.

Pada bulan Ramadhan tahun ini, tahun 1439 H/2018 M, Madina telah mengirimkan 75 dai untuk berdakwah di 65 titik dari Sabang hingga Merauke.

3T “Tertinggal, Terdepan, Terluar”