5 Wasiat Nabl Adam

0

5 Wasiat Nabl Adam

Semua pasti kenal Nabi Adam ‘alaihissalam, Nabi pertama, bapak seluruh umat manusia. la dibentuk dan diciptakan langsung oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala memberikannya pasangan seorang perempuan yakni ibunda Hawa.

Keduanya mula-mula tinggal bahagia di jannah-Nya, hingga pada akhirnya, mereka terbujuk oleh tipudaya Iblis untuk memakan buah terlarang di Jannah-Nya, hingga mengakibatkan keduanya dikeluarkan dari Jannah dan diturunkan ke bumi.

Syaikh Abu Laits Nasir bin Muhammad, dalam bukunya Tanbih AI-Ghofilin menjelaskan: Nabi Adam pernah berwasiat dan berpesan kepada para keturunannya, yakni agar memperhatikan Iima hal, apa saja 5 hal tersebut?

Pertama, Jauhilah Sifat Tamak

“Katakanlah pada anak-anak kalian (keturunan) untuk tidak tamak dan bersyukurlah dengan dunia. Karena aku merasa kurang dengan Jannah-Nya yang kekal sehingga Allah Ta’ala tidak ridha akan hal tersebut, dan akhirnya mengeluarkanku dari Jannah-Nya.”

Pesan di atas mengajarkan kepada kita untuk tidak tamak terhadap dunia serta bersyukur dengan apa yang sudah Allah Ta’ala berikan kepada kita. Kita dianjurkan untuk lebih banyak mengingat berbagai nikmat yang sudah Allah Ta’ala berikan kepada kita. dan tidak membandingkan dengan apa yang orang Iain dapatkan, karena apa yang Allah Ta’ala berikan kepada orang Iain belum tentu baik bagi kita.

Dengan sifat tamak dan rakus, justru mengakibatkan rambu-rambu syariat atau perintah Allah Ta’ala mudah untuk diterjangkan. Karena perbuatan dosa dan maksiat akan melahirkan dosa-dosa Iain. Ketika seseorang tamak dengan harta, maka perbuatan dosa tersebut akan melahirkan dosa lain seperti, kikir, menipu, mencuri, merampok, dan korupsi. Itu semua dilakukan demi terpenuhinya syahwat akan harta duniawi.

Begitu juga, ketika ia Tamak dengan wanita. diterjanglah semua rambu-rambu syar’i, demi terpenuhinya nafsunya, hal tersebut mengakibatkan perzinaan dan menumpuknya kebohongan-kebohongan yang Iain. Begitu pula dengan tamak jabatan dan kedudukan.

Kedua, Mengendalikan Hawa Nafsu

“Katakanlah kepada mereka (keturunan), janganlah berbuat sesuatu hanya untuk mengikuti hawa nafsu istri kalian. Karena aku melakukan sesuatu yang diinginkan oleh istriku dengan memakan buah (Khuldi) dari pohon itu, maka datanglah penyesalan karena perbuatan tersebut.”

Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan disertai syahwat. Adanya syahwat pada diri manusia tidak sia-sia, akan tetapi terdapat faidah dan manfaat di dalamnya, yakni supaya bisa menikmati kenikmatan dunia dan seisinya. Oleh karena itu, keberadaan syahwat pada manusia tidak tercela. Celaan itu tertuju jika manusia meIewati batas dalam memenuhi syahwatnya.

Pesan di atas senada dengan sabda Rasulullah SAW yang mengabarkan bahwa, fitnah (ujian) terbesar bagi laki-laki adalah wanita. Beliau SAW bersabda, “Tidaklah aku meninggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebih berbahaya atas laki-laki daripada wanita”(HR. Al-Bukhari: 5O96)

Ketiga, Bijak Saat Berbuat

“Katakanlah kepada mereka (keturunan), setiap perbuatan yang akan kalian lakukan, maka lihatlah akibatnya. Apakah yang akan terjadi setelah kalian melakukannya. Karena jika aku (pada saat memakan buah Khuldi) melihat dan memikirkan dulu apa yang akan terjadi setelahnya, maka tidak akan terjadi apa yang menimpaku setelah itu.“

Semua perbuatan dan perkataan akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat. Bahkan, semua hal, termasuk komentar, apa yang kita upload di social media akan dihisab dan dimintai pertanggung jawaban kelak di hari kiamat.

Sungguh rugi, jika seseorang mengupload atau berkomentar yang keji, memaki atau memfitnah, lalu di sebar luaskan di dunia maya.

Sehingga semua orang yang membacanya ikut mencaci, memfitnah seseorang yang aslinya benar. la akan mendapatkan dosa sampai hari kiamat akibat berkomentar keji, memaki atau memfitnah orang lain.

lngatlah saudaraku, bahwa Semua amalan akan dihisab dan di pertanggungjawabkan kelak diakhirat. Jagalah lisan dan perbuatan kita dari haI-hal yang tidak bermanfaat dan tidak diridhoi Allah Ta’ala. Sehingga Allah Ta‘ala tidak marah dan murka kepada kita semua.

Keempat, Jauhi Sifat Keragu-Raguan

“Jika hati kalian merasa tidak tenang dan ragu-ragu ketika melakukan sesuatu, maka jauhilah atau berhentilah. Karena aku pada saat memakan buah dari pohon itu hatiku berdebar dan aku tidak berhenti memakanya, maka datanglah penyesalan setelah itu.”

Pesan keempat ini, senada dengan sabda Rasulullah SAW agar meninggalkan hal yang meragukan kepada hal yang tidak meragukan. Beliau SAW bersabda, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu”(HR.Tirmidzi: 2518)

Muslim sejati sudah selayaknya membangun keyakinan dalam hatinya ketika berbuat. Yakni dengan mendalami ilmunya sebelum berbuat. Sebab iImu adalah landasan amal. Jika ada yang tidak ia pahami, ia tanyakan kepada orang yang berilmu sehingga ia mantap untuk beramal di atas keyakinan.

Semakin bertambah keilmuan seseorang, semakin berkurang jumlah haI-hal yang meragukannya saat beramal. Karena sesungguhnya kebenaran adalah ketentraman dan dusta adalah keraguan.

Kelima, Bermusyawarah Sebelum Bertindak

“Bermusyawarahlah di dalam segala hal (yaitu dengan meminta pendapat kepada orang yang Iebih tahu tentang perkara yang akan kalian kerjakan). Karena, bila saat itu Aku bermusyawarah dengan malaikat maka aku tidak akan tertimpa musibah (keluar dari surga).”

Dengan bermusyawarah bisa mencari sebuah kebenaran. Adanya kebersamaan. Menyatukan beberapa pendapat yang berbeda. Belajar menahan emosi.

Menghargai pendapat orang lain serta dapat memecahkan suatu permasalahan. Wallahu ‘alam.

(sumber: majalah an najah: 161/26)