Memandu dengan ilmu

Afdhal dan Menyelamatkan

0

Afdhal dan Menyelamatkan

Dalam ilmu periwayatan hadits terdapat istilah hadits ‘musalsal’ yaitu kesesuaian atau kesamaan periwayat hadits dalam mengucapkan atau dalam mencontohkan keadaan atau dalam melakukan perbuatan.

Pembahasan kita kali ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan imam Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim yang bersambung sanadnya sampai sahabat Abdullah bin Salam, dan hadits ini termasuk hadits musalsal dalam pembacaan surat Ash Shaf, yaitu terdapat kesamaan di antara perawi dalam menyampaikan hadits ini dengan membacakan surat Ash Shaf kepada rawi yang dibawahnya.

Hadits Tirmidzi berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بِنْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، أَخْبَرَنَا مُّحَمَّدُ بِنْ كَثِيْرٍ، عَنْ الأَوْزَاعِي، عَن يَحْيَى بِنْ أَبِيْ كَثِيْرٍ، عَنْ أَبِيْ سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بِنْ سَلاَمِ قَالَ : قَعَدْنَا نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَذَاكَرْنَا فَقُلْنَا : لَوْ نَعْلَمُ أَيُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ لَعَمِلْنَاهُ. فَأَنْزَلَ اللهُ : (سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman, telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Katsir, dari al-Auzai dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah dari Abdullah bin salam, ia berkata, “Kami, beberapa orang dari sahabat Rasulullah sedang duduk-duduk berbincang-bincang, kami berkata; Duhai seandainya kami mengetahui amalan apakah yang paling dicintai Allah niscaya kami akan mengamalkannya.

Kemudian Allah menurunkan ayat, “Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (QS. Ash Shaf: 1-2)

Abdullah bin Salam berkata: kemudian Rasulullah membacakannya (surat Ash Shaf) kepada kami. Abu Salamah berkata:  kemudian Abdullah bin Salam membacakannya kepada kami.

Yahya bin Abi Katsir berkata: kemudian Abu Salamah membacakannya  kepada kami. Muhammad bin Katsir berkata: kemudian Al Auza’i membacakannya kepada kami dan Muhammad membacakannya kepada kami.

Abdulah bin Abdurrahman berkata: kemudian Muhammad bin Katsir membacakannya kepada kami.

Majelis sahabat

Ketika sahabat berkumpul dan berbincang-bincang maka kebanyakan yang mereka bicarakan adalah akhirat, mengingatkan untuk taat kepada Allah, memahami suatu ayat, hadits atau fikih suatu ibadah. Mereka tidak berhenti pada mengingat dan memahaminya saja, akan tetapi sampai pada amalan.

Hadits yang diriwayatkan sahabat Abdullah bin Salam adalah salah satu dari sekian banyak riwayat yang mengajarkan kepada kita untuk terbiasa dengan dialog iman, bertemu dengan kawan dan berbincang-bincang masalah akhirat, mengingat Allah dan amal shaleh. Disebutkan dalam fathul bari pada bab Iman, bahwa Ibnu Mas’ud berkata kepada sahabat yang lain, ijlis bina mu’minu sa’ah, marilah kia duduk barang sesaat untuk menambah keimanan kita.

Contoh yang lain adalah sebagaimana diriwayatkan dari Rubaih bin Abdurrahman bin Abu Sa’id Al Khudri dari ayahnya dari Abu Sa’id dia berkata, “Rasulullah pernah keluar bersama kami, sementara kami saling mengingatkan tentang Al-Masih Ad Dajjal, maka beliau bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan terhadap diri kalian daripada Al-Masih Ad Dajjal?” Abu Sa’id berkata, “Kami menjawab, ‘tentu’.” Beliau bersabda, “Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang mengerjakan shalat dan membaguskan shalatnya dengan harapan agar ada seseorang yang memperhatikannya.”  (HR. Ibnu Majah)

Amalan utama

Kita diajarkan oleh generasi terbaik untuk mencari amalan yang paling dicintai Allah, mereka radhiyallahu’anhum sangatlah rakus dan tamak akan kebaikan dan amal shaleh. Dan di antara amal shaleh yang paling dicintai Allah adalah berjihad fi sabilillah dengan harta dan raga, berjihad dengan barisan yang rapat, seperti bangunan yang kokoh, tidak malah tercerai berai dan berselisih dalam melaksanakan amal mulia ini. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash Shaf: 4)

Jihad fi sabilillah dengan harta dan raga tidaklah tertandingi, dan ketika seseorang mendapatkan karunia untuk bisa beramal dengan amalan yang utama ini maka ia mendapatkan kecintaan Allah, sebagaimana dalam QS. Ash Shaf: 4

Perniagaan yang menguntungkan dan menyelamatkan

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Ash Shaf: 10-13)

Kaum muslimin di dunia sedang mendapatkan teror dari musuh-musuh Allah, musuh-musuh agama Islam. Mereka telah memanggil saudara-saudaranya yang mampu untuk berjihad fi sabilillah supaya menolong agama Allah, siapa di antara kita yang mau mendapatkan kecintaan Allah, ampunan-Nya, dan dimasukkan ke jannah ‘Adn maka inilah jalan untuk menggapainya, nasalullahal ikhlas was syahadah fi sabilillah allahumma amin.

(majalah ar risalah 159)