Memandu dengan ilmu

Agar Bahtera Rumah Tangga Tidak Seperti Kapal Karam

0

Rumah tangga, Ibarat kapal yang mengarungi samudera yang sangat luas. Berbagai peristiwa akan menghadang perjalanannya. Adakalanya terasa indah bagi penumpangnya. Ada angin semilir sepoi-sepoi yang sejuk dan menyenangkan. Deburan ombak – ombak kecil berkejaran terasa indah dalam pandangan. Tetapi, kadangkala juga harus menghadapi angin kencang dan badai yang menghempas bahkan menenggelamkan kapal dan seluruh isinya. Itulah gambaran kehidupan kita dalam berumah tangga, senang dan susah menjadi menu perjalanannya.

Andaikan ada di dunia ini rumah tangga yang tak pernah mengalami masalah, tentu yang paling patut untuk itu adalah rumah tangga Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Sebab beliau adalah insan yang paling sempurna, paling bertakwa dan paling mulia akhlaknya. Namun ternyata, rumah tangga beliau pun tidak mutlak bersih dari problematika yang menjadi sunatullah dalam kehidupan. Namun karena kepandaian beliau dalam mengendalikan bahtera, dan rahmat dari Allah Subhanahu wata’ala rumah tangga beliau selamat dari perpecahan.

Hal itu menginspirasi kita, bahwa untuk menghadapi perjalanan panjang dalam berumah tangga, harus ada syarat-syarat yang wajib dipenuhi. Kalaupun terpaksa harus berpayah-payah dan babak belur berhadapan dengan ombak besar nan dahsyat, paling tidak kita bisa selamat sampai tujuan karena perlengkapan sudah kita siapkan sejak awal perjalanan.

Dalam berumah tangga seyogyanya kita menyiapkan:

 

  1. Nakhoda.

Islam menetapkan bahwa suami berperan sebagai nakhoda dalam rumah tangga. Hal itu dikarenakan laki-laki memiliki banyak kelebihan di banding wanita. Allaw SWT berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)…” ( QS. An Nisa’ : 34 )

Walaupun ada wanita yang mungkin merasa memiliki kelebihan dibanding kaum laki-laki, pada akhirnya akan mengakui juga akan kelemahannya. Kecuali wanita yang tertutup mati hati dan kesombongan menguasai dirinya.

Tugas utama suami adalah menjaga supaya bahtera tetap melaju meski ombak dan badai menghalang. Tentu kesabaran, keuletan dan pengorbanan mutlak dibutuhkan dalam hal ini. Dia harus berkonsentrasi mengendalikan arah kapal supaya tidak melenceng. Selain itu, kebutuhan dan kenyamanan awak kapal juga jadi perhatian. Maka suami yang beruntung adalah ketika mendapatkan istri yang juga dapat berperan sebagai asisten untuk membantu beban beratnya. Bukan justru malah membebani suami.

 

  1. Asisten Nahkoda

Seorang istri adalah pelengkap dari kekurangan suami. Ketika suami keras maka istri harus melunakkan dengan kelembutannya. Demikian juga dengan kekurangan-kekurangan yang lain. Istri adalah asisten nahkoda, menjaga kekompakan dengan suami sebagai konsekuensinya. Bila tidak, maka bukan badai yang akan menenggelamkan, tapi bahtera pecah karena kerusakan dari dalam.

Seorang istri yang sholihah akan membantu suaminya dalam kebaikan. Ia akan menasehati suami dikala kapal mulai salah arah. Ia akan mengingatkan kalau di depan ada karang tajam. Ia akan mengingatkan ketika ada badai besar yang harus dihindari. Ia akan mendampingi suaminya ketika biduk rumah tangganya menghadapi badai kehidupan yang besar. Misalnya suami sakit parah atau suami di PHK, atau suami ditipu sehingga usahanya bangkrut, Maka istri sholihah akan selalu berada di sisi suaminya dengan setia. Menjadi kawannya yang paling dipercaya dan tidak pernah meninggalkannya sampai badai berlalu. Maka bersyukurlah siapapun suami yang punya istri seperti ini.

 

  1. Bekal yang cukup dan memadai.

Memang Idealnya sebelum membina rumah tangga, laki-laki harus membekali dirinya dengan ilmu yang berkaitan dengan hak dan kewajiban kepala rumah tangga. Tentu pemahaman dasar tentang keislam yang lain juga tidak diabaikan.

Bagaimana kalau terlanjur memiliki nahkoda yang kurang mahir mengendalikan kapal? Tentu hal ini akan membuat para penumpang khawatir terhadap keselamatannya. Jalan yang tempuh adalah dengan mengupayakan nahkoda untuk segera menguasai ilmu mengendalikan kapal. Mendorong suami untuk mengikuti rutin kajian keislaman terutama yang berkaitan dengan rumah tangga. Di bantu juga dengan buku-buku yang bisa menambah pengetahuan suami sebagai kepala keluarga.

 

  1. Tujuan yang jelas.

Bagi pasangan muslim, pernikahan adalah sarana ibadah dan mencari ridho Allah. Bukan untuk pelampiasan nafsu semata. Banyak rumah tangga yang baru seumur jagung harus berakhir dengan perceraian. Salah satu faktor penyebabnya karena banyak pasangan yang tidak mengerti tujuan pernikahan. Biasanya karena menjadikan paras wajah dan materi sebagai pertimbangan untuk melakukan pernikahan. Wajar saja, ketika mendapati kekurangan dari pasangan, perceraian menjadi senjata utama untuk mengakhiri pernikahan.

Saat ini ada pandangan bahwa nakhoda tidak harus suami. Istri juga bisa berperan menjadi nakhoda karena mungkin kelebihan yang dimilikinya.

Itulah persepsi yang seringkali menyebabkan kapal karam. Nakhodanya dua, dengan kemauan dan selera berbeda. Endingnya bisa ditebak, rumah tangga berantakan karena masing-masing punya kemauan, dan tidak mustahil perceraian menjadi pilihannya.

Saat ini banyak sekali upaya-upaya untuk menghancurkan bahtera rumah tangga muslim, yaitu dengan menjauhkan mereka dari hukum-hukum dan aturan Islam. Istri diarahkan untuk tidak taat suami dengan alasan kesetaraan gender dan hak asasi. Akibatnya, banyak istri yang mulai berani melawan kepada suami, berani selingkuh, tidak memenuhi kewajiban istri dan lain-lain. Inilah cara-cara musuh-musuh Islam menghancurkan keluarga dan masyarakat muslim. Wallahul musta’an. (Abdurrahman)

Sumber: ydsui.com