Memandu dengan ilmu

Agar Tidak Menjadi Orang Fasik | Khutbah Jum’at

0

 

Agar tidak menjadi orang fasik

Oleh: Ust. Abdullah Manaf Amin

اَلْحَمْدُ لِلّهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا صِرَاطَهُ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ اْلأَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ وَ الصِّدِيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَ حَسُنَ أُوْلٓـئِكَ رَفِيْقاً. أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Ikhwan fiddin arsyadakumullah

Marilah bersama-sama kita manfaatkan sisa-sisa usia kita yang tidak tahu kapan akan berakhir dengan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Antara lain dengan selalu berusaha meletakkan kecintaan kita kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Rasulullah ﷺ dan kepada jihad fisabililllah diatas kecintaan kita kepada siapa saja dan apa saja yang ada dipermukaan bumi ini. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى di dalam Surat at-Taubah ayat 24 yang telah saya bacakan tadi memerintahkan kepada Rasulullah ﷺ,

“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman! Apabila kecintaan kalian kepada orang tua kalian, anak, saudara, istri, kaum kerabat, dan kepada harta benda yang kalian usahakan serta perniagaan yang kalian khawatirkan akan rugi itu lebih kalian cintai dari kecintaan kepapada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Rasulullah ﷺ dan jihad fisabilillah, memperjuangkan agama Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Maka tunggu tanggal mainnya, sampai Allah datang dengan perhitungannya dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Siapakah orang-orang fasik yang tidak mendapatkan petunjuk berdasarkan Surat at-Taubah ayat 24 ini?

Mereka adalah orang yang membaca syahadat, mengerjakan shalat yang wajib dan yang sunnah, mengerjakan shaum yang wajib dan yang sunnah, membayar zakat dan suka berinfak. Mereka juga melaksanakan haji, tetapi mereka meletakan kecintaan kepada sesuatu melebihi kecintaannya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Rasulullah dan jihad fisabilillah.

Itulah sebabnya sejarah mencatat Khalilullah Nabi Ibrahim ‘alaihi salam untuk menunjukkan bahwa dia meletakkan kecintannya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Rasulullah dan jihad di atas kecintaan beliau kepada siapa saja. Tanpa harus berpikir panjang. Ketika Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى perintahkan untuk menyembelih putranya tercinta, Ismail ‘alaihi salam ia “sami’na wa atha’na.”

Abu Bakar as-Shidiq bin Abi Qahafah radhiallahu ‘anhu. Ketika bapaknya Utsman yang lebih dikenal dengan Abu Qahafah berani mencaci Rasulullah ﷺ, ia tinju wajah bapaknya sampai tersungkur mencium tanah. Kejadian itu dilaporkan kepada baginda Rasulullah ﷺ. Dan Nabi pun mengingatkan, “Jangan diulangi lagi wahai Abu Bakar, ummat Islam di Makkah masih minoritas, kekuasaan dalam semua lini masih dikuasai orang-orang kafir. Perbuatan seperti itu kalau kamu lakukan akan terkesan bahwa Muhammad mengajarkan kepada pengikutnya untuk berbuat kekerasan.”

Apa jawaban Abu Bakar? “Kalau waktu itu pedang ada di tangan saya, bukan hanya saya tempeleng bapak saya karena teleh mencaci maki engkau. Sungguh! akan saya pukul lehernya dengan pedang itu sampai terputus lehernya.”

Ini permasalah akidah, ajaran prinsip yang ada di dalam agama Islam. Jangankan orang kafir, orang Islam sendiri yang mengaku telah melaksanakan haji, umrah, berkurban dengan hewan kurban yang sangat mahal harganya, terkadang belum bisa memahami akidah yang ini.

Ikhwan fiddin arsyadakumullah

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى harus diletakkan pada urutan pertama, kalau dia tidak ingin disebut oleh Allah sebagai orang fasik yang tidak akan mendapatkan petunjuk dari-Nya. Rasulullah harus diletakkan pada urutan yang kedua, kalau dia tidak ingin diebut sebagai orang fasik. Jihad fisabilillah harus diletakan pada urutan yang ketiga.

Abu Ubaidah bin Jarrah bertemu dengan bapaknya di medan Badar. Bapaknya berada pada barisan orang kafir yang memerangi Rasulullah ﷺ. Sedangkan dia berada pada barisan dibawah pimpinan Rasulullah ﷺ.

Abu Ubaidah melihat bapaknya dari jauh, itu bapak saya yang telah mendidik saya dari kecil, mengajarkan saya berkuda dan memanah, mengenalkan cara berburu di padang pasir, sekarang datang memusuhi orang yang paling aku cintai, Muhammad ﷺ.

Itu bapak saya, orang yang aku cintai, tetapi hari ini ia datang akan membunuh orang yang paling saya cintai di atas kecintaanku kepada bapakku. Terjunlah kedua pendekar di medan Badar. Dengan menyebut nama Allah ia angkat pedang tinggi-tinggi, ia ayunkan pedang tadi ke tubuh bapaknya. Terpisahlah tubuh bapaknya menjadi dua. Kejadian ini Allah abadikan di dalam Surat ke 58, al-Mujadillah ayat 22,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kalau ada orang yang beriman tetapi memusuhi Allah dan Rasul-Nya atau memusuhi orang-orang yang mencintai Allah dan rasulnya. Maka ia adalah orang munafik yang kelak tempatnya berada di kerak neraka Jahanam menurut Surat an-Nisa ayat 45. Begitu juga kalau ada orang-orang yang beriman tetapi tidak mememusuhi orang-orang yang telah memusuhi Allah dan Rasulnya, maka keimanannya adalah palsu.

Surat al-Mujadilah ayat 22 mengapresiasi apa yang dilakukan Abu Ubaidah bin Jarrah dengan kata-kata,

“أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ”

Jamaah shalat jumat rahimakumullah

Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya siap memusuhi siapa saja yang memusuhi Allah dan rasul-Nya. Meskipun dia bapaknya, anaknya, saudaranya. Mereka itulah orang-orang beruntung yang telah meletakkan kecintaan kepada Allah di atas kecintaan kepada bapaknya. Ini adalah perkara akidah, jangankan orang kafir, orang yang berimanpun masih banyak yang belum memahami dengan akidah ini.

Seorang pemuda berusia 22 tahun. Berkebangsaan Turki, bekerja sebagai polisi, geram, mendidih otaknya, melihat dengan semena-menanya orang Rusia yang kafir bekerjasama dengan Iran yang Syi’ah, membantu Basyar Assad yang Nushairiyah membantai ribuan rakyat Suriah yang tidak berdosa. Walaupun mereka tidak sebangsa dengan saya, tidak sebahasa dengan saya, tetapi mereka adalah saudara seiman dan seislam dengan saya. Kegeraman dia melihat orang yang semena-mena mebantai saudara-saudara seiman ia luapkan dengan menembak seorang duta besar Rusia. Walaupun ia tahu resikonya, nyawa menjadi taruhannya. Kutukan bermunculan dari mana-mana. Dari Amerika, Inggris dan Prancis. Sementara mulut mereka diam seribu bahasa ketika melihat ribuan rakyat suriah terkhusus di Aleppo dibantai habis oleh Rusia dan rekan-rekannya.

Ikwan fiddin arsyadakumullah

Untuk bisa lepas dari sebutan fasiqin. Seorang muslim harus mempersiapkan diri meletakkan kecintaan dia kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Rasulullah, al-Quran, dan orang-orang yang mencintai Allah diatas kecintaannya kepada segala-galanya.

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah kedua

Sesama Ahlus Sunnah wal Jamaah (kita tidak berbicara Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah apalagi Syi’ah) sangat mungkin ada perbedaan di dalam memahami ayat atau hadits. Itu biasa terjadi karena kedangkalan masing-masing kepada Islam atau karena perbedaan lingkungan. Sesama Ahlu Sunnah wal Jamaah bisa berbeda pendapat dalam masalah khilafiyah. Di antara kita ada yang setelah ruku’ itu sedakep, ada yang setelah rukuk tetap menjulurkan tangan. Ada yang bertakbiratul ihram mengangkat tangannya sejajar dengan dada, ada juga yang sejajar dengan telinga. Itu karena perbedaan pemahaman dan perbedaan madzhab.

Bahkan dalam masalah bid’ah sesama Ahlu Sunnah wal Jamaah berbeda pendapat. Maulud Nabi, kata yang satu itu perkara bid’ah, dasar yang dipegang adalah fatwa dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Yang satu mengatakan itu sunnah dengan dalil, “Barangsiapa yang mengagungkan kelahiranku wajib baginya mendapatkan syafaat”. Meskipun itu setelah diteliti hadits itu dhaif.

Bahkan kepada masalah yang sifatnya Hakimiyah, ada sebagian kelompok yang mengatakan bahwa berdemonstrasi di depan penguasa adalah perkara bid’ah, tetapi yang satu mengatakan itu tidak bid’ah karena barangsiapa yang melihat kemungkaran maka dia harus merubah dengan tangannya, kalau tidak bisa maka dengan lisannya, salah satu di antaranya berdemo, kalau tidak mampu juga maka dengan hatinya. Kalau boleh saya katakan, hati itu harus gregetan karena ada salah satu ayat yang dinistakan oleh seseorang.

Dalam masalah akidah antara Ahlu Sunnah wal Jamaah kadang-kadang juga berbeda. Ada di antara mereka yang meyakini berdo’a kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى itu tidak boleh melalui perantara, tetapi ada juga golongan dari Ahlu Sunnah wal Jamaah yang mengatakan bahwa berdoa boleh menggunakan perantara.

Tetapi ketika Ahlu Sunnah yang mempunyai pemahaman perbedaan pendapat itu lumrah dalam permasalah yang tidak prinsip. Ketika mereka dihadapkan dengan perkara yang prinsip seperti penistaan terhadap Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Rasulullah ﷺ, dan al-Qur’an. Hati mereka menyatu, perbedaan pendapat mereka tinggalkan, mereka bersatu untuk menyikapi orang yang menistakan sebagian ayat suci al-Qur’an.

Buktikan kalau kita muslim! Kalau tidak bisa merubah kemungkaran dengan tangan maka dengan lisan, kalau dengan lisan juga tidak bisa maka dengan hati. Kalau tangan tidak berbuat, lisan juga hanya diam, hati juga tidak ada rasa gregetan sama sekali. Maka perlu dipertanyakan keislamannya.

Demikian khutbah pada siang ini, kita akhiri dengan do’a.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِنَا مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.