Memandu dengan ilmu

Al Maidah: 51 Menguak Topeng

0

Umat Islam bangkit bersatu dan marah bersama disebabkan ada ayat Al-Quran yang dilecehkan oleh Gubernur Jakarta. Ayat yang dimaksud, Al-Maidah : 51.

Mulut orang kafir ini memang lancang. Dia non muslim tapi mulutnya nyinyir membicarakan ayat yang menjadi pegangan umat Islam.

Sejuta lebih umat Islam berunjuk rasa pada 4 Nop yang lalu. Apa yang dinista oleh gubernur Jakarta justru menghasilkan kebalikannya. Alih-alih umat jadi nasionalis sejati, justru bangkit sentimen Islamnya dan bersatu sebagai umat.

Ayat itu memang mengajarkan solidaritas dan loyalitas atas bingkai umat. Mukmin hanya boleh berpihak dengan sesama mukmin, haram untuk berpihak kepada Yahudi atau Nasrani.

Ahok ingin mengajari umat agar menjadi nasionalis sejati dengan mengabaikan ayat ini. Ahok menyerang ayat yang dianggap penghalang nasionalisme, yang pada gilirannya menghalanginya menjadi gubernur karena ia sadar seorang Nasrani.

Tapi alhamdulillah apa yang diinginkan Ahok malah menghasilkan kebalikannya. Umat seolah diingatkan untuk bersatu di bawah payung ayat ini. Wa makaru wa makarallahu wallahu khairul makirin. Makar Allah pada akhirnya yang berjaya.

Namun ayat ini juga menjadi penyingkap topeng muslim yang di hatinya bersarang penyakit. Bukannya ayat yang menjadi pusat perdebatan meluruskan sikapnya, tapi malah membuat dia membela si nasrani dengan segala daya upaya. Ayat jelas melarangnya, tapi justru jumawa memerankan kebalikannya. Seolah menantang murka Allah.

Wajah-wajah muslim yang membela Ahok dipersatukan oleh satu hal; lebih cinta dunia daripada takut ancaman Allah yang menjadi kandungan Al-Maidah 51.

Dunia yang dimaksud bisa karena tarikan parpol yang terlanjur mengusung Ahok, memelihara jabatan di kepolisian, dan berbagai kalkulasi politik lain.

Untuk sekedar tahu, Abdullah bin Ubay, tokoh besar munafiq pada zaman Nabi saw juga seorang politisi ulung. Dia berhasil mengkampanyekan dirinya sebagai calon pemimpin Madinah, tinggal menunggu hari H pelantikan tapi batal gara-gara warga mendadak jadi muslim semua. Politisi ulung yang berubah menjadi munafiq agung karena dendam politik.

Isi kepala munafiq cuma dunia dan kalkulasi politik. Karenanya, Anda tak perlu terhenyak heran jika mendapati aktifis partai atau pejabat politik beragama Islam tapi dengan tanpa beban menjual Islam dan umat Islam, karena hal ini pernah terjadi di zaman dahulu.

* Dengan sedikit perubahan.