Antara Ikhlas dan Menjaga Keikhlasan

0

Antara Ikhlas dan Menjaga Keikhlasan

Oleh: Ust. Zaid Royani, S.Pd.I

Imam adz-Dzahabi menceritakan dari Ubadah bin Sulaiman Al-Maruziy: “Kami pernah bersama Ibnu Mubarok dalam sebuah ekspedisi di Negeri Romawi, dan musuhpun mendatangi kami, hingga ketika dua kelompok sudah saling berhadapan. Seorang dari Bangsa Romawi maju dan menantang perang tanding (mubarozah). Maka seorang lelaki (Muslim) maju, lelaki kafir itu berhasil menerjang dan membunuhnya. Begitulah berlangsung terus hingga ia berhasil membunuh enam orang Muslim. Ia dengan angkuh berdiri di antara dua kubu menantang perang tanding. Namun tak seorang pun yang melayaninya.

Maka seorang lelaki (Muslim) maju, lelaki kafir itu berhasil menerjang dan membunuhnya. Begitulah berlangsung terus hingga ia berhasil membunuh enam orang Muslim. Ia dengan angkuh berdiri di antara dua kubu menantang perang tanding. Namun tak seorang pun yang melayaninya.

Tiba-tiba Ibnul Mubarak menoleh kepadaku (diceritakan ditempat lain bahwa beliau menggunakan penutup wajah sehingga tidak ada yang mengenalnya kecuali hanya manusia yang disebelahnya) seraya berkata, “Wahai Fulan, kalau aku terbunuh, lakukan ini dan ini.” Beliau lalu mengayuh tunggangannya dan menyerang lelaki kafir itu, dan terjadilah pertarungan untuk beberapa saat, dan akhirnya beliau berhasil membunuh orang kafir tersebut dan menantang perang tanding (orang kafir lainnya). Seorang kafir lain maju menghadapi beliau, namun berhasil beliau bunuh. Begitu terus berlangsung hingga beliau berhasil membunuh enam orang kafir. Beliau terus menantang bertanding, namun sepertinya mereka jadi penakut (dan membangkitkan kembali semangat jihad pasukan Muslim yang sebelumnya sempat sedikit kendur).

Beliau lantas menghentakkan tunggangannya menembus dua kubu yang berhadapan lalu menghilang. Kami seolah-olah tidak merasakan kejadian apa-apa (karena teramat terpananya). Tiba-tiba beliau sudah berada di sisiku seperti sebelumnya, seraya menandaskan, “Wahai Fulan, selama aku masih hidup, jangan engkau ceritakan hal ini kepada siapa-siapa.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 8/408,409)

Sungguh, kisah ini memberikan faidah sangat besar bahwa menjaga keikhlasan itu sangatlah berat dan bahkan ia lebih berat dari sekedar berupaya ikhlas itu sendiri. Hingga benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Aman Al-Jaami:

الإخلاص صعب والصدق في الإخلاص أصعب

“Memang, ikhlas itu berat (sulit), namun jujur dalam keikhasan itu jauh lebih sulit.”

Perkataan ini menjelaskan bahwa amal yang diterima itu butuh keikhlasan dan kejujuran dalam ikhlas. Ketika seseorang berupaya selalu menjaga keikhasannya maka itu adalah tanda jujur dalam ikhlas.

Sebagaimana membersihkan baju itu baik, namun menjaga kebersihan baju itu jauh lebih baik. wallahu a’lam.