Memandu dengan ilmu

Antara Keshalihan Rakyat Dan Penguasa

0

Alangkah indahnya bila penguasa yang menaungi kehidupan umat Islam adalah imam yang adil. Rasulullah SAW bersabda, “Makhluk yang paling dicintai Allah adalah imam yang adil, sedangkan yang paling dimurkai adalah imam yang jahat.” Tidak ada umat yang benci bila hadis seperti ini benar-benar ada dalam kehidupan nyata.

Penguasa yang adil adalah orang yang adil di tengah rakyatnya adalah yang menegakkan syariat Islam secara menyeluruh. Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin mengatakan, “Penguasa yang adil adalah orang yang adil di tengah rakyatnya. Tidak ada keadilan yang lebih lurus dan wajib daripada berhukum dengan syariat Allah di tengah-tengah mereka. Inilah pokok keadilan. Karena Allah mengatakan, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl:  90). Maka siapa yang memerintah rakyatnya dengan selain syariat Allah, ia bukanlah penguasa yang adil.”

Tetapi bila faktanya penguasa tidak adil dan tidak menegakkan syariat Islam; penguasa justru mencampakkan Islam dan menggantinya dengan undang-undang positif, siapa yang salah? Pemimpin buruk itu salah rakyat atau rakyat buruk karena pemimpinnya buruk?

Ulama telah menjelaskan secara runtut persoalan ini. Pemimpin dan rakyat adalah sama-sama manusia yang bisa salah. Tidak ada yang menganggap maksum kecuali keyakinan Syiah terhadap para imam mereka. Oleh karena itu, kedua pihak berada dalam lingkup saling menasihati, seperti digambarkan dalam hadis Nabi saw, “Dien ini adalah nasihat.” Salah satunya adalah nasihat untuk para pemimpin kaum muslimin. Inilah hakikat kehidupan dan hubungan antara pemimpin dan rakyat dalam konsep Islam.

 

Rakyat Buruk, Pemimpin Buruk

Satu sisi yang harus berusaha menjadi salah adalah rakyat. Bila keburukan telah menyebar luas dalam masyarakat, Allah SWT bisa murka kapan saja dan —naudzubillah— memberikan musibah kepada mereka dengan berkuasanya pemimpin yang zalim. Dalam hal ini Allah berfirman:

“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)

Al-Alusi menjelaskan ayat ini dengan ungkapan, “Bila rakyat zalim, Allah akan menguasakan orang zalim pula kepada mereka.”

Hal yang sama juga disebutkan oleh Al-Qurtubi, “Bila Allah ridha kepada suatu kaum, Dia menguasakan urusan kepada orang yang terbaik di antara mereka. Bila Allah murka kepada suatu kaum, Dia menguasakan urusan mereka kepada orang yang terburuk. Nabi saw bersabda, “Siapa yang menolong orang zalim, Allah akan menguasakan kepadanya.”

Ibnul Qayyim juga melihat hal yang sama dalam menafsirkan ayat tersebut. Beliau mengatakan, “Perhatikanlah hikmah-Nya tatkala Dia menjadikan para raja, penguasa dan pemegang tampuk pemerintahan sesuai dengan amalan yang dilakukan oleh para rakyat di dalam negeri tersebut. Bahkan, amalan dari para rakyat akan tercermin dari tingkah laku para penguasanya.

Apabila rakyat di dalam negeri tersebut komitmen dalam menjalankan syariat, maka tentu penguasanya pun demikian. Apabila mereka berlaku adil, maka para penguasa akan berlaku adil kepada mereka. Apabila mereka suka berbuat kemaksiatan, maka para penguasa juga akan senantiasa berbuat maksiat. Apabila rakyat senantiasa berbuat makar dan tipu daya, maka tentulah penguasa demikian pula keadaannya. Apabila para rakyat tidak menunaikan hak-hak Allah serta mengabaikannya, maka penguasa mereka pun juga akan berbuat hal yang sama, mereka akan melanggar dan tidak menunaikan hak-hak para rakyatnya. Apabila rakyat sering melanggar hak kaum yang lemah dalam berbagai interaksi mereka, maka para penguasa akan melanggar hak para rakyatnya secara paksa, menetapkan berbagai pajak dan pungutan liar kepada mereka.

Setiap mereka (yakni rakyat) mengambil hak kaum yang lemah, maka hak mereka pun akan diambil secara paksa oleh para penguasa. Sehingga para penguasa merupakan cerminan amal dari para rakyatnya.”

Artinya, sebagai otokritik pada sisi ini, rakyat harus memperbaiki diri agar Allah SWT tidak menimpakan pemimpin yang zalim kepada mereka. Adalah kezaliman bila menuntut orang lain adil, sedangkan diri sendiri tidak adil. Maka wajar ketika Abdul Malik bin Marwan berkata kepada rakyatnya, “Kalian tidak adil terhadap kami wahai seluruh rakyat! Kalian menginginkan kami seperti Abu Bakar dan Umar, namun kalian tidak berlaku seperti kami dan juga pada diri kalian.”

Demikian pula Ubaidah bin As-Salmani ketika bertanya kepada Ali ra, “Wahai Amir Mukminin, mengapa manusia taat kepada Abu Bakar dan Umar. Kekayaan dunia pada waktu itu lebih sempit daripada sejengkal, lalu menjadi luas pada masa keduanya. Ketika engkau dan Utsman menjadi khilafah, dunia terbuka luas pada awalnya namun kemudian menjadi lebih sempit daripada sejengkal.”

Ali menjawab, “Karena rakyat Abu Bakar dan Umar seperti aku dan Utsman, sedangkan rakyatku sekarang adalah kamu dan orang-orang seperti dirimu.” (Imam Ath-Thurthursyi, Sirajul Muluk: 94).

 

Kesalehan Penguasa Membangun Kesalehan Rakyat

Sisi lain dan inilah yang utama adalah kesalehan pemimpin. Rakyat akan menjadi saleh bila pemimpinnya saleh. Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Ketika rakyat berubah (menjadi rusak), sedangkan penguasa sebaliknya, semua urusan pun saling bertentangan. Apabila penguasa mengambil langkah untuk memperbaiki agama dan urusan dunia mereka sesuai kemampuannya, maka ia termasuk orang yang paling utama pada masanya. Ia adalah mujahid paling afdhal di jalan Allah. Telah diriwayatkan bahwa ‘Satu hari dengan imam yang adil itu lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun’.” (Ibnu Taimiyah, As-Siyasah As-Syar’iyyah fi Ishlah Ar-Ra’i wa Ar-Ra’iyyah : I/37)

Di tempat lain, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Ulil amri terdiri atas dua kelompok manusia: ulama dan umara. Bila mereka baik, manusia pun baik. Bila mereka buruk, manusia pun buruk. Hal ini seperti jawaban Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada wanita dari bani Ahmas saat bertanya kepadanya, ‘Apa hal yang menjamin kami akan senantiasa berada di atas perkara (yang baik yang Allah datangkan setelah masa jahiliah) ini?’ Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawab, ‘Kalian akan senantiasa di atas kebaikan (Islam) tersebut selama para pemimpin kalian bertindak lurus.” (HR. Bukhari) (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa: 28/170)

Syaikh Utsaimin ketika menafsirkan hadis ad-dien nasihah mengatakan, “Nabi mendahulukan nasihat untuk para pemimpin sebelum nasihat untuk rakyat, karena para pemimpin itu bila baik, maka baik pula rakyatnya.”

Sufyan Ats-Tsauri secara tegas menyatakan hal ini di depan pemimpin; Abu Ja’far Al-Manshur, “Sungguh aku tahu tentang seseorang yang bila ia baik maka umat pun menjadi baik. Bila ia buruk, umat pun buruk.” Al-Manshur berkata, “Siapa?” Ats-Tsauri menjawab, “Engkau!” (Imam Ath-Thurthursyi, Sirajul Muluk: I/35).

Pemimpin yang baik juga menjadi harapan dalam doa ulama agar rakyat menjadi baik karenanya. Hasan Bashri mengatakan, “Bila saya memiliki doa yang dikabulkan, saya akan mendoakan untuk kebaikan penguasa. Sebab dengan baiknya penguasa, rakyat pun menjadi baik. Bila penguasa baik, rakyat dan negeri pun aman.” (Ad-Dumaiji, Imamatul ‘Udhma: I/370)

 

Persepsi Keliru dari Hadits Dhaif

Penguasa Muslim dan rakyatnya adalah satu tubuh dalam persaudaraan Islam. Sebagai haknya, ia tidak boleh dibiarkan ketika melanggar aturan. Inilah yang ditunjukkan oleh sejarah para salaf. Ada hubungan yang baik.

Dengan demikian, tidaklah benar menyalahkan rakyat setiap hidup di bawah penguasa yang jahat. Persepsi keliru ini secara umum dibangun dari hadis lemah riwayat Ad-Dailami dan Al-Baihaqi:

كَمَا تَكُونُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ

“Seperti apa kalian, seperti itu pula pemimpin kalian.” (HR. Ad-Dailamiy)

Hadits ini telah dinyatakan dhaif oleh ulama masa lalu seperti Al-Hafidz Ibnu Hajar dan juga ulama masa akhir seperti Syaikh Al-Albani.

Syaikh Al-Albani telah mengumpulkan matannya di Silsilah Adh-Dhaifah (1/490). Setelah menjelaskan takhrij hadis ini, beliau mengatakan, “Selain dhaif, hadis ini maknanya tidak shahih sama sekali menurut saya. Sebab sejarah telah menunjukkan kepada kita, adanya seorang yang saleh menjadi pemimpin setelah pemimpin sebelumnya yang tidak saleh, sedangkan rakyatnya tetap saja (tidak saleh).”

Ungkapan Syaikh Al-Albani benar. Kenyataannya bahwa di tengah-tengah masyarakat yang tidak saleh bisa muncul pemimpin yang saleh. Demikian pula sebaliknya.

Jawaban Ali bin Abi Thalib yang telah disebutkan sebelumnya membuktikan perkara Syaikh Al-Albani. Ali berkata, “Karena rakyat Abu Bakar dan Umar seperti aku dan Utsman, sedangkan rakyatku sekarang adalah kamu dan orang-orang seperti dirimu.” (Imam Ath-Thurthursyi, Sirajul Muluk: 94).

 

Rakyat itu Bagaimana Pemimpinnya

Sisi ini disebut lebih utama karena kesalehan pemimpin lebih mudah membentuk kesalehan rakyat, bukan sebaliknya. Apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim dan lainnya—yang telah kami sebutkan sebelumnya— adalah penafsiran ayat yang menunjukkan ancaman Allah bagi orang-orang zalim, bukan sebab langsung, yang kemudian menjadi anggapan bahwa pemimpin zalim adalah kesalahan rakyat. Lalu penguasa zalim “dikultuskan”, rakyat (baca: aktivis Islam) yang disalahkan.

Psikologi manusia cenderung mengikuti dan meniru pemimpinnya. Ada ungkapan Arab, rakyat itu mengikuti pemimpin; masyarakat umum itu tergantung agama rajanya. Sejarawan Islam telah mencatat contoh nyata dalam hal ini. Masa kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai masa yang di dalamnya rakyat sangat giat dalam ibadah dan ketaatan kepada Allah.

Umar bin Abdul Aziz dalam sebuah riwayat terlihat salat tahajud di mihrabnya dalam kondisi menangis. Ia biasa meneteskan air mata dalam ibadahnya. Beliau dikenal sebagai ahli ibadah dan suka membaca Al-Qur’an. Maka kebiasaan pemimpin ini pun ditiru oleh rakyatnya. Bahkan perbincangan sehari-hari mereka adalah tentang ibadah. Ketika mereka saling bertemu, pertanyaan yang dilontarkan tidak lepas dari berapakah Anda menghafal Al-Qur’an, berapa rakaat engkau qiyamul lail tadi malam dan tentang kesalehan lainnya.

Hal itu berbeda dengan masa dua khalifah sebelumnya. Masa Al-Walid bin Abdul Malik dikenal sebagai masa harta berlimpah dan makmur. Al-Walid dikenal pemimpin yang suka bangunan dan infrastruktur mewah. Ia rela mengeluarkan biaya yang sangat mahal untuk proyek-proyek bangunan. Ia membangun masjid Jami’, gedung, dan pabrik-pabrik. Kesukaannya ini pun menular kepada rakyatnya, hingga perbincangan di antara mereka tidak lepas dari bangunan dan gedung mewah.

Sulaiman bin Abdul Malik saudara Al-Walid berbeda lagi gaya hidupnya. Ia adalah orang yang suka kuliner dan berlibur. Maka obrolan rakyat di warung-warung tidak lepas dari pertanyaan tentang makanan dan apa menu makanan hari ini. (Asy-Syaibani, Al-Kamil Fi At-Tarikh: IV/292. Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tarikh Ath-Thabari, IV/29).

Besarnya pengaruh pemimpin yang saleh terhadap rakyat adalah salah satu hikmah dari syarat-syarat kepemimpinan Islam yang ketat, di antaranya adil dan berilmu. Selain itu Islam juga tidak memberikan jabatan kepemimpinan bagi orang yang memintanya. Bisa jadi orang yang berambisi tidak akan amanah dalam memimpin. Apalagi sampai pada politik uang demi jabatan, bisa saja selama menjabat ia akan menzalimi uang rakyat untuk mengembalikan modalnya. Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari r.a, ia berkata, “Aku dan dua orang dari kaumku datang menghadap Nabi saw. Salah seorang mereka berkata, ‘Ya Rasululloh SAW angkatlah kami sebagai pejabatmu.’ Satu orang lagi juga mengatakan perkataan yang sama. Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Kami tidak akan memberikan jabatan pemerintahan ini kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Komunikasi antara Rakyat dan Penguasa

Dengan dua sisi yang harus diperbaiki tersebut, maka menyampaikan peringatan kepada pemimpin jelas harus dilakukan, dengan kaidah amar makruf nahi mungkar yang benar. Membiarkan penguasa muslim dalam kemaksiatan dan kezaliman adalah bentuk kezaliman dari saudaranya. Rasulullah SAW bersabda, “Tolonglah saudaramu yang zalim dan yang dizalimi.” Wujud menolong orang yang zalim adalah mencegah dari perbuatan zalimnya.

Nabi saw bersabda:

مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِى أَمْرَ المُسْلِمِينَ، ثُمَّ لا يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنْصَحُ، إِلا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمُ الجَنَّةَ

“Tidak ada seorang pemimpin yang menangani urusan kaum muslimin, kemudian tidak bersungguh-sungguh dan melaksanakannya dengan baik, kecuali ia tidak akan masuk surga bersama mereka.” (HR. Muslim)

“Tiada seorang pemimpin yang diamanahi oleh Allah untuk rakyatnya, suatu saat mati dalam kondisi menzalimi (hak mereka) kecuali Allah mengharamkan wangi surga baginya.” (HR. Muslim).

Dua hadis tersebut bentuk ancaman bagi penguasa zalim di akhirat, sedangkan di dunia, Allah bisa kapan saja sesuai kehendaknya telah memiliki alasan untuk menimpakan musibah yang tidak hanya menimpa orang jahat, tetapi orang saleh juga kena getahnya. Ancaman ini berlaku—dan kita berlindung kepada Allah darinya—bila kemaksiatan telah merajalela tanpa ada proses amar makruf nahi mungkar. Allah berfirman:

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 78-79).

Dalam kaitan yang sama, Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian beramar makruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atas kalian orang-orang yang paling jahat di antara kalian, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kalian berdoa dan tidak dikabulkan (doa mereka).” (HR. Al-Bazzar. Dinyatakan Hasan oleh As-Suyuthi dalam Jami’ush Shaghir, namun Syaikh Al-Albani menyatakan dhaif).

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian beramar makruf dan nahi munkar atau jika tidak niscaya Allah akan mengirimkan siksa-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun doa kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. Tirmidzi no. 2169. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Semoga salam dan salawat dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, beserta keluarga dan sahabat beliau. (Kiblat.net)

Penulis: Agus Abdullah