Memandu dengan ilmu

Apapun Ideologinya, Kekuatan Kuncinya

0

Apapun Ideologinya, Kekuatan Kuncinya

Suatu hari Indonesia gaduh. Terjadi kehebohan luar biasa. Negara yang sebelumnya menggunakan sistem politik Demokrasi, sistem hukum Belanda, dan sistem ekonomi Kapitalisme-Liberalisme tiba-tiba mengumumkan berubah menjadi negara Islam. Semua anggota DPR dan MPR sepakat. Presiden dan seluruh jajarannya baik menteri maupun gubernur sepakat. Organ keamanan baik TNI maupun Polri mendukung penuh. Dan seluruh elemen rakyat setuju.

Negara Islam baru saja lahir. Sistem hukumnya berubah menjadi sistem Islam. Sistem politiknya Islam. Sistem ekonominya Islam, anti riba. Semuanya berubah menjadi Islam. Walhasil seluruh ajaran dan hukum Islam dapat direalisasikan dalam kehidupan bernegara.

Seharusnya tak ada yang ambil pusing dengan proklamasi ini. Indonesia sebelumnya negara merdeka dan berdaulat. Kesepakatan internal seluruh rakyat untuk mengadopsi Islam dan membuang Demokrasi sama sekali tak mengganggu negara lain. Hak mutlak warga Indonesia untuk menentukan warna kehidupannya. Tak boleh ada negara lain yang ikut campur. Sebuah pakem global, setiap bangsa berhak untuk merdeka. Segala bentuk penjajahan di muka bumi harus dimusnahkan.

Fragmen ini menarik untuk disusul dengan pertanyaan kritis. Apakah dengan kesepakatan seluruh warga negara untuk mengambil Islam secara otomatis menjamin syariat Islam tegak di bumi Indonesia dari A sampai Z ? Apakah kaum kafir yang punya kekuatan akan mendiamkannya? Ataukah mereka akan memberangusnya?

Jawaban yang paling masuk akal, kekuatan kafir dunia akan kompak menghukum Indonesia. Mereka akan menilai, tegaknya syariat akan menggerogoti wibawa kaum kafir dan akan menjadi bibit kembalinya khilafah kepada umat Islam. Karenanya mereka wajib dicegah dengan cara apapaun dan biaya berapapun. Agar jangan keburu bertransformasi menjadi kekuatan riil bagi umat Islam, sebab akan menjadi ancaman serius bagi hegemoni Barat.

Reaksi paling lunak dari komunitas global adalah kecaman, baik dari masing-masing negara maupun diwakili PBB. Berikutnya embargo ekonomi dan persenjataan. Opsi terakhir, dihajar dengan serangan militer dahsyat. Indonesia benar-benar lumat dalam beberapa hari saja. Jumlah korban dan kehancuran membuat para pemimpin gamang untuk melanjutkan syariat Islam. Ujung-ujungnya – kemungkinan besar jika tak solid – akan balik lagi memeluk Demokrasi.

AS punya pangkalan militer di dua titik yang menjepit Indonesia. Pertama di Filipina. Kedua di Darwin Australia. Sangat mudah bagi AS untuk melumat Indonesia dalam makna yang paling hakiki. Pada gilirannya syariat Islam mentah kembali. Sangat mungkin, daripada hancur lebih parah, Indonesia lebih baik kembali pada sistem Demokrasi.

Fiksi ini hanya sebuah simulasi, untuk menjawab pertanyaan; apakah mungkin Islam tegak saat kekafiran kuat ? Ternyata jawaban sesuai hukum alam; tak mungkin. Perumpamaannya seperti petani yang ingin menanam padi untuk mendapat hasil panen yang bagus. Padi tak akan bisa tumbuh dengan baik jika ia ditanam di tengah rerumputan tinggi. Petani mesti membajak tanah, membuang rumput yang tumbuh, mengairinya dan meratakannya sehingga siap ditanami.

Padahal hari ini kekuatan kekafiran mampu menjangkau seluruh jengkal bumi. Tak ada negara yang tidak diawasi AS dan negara-negara kafir pendukungnya. AS siap sedia untuk kapanpun menggagalkan keinginan umat Islam untuk menegakkan syariat. Kekafiran laksana sebuah kedaulatan tunggal dengan wilayah kekuasaan seluas bola bumi, tanpa kecuali.

Artinya, tak ada jengkal bumi manapun yang bisa menegakkan syariat tanpa terlebih dahulu melumpuhkan kekuatan kafir yang tunggal itu. Bukan kekuatan kafir di negaranya sendiri, tapi kekuatan kafir global yang menguasai dunia. Baik Indonesia, Malaysia, Brunei, Pakistan, Yaman, Suriah, Sudan, Palestina, Mesir Arab Saudi dan semua negeri mayoritas muslim lain.

Dengan demikian, biang masalah bukan Demokrasinya, meski tak berarti berkurang permusuhan dakwah kepadanya. Terbukti, jika seluruh rakyat sepakat membuangnya tetap saja tak mudah terbuang, lalu berganti dengan syariat Islam. Posisi Demokrasi sejatinya sa

ma dengan kerajaan. Bedanya, Demokrasi meletakkan kedaulatan pada rakyat, sementara kerajaan meletakkan kedaulatan pada sang raja. Jika sang raja memutuskan membuang kedaulatan dari dirinya, dan memberikan kedaulatannya kepada Allah, jika masih ada kekuatan kafir di luar yang menghalanginya, tetap saja tak bisa berubah menjadi negara Islam. Tak ada pilihan lain bagi sang raja kecuali tunduk kepada kekuatan yang lebih besar, pada kasus hari ini maksudnya adalah AS dan sekutunya.

Demokrasi, kerajaan, dan khilafah hanya sarana. Substansi masalahnya, kekuatan. Siapa yang kuat, dia akan mampu membumikannya. Demokrasi menjadi sistem paling dominan hari ini, sebab ditopang oleh kekuatan terbesar yaitu AS. Tak ada yang bisa mengusiknya. Kerajaan menjadi sistem dominan pada zaman Firaun, karena ia orang terkuat pada zamannya tak ada yang bisa mengintervensinya. Khilafah menjadi sistem dominan pada zaman Turki Usmani, sebab Turki adalah kekuatan terbesar di bumi sehingga tak ada yang sanggup mengintervensinya.

Menyerang ideologi Demokrasi itu kewajiban dakwah, tapi Demokrasi tak akan bisa tumbang dari muka bumi jika AS sebagai pengusung terkuat tidak ditumbangkan oleh jihad bersenjata. Mengusung khilafah agar hidup di muka bumi juga tuntutan dakwah, tapi ia mustahil bisa hidup jika biang kerok yang menghalanginya – AS dan sekutunya – tidak dilumpuhkan dengan jihad bersenjata. Jangankan menumbangkan AS, ormas pengusung khilafah saja ketika dibubarkan oleh bonekanya tak sanggup melawan. Laksana ingin mengasuh bayi manusia di tengah kerumunan singa lapar, tanpa menyingkirkan atau membunuh sang singa, mustahil bayi manusia bisa hidup di lokasi tersebut.

Begitulah sunnatullah kehidupan. Antara hukum alam dengan hukum kalam selalu seiring. Ketika Allah ingin menggambarkan kesempurnaan agama-Nya pada akhir kenabian Muhammad saw, tepatnya pada haji wada’ tahun 10 H, Allah mengawalinya dengan ungkapan: pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk mengganggu agamamu. (QS. 5: 3). Ungkapan ini dapat dipahami, bahwa Nabi saw bersama para Sahabat telah berhasil melumpuhkan kekuatan kafirin dengan izin Allah, sehingga tidak lagi bisa mengganggu ideologi Islam untuk dihidupkan di muka bumi.

Setelah ungkapan itu barulah disusul dengan ungkapan: pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu. (QS. 5: 3). Berarti sempurnanya Islam dari A sampai Z terlaksana di muka bumi secara merdeka terjadi sesudah hilangnya kemampuan kaum kafir untuk intervensi. Ketika kaum kafir masih punya kekuatan untuk mengintervensi, mustahil Islam akan hidup dengan sempurna. Kalaupun hidup, pasti cacat. Pada bagian yang diizinkan kaum kafir untuk hidup, akan hidup seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Pada bagian yang diintervensi oleh kekuatan kafir agar jangan hidup, pasti mati seperti hukum qishas, hukum rajam dan hukum potong tangan. Walhasil, jika direnungkan dengan jujur, kita sejatinya masih memberikan dualisme rasa takut; sebagian untuk Allah, sebagian lain untuk kafir.

Padahal Allah maunya diberi rasa takut yang bulat, tak ada dualisme. Karenanya, tak ada jalan lain untuk menuntaskan rasa takut itu untuk Allah semata kecuali menghabisi kekuatan kaum kafir dengan jihad bersenjata, tak cukup hanya menghantam ideologinya dengan dakwah. Sebuah sunnatullah kehidupan yang sangat layak diresapi oleh setiap aktifis Islam apapun mazhabnya. Wallahua’lam bis shawab.

@elhakimi – 02012018

Join channel telegram.me/islamulia