Memandu dengan ilmu

Aqidah Islam, Sulit Tapi Mendasar

0

Keyakinan itu mengendap di hati kecil, hati yang paling dalam. Orang menyebutnya kalbu. Keyakinan termasuk amalan hati, yang akan dihisab oleh Allah karena manusia bisa membentuknya, meluruskannya atau bahkan membuangnya.

Keyakinan memang mengendap di hati, menancap dengan kuat, dengan menyatu dalam kepribadian, perasaan dan pemikiran manusia. Tapi karena hati itu sendiri bukan organ solid, tapi organ yang labil maka apapun yang menancap di hati juga bukan menempel secara permanen. Hati dengan keyakinannya bukan seperti pilar beton yang dicor pada pondasinya, menempel dan menyatu tak terpisahkan.

Artinya, apapun yang menancap di hati masih mungkin digoyang untuk kemudian dicabut dan diganti dengan yang lain. Inilah keunikan keyakinan ideologis (aqidah). Ia bersifat mengakar di hati kecil, tapi bukan menyatu tak terpisahkan. Masih bisa dicabut jika memang keyakinan itu keliru, untuk diganti dengan keyakinan yang benar.

Allah berfirman:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”  (QS. Al Baqarah: 284)

Perkara yang tersembunyi pada diri manusia adalah apa yang mengendap di hatinya dan apa yang melintas dalam pikirannya. Saat ayat ini turun, para sahabat mereka terasa berat sekali, karena mereka khawatir tidak mampu menjaga perkara yang tersembunyi dalam hati dan pikiran mereka. Padahal apa yang ada di hati dan pikiran tak selalu dapat dikendalikan manusia.

Tapi Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah kemudian turunkan ayat yang memberi kemudahan, dalam firman-Nya:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al Baqarah: 286)

Ayat ini menjelaskan bahwa apa yang tersembunyi pada diri manusia (apa yang ada di hati dan pikirannya) akan dihisab kecuali yang tak mampu dia kendalikan, alias bukan sebuah kesengajaan. Tapi untuk suatu kesengajaan dalam hati atau pikiran, maka manusia akan dihisab.

 

Keyakinan Termasuk Obyek Hisab

Keyakinan termasuk perkara yang mampu dikendalikan manusia, bukan datang tiba-tiba tanpa diundang, tapi hadir melalui proses untuk kemudian menghadap. Karena itulah keyakinan yang tersimpan di hati (aqidah) akan dihisab oleh Allah.

Hal yang mendapat permakluman dari Allah adalah sesuatu yang melintas di hati tanpa diundang. Misalnya datangnya perasaan iri kepada teman secara tiba-tiba karena melihat dia berhasil sedangkan kita gagal. Kehadirannya tak diundang, asalkan tidak diikuti dengan aksi lebih lanjut menuruti perasaan  irinya itu, tapi bahkan istighfar karenanya, maka ia akan dimaafkan oleh Allah.

Sementara keyakinan ideologis bukan datang tiba-tiba dan tidak diundang, tapi lahir karena sebab dan proses yang lama lalu mengendap. Wajar jika keyakinan dihisab karena manusia bisa mengantisipasi sebab dan prosesnya. Bahkan bila sudah terlanjur mengendap menjadi keyakinan yang salah lalu ia masih punya kesempatan untuk membuangnya, bahkan kadang itu sangat mudah. Kuncinya hanya itikad baik. Punya niat dan kesungguhan atau tidak.

Bukti bahwa keyakinan yang terjadi simpan dalam hati dihisab adalah fakta bahwa tokoh munafiq pada zaman Nabi dinilai berdasarkan apa yang tersimpang di hatinya, bukan berdasarkan amalan lahirnya. Orang-orang munafiq pada zaman Nabi melaksanakan shalat di masjid bersama Nabi, tapi tak ada nilai pahala apapun karena di hatnya tersimpan kebencian dan dendam kepada Nabi.

Keyakinan bahwa Nabi salah dan jahat yang tersimpan di hati munafiq lalu melahirkan dendam kesumat jelas melalui proses dan ada penyebabnya. Dalam kasus Abdullah bin Ubay, tokoh munafiq pada zaman Nabi, adalah karena ia sebelumnya kandidat pemimpin kota Madinah, bahkan sudah disiapkan mahkota raja tinggal menunggu hari-H pelantikannya, tapi peluang jadi raja sirna menyusul hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. Masyarakat yang sebelumnya gandrung kepada Abdulah bin Ubay tiba-tiba berbalik mengelu-elukan Nabi Muhammad. Maka kecewa, sakit hati dan dendam tak terperi mengendap di hati Abdulah bin Ubay.

Masalahnya adalah karena ia kemudian menuruti bisikan dendamnya itu, tidak mau membuangnya, bahkan mengendapkannya di hati yang paling dalam. Kebencian yang menjadi keyakinan ideologis, menjadi aqidahnya.

 

Tantangan Merubah Keyakinan

Merobah keyakinan yang salah menjadi perkerjaan sulit bagi sebagian orang. Penyebabnya adalah karena keyakinan itu sudah berkait-berkelindan dengan aspek lain, misalnya fanatisme, nafsu kekuasaan, ‘matre’  dan sebagainya. Tidak lagi berdiri sendiri.

Kadang seseorang yang terlanjur punya keyakinan salah lalu diluruskan orang lain, ia cenderung tersinggung, atau marah atau melawan, minimal mengabaikannya dengan halus. Wajar, karena keyakinan itu bersifat mengendap dan menjadi watak seseorang, atau semacam perilaku refleks seperti kedipan mata. Kepribadiannya sudah terbentuk oleh keyakinan tersebut.

Dalam kasus Abdullah bin Ubay, si munafiq itu, ia tidak tulus menerima konsep keyakinan baru -Islam- karena terhambat oleh ambisi politiknya. Selama ini ia mendapatkan kemuliaan, bahkan dipercaya kaumnya untuk menjadi calon raja adalah karena keyakinan jahiliyah ini. Sedangkan jika ka pindah keyakinan menjadi Islam, ia akan kehilangan penghormatan itu.

Padahal jika Abdullah bin Ubay ikhlas menerima kebenaran Islam, lalu keyakinannya berganti dari syirik  menjadi tauhid, dia akan mendapatkan kemuliaan pengganti. Ambisi politiknya menutupi cahaya kebenaran yang dibawa Islam, sehingga ia lebih memilih menjadi musuh dalam selimut bagi Rasulullah. Dia menyangka dengan cara itu kemuliaannya akan terpelihara, padahal ia sedang menghinakan dirinya sendiri. Ia tetap terpuruk dalam kubangan keyakinan jahiliyah saat cahaya hidayah menghampirinya.

Dalam kasus lain, penyebab gagalnya seseorang mengganti keyakinan jahiliyahnya-nya dengan Islam adalah karena fanatisme golongan. Nenek moyangnya mewariskan keyakinan kepadanya, lalu ia pegangi sampai mati. Ini juga dianggap sebagai kepahlawanan, karena komitmennya membela warisan leluhur. Padahal leluhur tak ada jaminan konsep keyakinan yang mereka wariskan sesuai dengan akal sehat.

Namun bagi orang yang berhasil melepaskan diri dari jerat-jerat penghalang, lalu melihat cahaya kebenaran dengan jujur dan akal sehat, ia akan memilih mengganti keyakinannya yang keliru menjadi tauhid yang lurus sesuai ajaran Islam. Ia kosongkan relung hatinya dari keyakinan menyimpang, untuk diisi dengan kebenaran.

Merubah keyakinan yang mendarah-daging pada diri seseorang memang sulit, tapi sebanding dengan hasilnya. Sekali keyakinannya berubah, maka seluruh aturan Islam yang lain akan mampu dia terima dengan baik. Tapi jika keyakinannya belum sepenuhnya berubah, syariat yang lain akan dia terima dengan setengah hati. Wallahu a’lam.

Sumber: majalah kalam dakwah edisi 08 hal. 9-12