Memandu dengan ilmu

Ayat-Ayat Cinta Ayat-Ayat Benci

0

Syarh Aqidah ath-thahawiyah ke– 81

وَنُحِبُّ أَهْلَ الْعَدْلِ وَالْأَمَانَة، وَنُبْغِضُ أَهْلَ الْجَوْرِ وَالْخِيَانَة

(81) Kami mencintai orang-orang yang adil dalam amanah. Membenci orang-orang yang lalim dan khianat.

 

Penempatan matan ini setelah matan yang menjelaskan prinsip wajib taat kepada ulil amri walaupun mereka lalim penguasa lalim (bukan kafir), tetapi kita tidak menyamakan antara pemimpin yang baik dan pemimpin yang buruk, antara para amir yang bertindak adil dan para amir yang berlaku aniaya. Matan ke 81 ini menegaskan; siapapun orangnya jika ia seorang mukmin yang adil dan beramanah, kita wajib mencintainya. Sebaliknya; siapa pun jika ia seorang mukmin yang lalim dan berkhianat, kita wajib membencinya.

Keadilan yang dimaksud disini adalah keadilan dalam pengertian yang luas sebagaimana yang difirmankan oleh Allah,

“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, ihsan (berbuat baik), dan memberi kerabat dekat.” (QS. an-Nahl: 90)

Seluruh perintah dalam Islam adalah keadilan. Keadilan yang terbesar adalah tauhid.

Seperti hal keadilan, kelaliman atau kezhaliman pun luas; terkait dengan hak Allah, Hak Nabi, hak sesama, dan hak diri.

Amanah yang dimaksud disini adalah amanah dalam pengertian yang luas sebagaimna difirmankan oleh Allah,

“Sesungguhnya kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinyan. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab:72)

Amanah adalah seluruh beban syar’i yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Seperti halnya amanah, khianat pun dipahami secara luas. Terkait dengan beban syar’i.

Maka orang yang berbuat adil sama dengan orang-orang yang berbuat amanah, dan orang-orang yang berbuat lalim sama dengan orang-orang yang khianat. Kelompok pertama berhak atas cinta. Kelompok kedua wajib dibenci.

 

Bukti Sempurna Iman

Cinta dan benci yang ditujukan kepada kedua kelompok ini merupakan bukti kesempurnaan iman dan ubudiyah kita kepada Allah. Ubudiyah yang tidak disertai dengan cinta adalah ubudiyah palsu. Bahkan, pengikat dari ubudiyah yang benar adalah terkumpulnya kesempurnaan dan puncak cinta serta kesempurnaan dan puncak ketundukan.

Pada asalnya mencintai para Rosul, para Nabi, dan orang-orang yang beriman tidaklah dibolehkan. Hanya karena Allah memerintahnya saja, kita mencintai mereka. Selain Allah hanya boleh dicintai karena Allah.

Mencintai apa yang dicintai Allah, membenci apa yang dibenci Allah, ridha pada apa yang diridhai oleh Allah, murka dengan apa yang dimurkai Allah, memerintahkan apa yang diperintah Allah, melarang apa yang dilarang Allah, dan menyesuaikan diri dengan Allah dalam segala hal adalah kosekuensi cinta kita kepada Allah.

Allah mencintai orang-orang yang ihsan, takwa, taubat,dan suka bersuci. Kita mencintai siapa saja yang dicintai oleh Allah. Allah tidak mencintai orang-orang yang khianat, membuat kerusakan, dan sombong. Kita tidak mencintai mereka lantaran menyesuaikan diri dengan Allah.

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فيه وَجَدَ حَلَاوَة الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ الله ورسوله أَحَبَّ إليه مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَمَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّه إِلَّا لله ، وَمَنْ كَانَ يَكْرَه أَنْ يَرْجِعَ في الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَه الله منه ، كَمَا يَكْرَه أَنْ يُلْقَى في النَّارِ

 “Ada tiga perkara, barangsiapa ketiganya ada pada dirinya ia pasti mendapati manisnya iman: barangsiapa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya; barangsiapa mencintai seseorang, ia mencintainya hanya karena Allah; barangsiapa benci kembali kepada kekafiran setelah Allah mengentasnya darinya sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api.”

Cinta sempurna yang sejati menuntut penyesuaian diri dengan yang dicintai dalam segala yang yang dicintai dan dibencinya, dalam siapa yang diloyali dan dimusuhi. Sudah maklum bahwa barangsiapa yang mencintai Allah ia harus membenci musuh-musuh-Nya dan mencintai apa yang dicintainya. Salah satunya: jihad menghadapi mereka. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan berbaris rapi seperti bangunan yang kokoh.” (QS. ash-Shaf: 1)

 

Dua Cinta

Cinta adalah amal hati. Cinta ada dua. Pertama, cinta yang merupakan tabiat, seperti cinta seseorang kepada keluarga, istri, anak-anak, teman-teman, dan kesenangannya untuk makan-minum. Ini cinta yang tidak dimasuki unsur ibadah. Kedua, cinta yang bersifat keagamaan. Dan cinta jenis kedua ini pun ada dua: cinta kepada Allah dan cinta karena Allah. Cinta kepada Allah adalah jenis ibadah yang paling agung. Seorang hamba tidak boleh mempersembahkan cinta jenis ini kepada selain Allah atau selain mencintai Allah, juga mencintai selain-Nya dengan cinta jenis ini. Allah berfirman, “Dan di antara manusia ada yang menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tandingan-tandingan, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Cinta orang-orang yang beriman kepada Allah melebihi cinta orang-orang musyrik kepada berhala-berhala mereka. Cinta kepada Allah tak terputus di dunia saja, sedangkan cinta kepada berhala akan terputus di ujung dunia dan akan terganti oleh permusuhan antara yang beribadah dengan yang diibadahi.

“Dan orang-orang yang beriman amat-sangat cinta mereka kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

“Dan apabila manusia dikumpulkan, maka mereka akan saling bermusuhan dan kufur terhadap peribadatan mereka.” (QS. al-Ahqaf: 6)

“…kemudian pada hari kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka…” (QS. al-‘Ankabut: 25)

Cinta karena Allah adalah simpul iman yang paling kuat, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah , “Simpul iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”

Cinta karena Allah ini akan langgeng sampai ke akhirat, berbeda dengan cinta karena dunia dan hawa nafsu yang berakhir di dunia fana. Allah berfirman, “Orang-orang yang bersaudara pada hari ini saling bermusuhan, kecuali (persaudaraan) orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

 

Manusia ketiga

Terkait dengan kewajiban mencintai dan membenci ini, manusia diklasifikasi menjadi tiga. Mereka yang wajib dicintai total. Mereka adalah para Rasul dan orang-orang yang beriman dengan iman yang murni. Termasuk juga as-Salafush Shalih dan ahlussunnah wal jamaah karena kemurnian akidah mereka dan kebenaran yang mereka pegangi. Juga karena mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, mereka yang wajib dibenci total. Mereka adalah musuh-musuh Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang.” (QS. Al-Mumtahanah: 1)

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Mujadalah: 22)

Ketiga, mereka yang di satu sisi wajib dicintai namun di sisi yang lain harus dibenci. Mereka adalah orang-orang beriman yang bermaksiat kepada Allah. Cinta dan benci ditujukan kepada mereka sekadar dengan kebaikan dan kejahatan yang ada dalam diri mereka.

“Apabila ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai mereka kembali pada perintah Allah.” (QS. Al-Hujurat: 9)

Dus, Islam mengajarkan damai dan cinta. Islam juga mengajarkan perang dan benci. Namun, semua dengan porsi yang tepat. Ada banyak sekali ayat dan hadits yang secara jelas memerintahkan kita—sebagai seorang hamba Allah—untuk perang dan benci. Seorang hamba Allah sejati akan berusaha memenuhi dan mengejawantahkan perintah-Nya dengan sebaik-baiknya. Tidak berlebih-lebihan, tetapi juga tidak menyepelekan atau bahkan menentang. Ada ayat-ayat cinta, ada ayat-ayat benci. Semua datang dari Allah. Wallahu a’lam.

Sumber: majalah arrisalah edisi 123