Memandu dengan ilmu

Ayo Ke Masjid

0

Ayo Ke Masjid

Masjid merupakan pusat kegiatan kaum Muslim. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, bangun pertama yang dibangun oleh Rasulullah adalah masjid. Fungsi masjid kala itu tidak hanya untuk shalat, tetapi juga untuk aktivitas keilmuan, sosial, dan lainnya. Para sahabat yang tergolong Ashabu Shuffah seperti Abu Hurairah, Abu Dzar, dan puluhan lainnya menjadikan masjid sebagai ‘asrama.’ Di sanalah mereka berguru langsung kepada Rasulullah dan para sahabat besar.

Ketika ada tamu yang datang dari luar Madinah, mereka bermalam di masjid. Sahabat Anas menyampaikan, “Beberapa orang dari suku Ukal datang kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka kemudian tinggal di Masjid.” (HR. Bukhari). Ummul Mu’minin, Aisyah, juga pernah melihat Nabi SAW melatih orang Habasyah menggunakan tombak di Masjid Nabawi.

 

Di Mana Para Pemuda

Nah, untuk itu kita punya PR besar untuk kembali memakmurkan Masjid. Hal ini bukan pekerjaan remeh atau pekerjaan orang tua Rasulullah menegaskan keutamaan pemuda yang memakmurkan masjid.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan dari Allah di hari kiamat, di mana tidak ada perlindungan selain dari-Nya, salah satuny adalah pemuda yang hatinya senantiasa terikat dengan masjid. (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar menjelaskan makna hadits tersebut, “Hadits ini menunjukkan bahwa orang tersebut hatinya senantiasa terkait dengan masjid meskipun jasadnya terpisah darinya. Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa keterkaitan hati seseorang dengan masjid disebabkan saking cintanya dirinya dengan masjid Allah.” (Fathul Bari)

Seorang lelaki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid tidak merasa tentram jika keluar dari masjid sehingga dirinya kembali masuk ke masjid. Masjid adalah rumah Allah maka siapa yang memasukinya berarti dia telah bertamu kepada Allah. Maka tidak ada hati yang lebih baik dan tidak ada jiwa yang lebih senang dari seorang lelaki yang bertamu terhadap Rabbnya di rumah-Nya dan di bawah pengawannya-Nya. Mereka inilah yang sebenarnya layak disebut sebagai orang yang memakmurkan masjid.

Abi Dar’da menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Masjid adalah rumah untuk setiap orang yang bertaqwa. Allah akan memberikan jaminan bagi orang yang menjadikan masjid sebagai rumahnya dengan ruh, rahmat dan bisa melewati sirath dengan selamat menuju ridha Allah yang menyampaikannya ke dalam surga.” (Hilyatul Auliya)

 

Melangkah Untuk Berjamaah

Salah satu syiar agama Islam yang sangat nampak dari adanya masjid adalah ditegakkannya shalat lima waktu di dalamnya. Ini pun merupakan salah satu cara memakmurkan masjid. Syariat Islam telah menjanjikan pahala yang berlipat bagi mereka yang menghadiri shalat jama’ah di masjid. Di sisi lain syariat memberikan ancaman yang sangat keras bagi orang yang berpaling dari seruan shalat berjamaah.

Suatu ketika, tatkala tiba waktu shalat, Rasulullah berkeinginan meminta seseorang untuk mengimami manusia, kemudian beliau pergi bersama beberapa orang dengan membawa kayu bakar. Beliau berkeinginan membakar rumah orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjamaah. Hal ini menunjukkan bahwa shalat jamaah di masjid adalah wajib, karena ada hukuman bagi mereka yang meninggalkannya.

Rasulullah bersabda, “Shalat seseorang di masjid dengan berjamaah itu dilebihkan dengan 25 derajat dari shalat yag dikerjakan di rumah dan di pasar. Sesungguhnya jika salah seorang di antara kalian berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya lalu mendatangi masjid, tak ada keinginan yang lain kecuali untuk shalat, maka tidaklah ia melangkah dengan satu langkah pun kecuali Allah mengangkatnya satu derajat, dan terhapus darinya satu kesalahan…” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari sahabat Abu Hurairah)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barang siapa yang ingin berjumpa dengan Allah kelak dalam keadaan muslim, maka hendaklah dia menjaga sholat lima waktu tatkala dia diseru (dengan adzan). Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan sebuah sunnah yang agung, dan shalat berjamaah adalah di antara sunnah tersebut. Seandainya kalian shalat di rumah-rumah kalian, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang belakangan, maka sungguh kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, maka sungguh kalian telah berada dalam kesesatan.” (HR. Muslim)

Setelah tahu pahala bagi orang yang menghadiri shalat jamaah di masjid dan ancaman bagi orang yang tidak menghadirnya. Gimana? Masih adakah rasa berat di dalam hati kita untuk melangkah memenuhi seruan adzan? Ayo ke masjid.