Memandu dengan ilmu

Bahaya ‘Virus’ Nifaq Terhadap Kehidupan Bag 1

0

Nifaq merupakan anomali akhlaq yang membahayakan kehidupan pribadi seorang muslim maupun masyarat secara umum, bahaya yang ditimbulkannya sangatlah besar sekali, kehadirannya akan menimbulkan kerusakan pada tatanan dan sistem dinul Islam. Nifaq ibarat serigala berbulu domba, dia akan merusak sesuatu yang dimasukinya tanpa disadari oleh pemiliknnya.

Nifaq merupakan akumulasi dari berbagai macam akhlak tercela, seperti pengecut, menolak kebenaran, tamak terhadap dunia, licik, dan plin-plan. Pondasi utamanya adalah kedustaan dalam perkataan dan perbuatan.

Berbagai musibah yang pernah menimpa kaum muslimin sejak zaman dahulu sampai sekarang, sedikit banyak merupakan buah skenario orang-orang munafik. Mereka menggunakan tipu muslihat dan berkamuflase ke dalam barisan kaum Muslimin demi satu tujauan, menghancurkan Islam dari dalam. Jikalau mereka merasa tidak mampu menghancurkan Islam karena kondisinya yang kuat, bergabungnya mereka dengan kaum muslimin, tidak lain hanyalah ingin mencari keamanan pribadi dan manfaat duniawi semata.

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk memperingatkan umat dari bahaya kemunafikan dan orang-orangnya. Menjelaskan kepada mereka hakekat kemunafikan, sifat-sifat orang munafiq, dan ancamannya terhadap keimanan, syariat Islam, serta akhlaq Islamiyah. Sebagaimana Allah swt dan Rasul-Nya saw yang begitu keras memperingatkan kaum muslimin untuk menjauhi nifaq(kemunafikan).

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terhadap umatku adalah orang munafik ‘alimul lisan (pintar berbicara, namun jahil hati dan amalnya).”

Orang-orang munafiq merupakan kaki tangan musuh-musuh Islam. Mereka akan masuk ke dalam barisan kaum muslimin untuk menjadi mata-mata, mencuri berita, atau mencari-cari kelemahan untuk dijual kepada musuh-musuh Allah swt. Orang-orang munafiq akan bergembira ketika menyaksikan kaum muslimin bersedih dan kesedihan mereka muncul ketika melihat orang-orang beriman bergembira.

Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa kemunafikan telah punah bersamaan dengan berakhirnya nubuwah. Namun, ternyata pendapat tersebut tidak berlandaskan pada dalil- dalil yang kuat. Ada beberapa argumen yang menunjukkan akan eksistensi kemunafikan semenjak meninggalnya Rasulullah saw :

  1. Sejarah mencatat bahwa kemunafikan telah menebar kerusakan pada zaman Rasulullah saw dengan tipudayanya. Bahkan setelah meninggalnya Rasulullah saw, kerusakan yang ditimbulkan orang-orang munafiq lebih besar dan lebih berbahaya. Hal ini karena makar-makar yang mereka buat tidak teridentifikasi oleh kaum muslimin, sehingga rencana-rencana busuk yang mereka buat sangat mudah sekali diaplikasikan. Sedangkan ketika Rasulullah saw masih hidup, semua makar yang mereka buat telah diketahui oleh Rasulullah saw melalui wahyu dari Allah swt. Sehingga rencana-rencana busuk mereka tidak dapat terlaksana karena kaum muslimin telah mengetahuinya.
  2. Tragedi pembunuhan dua amirul mu’minin, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhuma merupakan bukti yang sangat jelas akan eksistensi kemunafikan di tubuh kaum muslimin setelah meninggalnya Rasulullah saw. Begitu juga genocide yang menimpa kaum muslimin di Andalusia, penghancuran dinasti Abbasiyah oleh tentara Tartar, takluknya baitul maqdis oleh tentara salib, dan runtuhnya daulah Turki Utsmani adalah bukti nyata masih adanya kemunafikan sampai saat ini.

Untuk mengetahui hakekat nifaq (kemunafikan), maka kita harus memahami Iman, Islam, dan Kufur. Karena kemunafikan yang merupakan salah satu bentuk akhlaq tercela, akan dapat diidentifikasi jika seseorang memahami apa itu Iman, Islam, dan kufur.

A. Iman

Iman adalah getaran keinginan hati yang berupa pembenaran, pengakuan, dan ketundukan kepada Allah swt dan sifat-sifat-Nya yang telah ditetapkan melalui firman-Nya, dan juga beriman kepada para Malaikat, kitab, Rasul, hari Kiamat, dan Iman kepada Qada’ dan Qadar.

Seseorang belum bisa dikatakan beriman sebelum mengimani seluruh rukun Iman yang enam. Barangsiapa yang mengaku beriman kepada Allah swt namun tidak mengimani rukun-rukun yang lain, maka dia kafir, belum bisa disebut orang beriman.

B. Islam

Pernyataan lisan seorang mukmin yang bersumber dari hatinya, bahwa dia siap untuk taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw dan tunduk kepada seluruh syariat Islam.

Barangsiapa yang menolak untuk taat kepada Allah swt karena kesombongan, maka dia kafir. walaupun di dalam hatinya ada Iman. Hal ini seperti kafirnya Iblis yang menolak perintah Allah swt untuk bersujud kepada Adam as. Karena kesombongan dan keraguannya akan kebijaksanaan-Nya, maka dia termasuk golongan orang-orang kafir, walaupun sebenarnya dia mengimani Allah swt.

Sedangkan orang yang melakukan kemaksiatan karena dorongan hawa nafsunya namun hatinya masih meyakini akan keharaman kemaksiatan tersebut, mengakui dosa dan kesalahannya, maka dia adalah mukmin ‘aasin dan tidak dikafirkan.

Bersambung…