Memandu dengan ilmu

Bahaya ‘Virus’ Nifaq Terhadap Kehidupan Bag. 3

0

Nifaq mempunyai dua bentuk :

  1. Nifaq asli, yaitu orang-orang kafir yang masuk agama Islam karena dorongan duniawi. Bergabungnya mereka kepada Islam semata-mata untuk mendapatkan kekayaan duniawi, yang mana hal itu tidak akan mereka dapatkan kecuali dengan masuknya mereka ke dalam Islam. Tidak ada iman di dalam hati mereka sejak pertama kali mereka mengumumkan untuk masuk ke dalam agama Islam , walaupun baju, amalan, dan perilaku mereka menunjukkan tanda-tanda keIslaman. Lalu lahirlah anak-anak yang mewarisi kemunafiqan dari bapak-bapak mereka.
  2. Nifaq thoori’, yaitu orang-orang kafir yang masuk Islam karena dorongan keimanan dan jujur dalam keIslamannya. Lalu setelah beberapa waktu, iman yang ada di dalam hati mereka menghilang, baik karena dendam, keraguan, atau godaan kekayaan duniawi. Walaupun iman yang ada dalam hati mereka sudah hilang, namun atribut dan ritual keIslaman masih mereka pakai dan kerjakan. Karena jika mereka mengumumkan untuk keluar dari Islam, akan membahayakan nyawa dan harta mereka.

Allah swt berfirman berkenaan dengan orang munafiq model kedua :

Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib? (At Taubah : 75-78)

Dalam ayat yang lain Allah swt juga berfirnan :

“Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.” (Al Munafiqun : 3)

Pada mulanya Iman telah ada di dalam hatinya, lalu orang tersebut meninggalkan keimanan dengan melakukan perbuatan kekufuran.

Latar belakang kekufuran orang munafiq :

  1. Orang munafiq yang mempunyai background kekufuran tertentu. Seperti Yahudi, Nasrani, Majusi, syirik, atau pagan
  2. Orang munafiq yang tidak memiliki background kekufuran tertentu. Perbuatan nifaq yang dilakukannya, semata-mata untuk mencari keuntungan dunia. Mereka ibarat bunglon yang mampu berkamlufase sesuai dengan lingkungan yang dijumpainya. Jika dia melihat Islam menjanjikan keuntungan duniawi, mereka akan bergabung di dalamnya. Dan jika dia melihat, bahwa agama atau kelompok lain lebih menjanjikan, maka dia akan bergabung dengannya demi mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Orang-orang munafiq jenis ini tidak mempunyai background keagamaan, baik agama Islam maupun agama-agama yang lain. Hatinya tidak ada kecondongan untuk meyakini agama tertentu. Posisi mereka diantara kekufuran dan keimanan. Motivasi utama yang mendorong mereka untuk masuk ke dalam suatu agama adalah keinginan mendapatkan keuntungan dunia. Mereka ibarat pemburu yang mengendap-endap diantara rerimbunan semak belukar untuk mengawasi hewan buruan. Jika Islam mendapatkan kemenangan, mereka akan mengikrarkan keIslaman demi mendapatkan harta, kedudukan, atau keamanan yang dia inginkan. Namun, mereka juga tidak akan ragu untuk meninggalkan Islam dan bergabung dengan agama lain, jika bergabungnya mereka ke dalamnya lebih bisa memuaskan dahaga syahwat mereka.

Di dalam Al Qur`an tepatnya dalam surat An Nisa`: 138 Allah ta’ala menjelaskan tentang sifat-sifat orang munafiq. Di dalam ayat ini, disebutkan tujuh sifat orang munafiq jenis yang kedua :

  1. Pekerjaan mereka adalah bersembunyi untuk memata-matai kondisi lingkungan sekitar demi mencari keuntungan, seperti pemburu yang memata-matai hewan buruannya. Jika kaum muslimin mendapatkan kemenangan, mereka akan keluar dari sarang dan mengatakan ألم نكن معكم ؟ “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?” dengan tujuan agar mendapatkan ghanimah. Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan, mereka akan mengatakan, “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Perkataan mereka ini tidak lain demi mendapatkan keuntungan materialis semata.
  2. Tidaklah mereka melaksanakan shalat kecuali dalam keadaan malas. Tidak ada kekhusyukan sama sekali, gerak-geriknya dalam shalat tidak ada satupun yang ditujukan untuk Allah swt, namun yang dia harapkan hanyalah pandangan manusia.
  3. Mereka tidak pernah berdzikir kepada Allah swt kecuali dihadapan orang-orang beriman. Hal itu karena rusaknya aqidah dan keimanan mereka.
  4. Mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dan mengabaikan orang-orang beriman. Hal tersebut mereka lakukan untuk mendapatkan simpati dan berharap mendapat kedudukan dari orang-orang kafir.
  5. Mereka senang duduk-duduk bersama orang-orang kafir. Ketika mendengarkan perkataan-perkataan kufur yang diperbincangkan oleh orang-orang kafir, seperti bermain-main dan berolok-olok dengan ayat-ayat Allah swt, mereka tidak mengingkarinya dan tidak meninggalkannya. Padahal Allah swt di dalam firman-Nya, menyebutkan salah satu sifat orang mukmin adalah meninggalkan majlis yang di dalamnya orang-orang berolok-olok dan bermain-main dengan ayat-ayat Allah swt. “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang lalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al An’am : 68)

Padahal di dalam ayat yang lain, Allah swt menjelaskan bahwa orang yang ridho dengan kekafiran maka dia kafir. Orang yang duduk-duduk bersama orang-orang kafir yang mengolok-olok ayat-ayat Allah swt padahal dia mampu untuk pergi dan mengingkarinya maka dia juga kafir. Allah swt berfirman,

Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam,(An Nisa’ : 140)

Jelas sekali bahwa ayat ini menjelaskan akan kesamaan orang kafir dan munafiq dalam kekafiran. Sehingga Allah swt akan mengumpulkan mereka ke dalam satu tempat di Neraka Jahannam.

  1. Mereka bersembunyi diantara orang-orang beriman dan orang-orang kafir. Mereka baru akan muncul untuk bergabung kepada salah satu pihak yang sedang mendapat kemenangan. Mereka menyangka perbutan tersebut bisa mengelabuhi Allah swt dan orang-orang beriman. Padahal ternyata mereka mengelabuhi diri mereka sendiri.
  2. Hati mereka tidak mempunyai keyakinan yang jelas. Baik berupa Iman maupun kekufuran. Keyakinannya akan berubah-ubah sesuai dengan kondisi lingkungan luar yang mereka anggap lebih menguntungkan. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (An Nisa’ : 137)

Diriwayatkan dari sahabat Ali rh, beliau berkata, “Orang murtad dimintai pertobatannya sebanyak tiga kali”. Lalu beliau membaca ayat di atas.

Bersambung…