Bahaya ‘Virus’ Nifaq Terhadap Kehidupan Bag. 4 (selesai)

0

Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab seseorang melakukan kemunafikan, di antaranya:

  1. Tamak terhadap dunia. Hal tersebut dapat didapatkan dengan bergabung ke dalam barisan kaum muslimin. Tidak sekedar tamak saja, namun tamak yang telah berasimilasi dengan berbagai akhlaq buruk lainnya, seperti kadzab, khianat, licik, pengecut dan sebagainya.
  2. Takut akan keselamatan jiwa dan hartanya jika masih tetap dalam kekafiran.
  3. Mengaharap kehancuran Islam dan kaum muslimin. Masuknya mereka ke dalam Islam adalah untuk menebarkan serbuk-serbuk kehancuran. Faktor yang ketiga ini merupakan proyek dari orang-orang yang sangat membenci Islam.
  4. Ta’asub terhadap nenek moyang yang beragama Islam. Kultur dan lingkungan yang terwarnai dengan Islam memaksanya untuk tetap beragama Islam, namun di dalam hatinya tidak ada rasa tunduk dan cinta terhadap syariat Islam.

Tingkatan Nifaq

Tingkatan kemunafikan berbanding lurus dengan besarnya permusuhan terhadap Islam dan kaum muslimin. Orang munafiq yang menginginkan kehancuran Islam, lebih besar dosanya daripada orang yang berbuat kemunafikan karena dorongan mendapatkan keuntungan duniawi.

Nifaq Asghar

Nifaq asghar adalah kemunafikan pada amal dhohir, perbuatannya belum sampai pada tataran merusak seluruh bangunan keimanan. Namun, sekedar menghapus dan membatalkan pahala suatu amalan yang dikerjakannya. Pelakunya tidak dikafirkan dan belum bisa dikatakan keluar dari Islam. Mereka dihukumi sebagaimana orang beriman yang berbuat kemaksiatan.

Nifaq asghar ini dapat diidentifikasi dari amal dhohir seseorang. Jika di dalam diri seorang muslim terkumpul salah satu sifat atau keseluruhan dari sifat-sifat yang merupakan ciri-ciri kemunafikan, maka dia telah melakukan nifaq asghar. Dengan catatan, imannya belum hilang dari hatinya. Beberapa sifat tersebut adalah :

  1. Al Kazbu (dusta) dalam perkataan dan perbuatan
  2. Melanggar perjanjian
  3. Berkhianat dalam perjanjian
  4. Mengkhianati amanah
  5. Curang ketika bertengkar

Dirwayatkan dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika berseteru curang”. (HR Bukhari)

Seorang muslim yang di dalam dirinya terkumpul empat sifat yang disebutkan dalam hadits Abdullah bin Amru, maka dia adalah seorang munafiq tulen dalam koridor nifaq asghar. Dengan catatan tidak tampak pada dirinya tanda-tanda kemunafikan pada aslud din. Yang dimaksud nifaq dalam aslud din adalah jika seseorang telah mengikrarkan untuk beriman kepada seluruh rukun iman dan akan menaati seluruh tuntutan syariat baik berupa perintah maupun larangan, namun sejatinya dia menyembunyikan kekufuran dan hatinya menolak untuk taat kepada syariat Islam. Hatinya menyelisihi terhadap apa yang dia tampakkan diahadapan manusia.

Perumpamaan Mu’min dan Munafiq

Dari Abu Musa Al Asy’ari ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Perumpamaan seorang Mukmin yang suka membaca Al Qur’an seperti buah Utrujah, baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan seorang Mukmin yang tidak suka membaca Al Qur’an seperti buah kurma, tidak berbau namun rasanya manis. Perumpamaan seorang Munafik yang suka membaca Al Qur’an seperti buah raihanah, baunya harum tapi rasanya pahit. Dan Perumpamaan seorang Munafik yang tidak suka membaca Al Qur’an seperti buah hanzhalah, tidak berbau dan rasanya pahit.’

Ruang Lingkup Nifaq Dan Bentuk-Bentuknya

  1. Nifaq Asghar (riya’)

Dalil dalam Al Qur’an

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (As Syuro : 20)

Ayat ini berkaitan dengan orang-orang yang beramal karena sum’ah dan ria’. Amal-amal sholeh yang dikerjakan, adalah demi mendapat pujian dan penghargaan manusia. Di dunia, Allah swt akan memberikan apa-apa yang mereka inginkan berupa penghargaan dan pujian dari manusia, namun di akherat amal-amal sholeh yang telah mereka kerjakan tidak akan berbuah pahala yang bisa menyelamatkan mereka dari siksa Allah swt.

Hadits Nabi saw

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukanKu dengan selainKu, Aku meninggalkannya dan sekutunya’.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa memperdengarkan (amalannya) niscaya Allah memperdengarkan dengannya dan barangsiapa memperlihatkan (amalannya) niscaya Allah memperlihatkan dengannya.” (HR Muslim)

Barangsiapa yang mengucapkan kebaikan demi mendapat pujian manusia atau mengerjakan amal sholeh agar dilihat manusia, maka dia akan mendapatkan apa yang mereka inginkan berupa pujian dan penghargaan. Sedangkan di akherat, amal-amal sholeh yang mereka kerjakan karena riya’ atau sum’ah akan terhapuskan dan tidak akan dihitung sebagai pahala.

  1. Nifaq Jasusiyah (mata-mata)

Jasusiyah (spionase/mata-mata) yang bekerja untuk suatu lembaga atau sebuah negara, selalu menebarkan bahaya yang sangat besar bagi eksistensi lembaga atau negara lain yang menjadi lawannya. Hal ini tidak terlepas dari cara kerja spionase yang sangat licik. Untuk menjalankan misi, Mereka selalu memanfaatkan sarana-sarana yang ada secara sembunyi-sembunyi, disiplin dalam menjalankan program, cara kerja mereka merupakan hasil eksperimen panjang, dan melakukan seleksi yang ketat untuk mendapatkan pioner yang benar-benar mempunyai kompetensi dalam tugas tertentu. Tugas utama seorang spionase adalah mencari informasi yang dapat digunakan untuk menghancurkan suatu lembaga atau negara yang menjadi musuhnya. Terkadang, satu informasi lebih berharga dari ratusan pundi-pundi emas atau tumpukan batu permata.

Sebuah imperium besar sangat mungkin sekali hancur sampai akar-akarnya hanya karena makar satu orang mata-mata. Begitu juga ribuan pasukan yang tangguh tak terkalahkan bisa jadi hancur karena perbuatan seorang mata-mata.

Oleh karena bahaya yang ditimbulkan orang-orang munafik sangatlah besar, maka Islam memberikan hukuman yang berat bagi mereka baik di dunia maupun di akherat. Bahkan, lebih berat daripada hukuman untuk orang-orang kafir yang telah jelas-jelas menampakkan permusuhannya kepada Islam.

  1. Nifaq Siyasiyah (kemunafikan berpolitik)

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa politikus profesional adalah mereka yang lihai dalam berdusta, membuat tipu daya, berkhianat, melanggar perjanjian, dan hatinya selalu bertentangan dengan dhohirnya. Untuk menutupi semua itu, mereka selalu berakting dihadapan manusia dengan menampakkan berbagai macam kebaikan, berkelakuan seolah-olah orang yang paling mencintai keadilan, kejujuran, amanah, bahkan ketika berkumpul dengan orang banyak, mereka akan bersikap seolah-olah orang yang paling taat dalam beragama, berakhlaq kharimah, dan takut akan akherat. Mereka rela bersusah payah untuk mengerjakan berbagai macam kebaikan selama hal itu bisa melanggengkan kedudukan mereka. Namun, ketika hal tersebut tidak dapat membantu tujuan mereka, maka tidak segan-segan mereka akan menggunakan kekuasaan dan kekuatan. Segala cara mereka gunakan untuk mempertahankan kedudukan, meskipun cara-cara haram yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan sosial.

Seorang tokoh sosiologi dari Italia (Nicola Machiavelli 1469-1527) berpendapat bahwa nifaq siyasi merupakan salah satu bagian paling penting yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang politikus yang sedang memegang kekuasaan. Menurut dia, kekuasaan tidak akan dapat dipegang kecuali dengan berlandaskan kepada kaidah “الغاية تبرر الوسيلة” yang maksudnya, bahwa untuk mendapatkan kekuasaan, seseorang diperbolehkan menggunakan segala macam cara, walaupun cara tersebut melanggar etika agama dan sosial.

Menurut Machiavelli, sejarah membuktikan bahwa mayoritas manusia yang berhasil dalam dunia politik adalah mereka yang paling lihai dalam berbuat riya’ dan kemunafikan. Dia menyarankan kepada para penguasa untuk tetap menepati janji selama hal tersebut menguntungkannya, namun jika tidak membahayakan kekuasaannya, tidak ada kewajiban baginya untuk menepatinya.

Machiavelli berkata “… seorang penguasa yang cermat tidak harus memegang kepercayaannya jika pekerjaan itu berlawanan dengan kepentingannya …” Dia menambahkan, “Karena tidak ada dasar resmi yang menyalahkan seorang Pangeran yang minta maaf karena dia tidak memenuhi janjinya,” karena manusia itu begitu sederhana dan mudah mematuhi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukannya saat itu, dan bahwa seorang yang menipu selalu akan menemukan orang yang mengijinkan dirinya ditipu.”

Dia menulis sebuah buku yang berjudul Il Principe “Sang Pangeran” yang berisi tentang cara-cara seseorang untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Cara-cara yang dianjurkan Machiavelli itu dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan moral dan etika. Jadi, semua cara bisa dihalalkan demi mempertahankan kekuasaan tersebut. Tak heran kalau Machiavelli selalu diasosiasikan sebagai sosok yang buruk hingga saat ini. Oleh karena itu, orang-orang yang melakukan cara-cara Machiavelli tersebut selalu dijuluki sebagai makiavelis. Parahnya lagi, ajaran Machiavelli juga lebih cenderung mengajarkan kekejaman, kekerasan, ketakutan, dan penindasan ketimbang mengajarkan nilai-nilai keadilan, kasih sayang, kearifan, dan cinta.

Banyak sekali para politikus yang akhirnya berpegang kepada pemahaman Machiavelli. Jika melakukan kebaikan, tujuan mereka adalah untuk mencari dukungan manusia agar selalu menjadi pendukung mereka dalam mempertahankan kekuasaan. Yang selalu mereka takutkan adalah hilangnya dukungan manusia. Hal ini karena kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah swt dan hari akhir.

  1. Nifaq fi Ta’amul Maly (kemunafikan dalam muamalah harta)

Muamalah keuangan seharusnya berlandaskan kepada kejujuran, amanah, adil, keterbukaan, dan nasehat. Tidak boleh di dalamnya ada unsur penipuan, khianat, dusta, ghabn atau faahis. Sehingga tidak menjadi jalan seseorang untuk memakan harta saudaranya secara batil.

Banyak sekali para pedagang yang tidak segan-segan untuk berbuat khianat demi mendapatkan harta. Mereka menampakkan barang-barang yang baik untuk menutupi yang buruk dengan tujuan mengelabuhi pembeli.

wallahu a’lam bis shawab.