Memandu dengan ilmu

Belajar Fikih Agar Lebih Bijak

0

Untuk mengawali tulisan ini, mari kita menyimak kisah tentang dua ulama yang pada akhirnya menjadi ahli fikih; pertama al-Muzanni yang menjadi murid Imam asy-Syafi`i, dan yang kedua adalah Imam Abu Hanifah, pelopor dan pendiri madzhab fikih yang pertama.

Kisah tentang al-Muzanni ini diceritakan oleh al-Muzanni sendiri, di mana ia berkata, “Kalau ada orang yang dapat mengeluarkan ganjalan hati dan segala yang mengotori hatiku tentang perkara tauhid maka Imam Syafi’i-lah orangnya.

Aku pernah pergi menemui beliau, ketika itu beliau ada di masjid Jami’ Mesir. Ketika aku bersimpuh di hadapan beliau, aku langsung berkata, “Dalam hatiku terdetik sebuah persolaan tentang tauhid (dalam riwayat yang lain adalah ilmu kalam) yang mengusik hatiku. Namun aku tahu tak ada orang yang memiliki ilmu sebagaimana yang engkau miliki. Bagaimanakah jawabannya menurut ilmu yang engkau miliki?”

Beliau tiba-tiba marah, kemudian berkata, “Tahukah di mana kamu berada sekarang?” aku menjawab, “Tahu.” Beliau melanjutkan, “Inilah tempat dimana fir’aun ditenggelamkan oleh Allah. Apakah kaumu pernah mendengar Rasulullah memerintakan kita untuk menanyakan masalah itu?” aku menjawab, “Tidak,” beliau bertanya lagi, “Apakah ada sahabat yang pernah membicarakannya?” aku menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kamu tahu berapa jumlah bintang di langit?” aku menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya, “Bintang yang kamu tahu jenisnya, waktu terbit dan waktu tenggelamnya, tahukah kamu dari apa ia diciptakan?” aku menjawab, “Tidak.” Beliau lalu berkata, “Sesuatu dari makhlukini yang kamu lihat dengan mata kamu saja kamu tidak tahu menahu, apakah kamu mau menyoal ilmu Syang Pencipta?” kemudian beliau menanyakan aku tentang beberapa persoalan wudhu, tapi aku keliru menjawabnya. Kemudian beliau mengembangkan kembali persoalan itu menjadi empat persoalan lain, namun tak satupun yang kujawab dengan benar.

Beliau lalu berkata, “Persoalan yang kamu butuhkan sehari semalam sebanyak lima kali saja kamu tidak tahu. Lalu kamu mau memaksa diri mengetahui ilmu Sang Pencipta? Kalau terbetik lagi persoalan yang mengusik hatimu (tentang tauhid), kembalilah kepada Allah dan kepada firman-Nya, “Dan ilah kamu adalah ilah yang Maha Esa, tidak ada ilah selain Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malan dan siang…” (QS. Al-Baqarah: 163-164)

Maka, jadikanlah keberadaan makhluk sebagai bukti adanya Sang Pencipta. Dan janganlah kamu memaksakan diri untuk menggapai ilmu yang tak mungkin kamu capai dengan akalmu.” Setelah itu, aku betul-betul bertaubat.” (Siyar A’lamin Nubala`: 10/31-32)

Sedangkan tentang kisah Abu Hanifah bisa kita simak dari Suwar min Hayatit Tabi’in (hal. 16-17) karya Abdurrahman Ra`fat Basya, tepatnya ketika beliau menyebutkan kisah Atha` bin Abi Rabbah yang pernah dijadikan ulama rujukan pada masa Sulaiman bin Abdul Malik. Keilmuan dan kefakihan Atha` memancar ke seluruh penjuru Madinah, hingga Abu Hanifah pun mendapatkan barakah ilmunya.

Mari kita seksamai kisah yang diceritakan oleh Imam Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit sendiri. Katanya menceritakan pengalaman pribadinya,

Aku pernah melakukan lima kesalahan ketika melakukan manasik di Makkah, lalu seorang tukang cukur mengajariku. Peristia itu terjadi ketika aku bermaksud mencukur rambut karena hendak menyudahi ihram, maka aku mendatangi seorang tukang cukur, lalu aku bertanya “Berapa upah yang harus aku bayar untuk mencukur rambut kepada?” tukang cukru itu menjawab, “Semoga Allah memberikan hidayah kepada anda, ibadah tidak mempersyaratkan itu, duduklah dan posisikanlah kepada sesukan anda.”

Aku pun merasa grogi dan duduk. Hanya saja ketika itu aku duduk membelakangi kiblat, maka tukang cukur itu mengisyaratkan agar kau menghadap kiblat dan akupun menuruti  kata-katanya. Yang demikian itu semakin membuat aku salah tingkah. Lalu aku serahkan kepala bagian diri untuk dipangkas rambutnya, namun tukang cukur itu berkata, “berikan bagian kanan.” Lalu aku pun menyerahkan bagian kanan kepalaku.

Tukang cukur itu mulai memangkas rambutku sementara aku hanya diam memperhatikannya dengan takjub. Melihat sikapku, tukang cukur itu berkata, “Mengapa anda diam saja?” bertakbirlah!” lalu aku puen bertakbir hingga aku beranjak untuk pergi.

Untuk kesekian kalinya tukang cukur itu menegurku, “Hendak kemanakah anda?” Aku katakan, “Aku hendak pergi menuju kendaraanku.” Tukang cukur itu berkata, “Shalatlah dua rakaat terlebih dahulu baru kemudian  pergilah sesuka anda.” Aku pun shalat dua rakaat, lalu aku berkata kepada diriku sendiri, “Tidak mungkin seorang tukang cukur bisa berbuat seperti ini melainkan pasti dia memiliki ilmu.” Kemudian kaku bertanya, “Dari manakah anda mendapatkan tatacara manasik  yang telah anda ajarkan  kepadaku tadi?” oang itu menjawab, “Aku melihat Atha` bin Abi Rabah mengerjakan seperti itu lalu aku mengambilnya dan memberikan pengarahan kepada manusia dengannya.”

Demikianlah, dari dua kisah di atas kita bisa menyimpulkan bahwa kita sangat menghajatkan ilmu fikih.

Ibnul Jauzi, sebagaimana dinukil oleh Muhammad Hasan Abdul Ghaffar dalam Syarhu Matani Abi Syuja` (1/2) mengatakan, “Umur itu pendek, sementara ilmu itu berlimpah. Maka mula-mula, hendaknya seseorang mempelajari apayang bermanfaat baginya. Dan ilmu yang paling bermanfaat pada masa kini adalah ilmu fikih. Cukuplah firman Allah di dalam kitab-Nya, yaitu, “Agar mereka memahami (fakih).” (QS. Al- An’am: 65), dan juga hadits Nabi yang meletakkan dasar penting dalam menghafal hadits dan memahaminya, yaitu hadits:

Semoga Allah memuliakan orang yang mendengar ucapanku, lalu ia memahaminya, kemudian ia menyampaikan sebagaimana yang ia dengar. Betapa banyak orang yang membawa fikih menyampaikan kepada orang ang lebih fakih darinya. Dan betapa banyak orang yang membawa fikih tapi ia bukan ahli fikih.” (HR. Abu Daud, no. 3662)

Muhammad Hasan Abdul Ghaffar juga menukil perkataan Ibnu Taimiyah tentang urgensi belajar ilmu fikih, “Jika hadits sudah sampai kepada anda, maka anda memiliki dua cara; pertama, menetapkan sanadnya, dan kedua, memahami matannya. Memahami matan adalah puncak sebuah urusan. Oleh karenanya, penuntut ilmu hendaknya menyibukkan diri dengan ilmu fikih.”

Di samping itu, fikih mengatur tiga hubungan utama manusia, yaitu hubungannya dengan Sang Pencipta, hubungannya dengan diri sendiri, dan hubungannya dengan masyarakat. Hukum-hukum fikih juga ditujukan untuk kemashlahatan di dunia dan di akhirat, sehingga urusan keagamaan dan juga kenegaraan diatur semuanya. Hukum-hukum fikih juga dimaksudkan untuk mengatur semua manusia, sehingga ia kekal hingga hari akhir.

Hukum-hukumnya mengandung masalah akidah, ibadah, akhlak dan muamalah, sehingga ketika mengamalkannya, hati manusia terasa hidup, merasa melaksanakan suatu kewajiban dan merasa diawasi oleh Allah dalma segala kondisi. Oleh sebab itu, jika diamalkan dengan benar, maka ketenangan, keimanan, kebahagiaan dan kestabilan akan terwujud. Selian itu, jika fikih dipraktekkan, maka kehidupan manusia di seluruh dunia akan rapi dan teratur. (Lihat al-Faqh al-Islami wa Adillatuhu (1/19) karya Wahbah Az-Zuhaili).

Jadi, secara ringkas, mempelajari ilmu fiqh berarti mempelajari semua dimensi kehidupan yang dibuthkan oleh semua manusia. Ini tentunya menjadikan hidup lebih tenang, mudah dan tidak bingung. Wallahu A’lam.

Sumber: Majalah Hujjah edisi 1 hal. 5-7

Penulis: Ikhwanudin