Belajar Tanpa Guru

0

Pertanyaan

Ustadz, ana pernah mendengar, apabila seseorang belajar ilmu aga atanpa bimbingan ari seorang ustadz, ilmu yang diperoleh sesat, tolong jelaskan. Terus, kalau kita perdalam ilmu lewat buku atau majalah islami, apa hukumnya? Lalu, bagaimana cara kita membedakan buku yang menyesatkan dengan yang lurus?

Wagino – Jogjakarta

Jawaban

Menuntut ilmu pada asalnya mesti di bawah bimbingan seorang ulama yang dipercaya. Sebagaimana Nabi telah mengambil wahyu Al-Qur`an dari malaikat Jibril. Demikian dengan para shahabat yang telah mengambil ilmu langsung dari Nabi, lalu para tabi’in yang langsung bertemu dengan para sahabat. Sehingga menurut Al-Ghazali penulisan ilmu tidak terdapat di abad pertama, tapi ilmu ditulis pada abad setelah shahabat. Maka Asy-Sya’bi sebagai pembesar para tabi’in berkata, “Aku tidak pernah menuliskan tinta di atas kertas putih sama sekali, dan tidak pernah seorang laki-laki mengambil hadits dariku kecuali aku menghafalnya.”

Sehingga penghafal sebuah ilmu yang bersumber dari seorang ulama merupakan sifat umat ketika itu. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (QS. Al-Ankabut: 48-49)

Adapun cara belajar dengan membaca buku atau majalah Islami, tentunya bukan sesuatu tercela atau terlarang dan tidak selalunya akan menjerumuskan pelakunya pada kesesatan, tapi cara seperti ini tidak lebih baik dari cara pertama. Sebagaimana perkataan Ibnu Khaldun, bahwa sebab keutamaan mencari ilmu langsung pada seorang ulama, dikarenakan ilmu itu bisa disampaikan dengan taklim atau terkadang langsung dengan sebuah pengamalan. Bisa dipastikan, dengan pengamalan akan lebih dipahami dan lebih dimengerti.

Abdul Qadir bin Abdul Aziz (Al-Jami: 1/120-134) memberikan nasihat kepada penuntut ilmu yang tidak mampu belajar kecuali dari buku-buku. Pertama, hendaknya seorang muslim tidak mempelajari ilmu dengan buku, kecuali bila ia tidak mampu langsung belajar dengan seorang ulama. Dan kedua, agar membaca lebih dari satu buku dalam membahas sebuah masalah, sehingga akan lebih memahamkan.

sumber: majalah arrisalah edisi 69 hal. 29