Memandu dengan ilmu

Bentuk Loyalitas Kepada Rasulullah |Khutbah Jum’at

0

إنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نبي ولا رسول بعده.

نصل ونسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد،

فقال الله تعالى فى كتابه الكريم:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران :102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً (النساء: 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً{70} يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً (الأحزاب: 70-71)

 

Ma’asyiral muslimin sidang Jum’at Rahimakumullah

Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah Ta’ala yang sampai detik kita masih diberikan kenikmatan sehingga dimampukan untuk melangkahkan kaki ke masjid dalam rangka untuk melaksanakan salah satu perintahnya yaitu shalat Jum’at berjama’ah.

Selaku khatib kami tidak bosan untuk selalu menyampaikan wasiat takwa. Sebab takwa merupakan wasiat Allah Ta’ala yang telah diwasiatkan baik kepada umat terdahulu maupun kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Takwa juga wasiat para nabi dan rasul, termasuk nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam berwasiat takwa kepada seluruh ummatnya.

Sebagaimana imam Abu Dawud meriwayatkan dari sahabat yang mulia Al ‘Irbadh bin Sariyah radliallahu anhu, bahwa ia berkata:

 

وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.   رواه أبو داود

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menasihatkan kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati-hati kami dan air mata pun berlinang karenanya. Maka ketika itu kami mengatakan: “Duhai Rasulullah, nasihat ini seperti nasihat orang yang mau mengucapkan selamat tinggal, karena itu berilah wasiat kepada kami.” Beliau pun bersabda:

“Aku wasiatkan kepada kalian bertakwa kepada Allah, untuk mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian itu seorang budak. Dan barangsiapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Karena itu wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang erat-erat sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hati kalian dari perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru ( bid‘ah) itu sesat.” (HR. Abu Dawud)

Memberikan loyalitas kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman merupakan satu prinsip yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55) وَمَن يَتَوَلَّ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ فَإِنَّ حِزْبَ اللّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ (56)

 

“Hanyasanya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”. (Al Maidah: 55-56)

Ayat di atas menyatakan bahwa siapa yang memberikan loyalitas kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, maka Allah Ta’ala memberikan dua jaminan bagi mereka yaitu; akan dimasukkan dalam kelompok Hizbullah (golongan Allah), dan ini bukanlah nama sebuah kelompok seperti yang ada di Lebanon. Kemudian mereka akan diberikan kemenangan oleh Allah.

Ayat ini merupakan perintah dari Allah agar kita selaku muslim untuk selalu memberikan loyalitas kepada Allah, Rasulul-Nya dan orang-orang beriman. Dan diantara jaminannya akan diberikan pertolongan, kemenangan dan keberuntungan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, Ibnu Katsir Rahimahullahu ketika menjelaskan ayat di atas menyatakan bahwa

 

فكل من رضي بولاية الله ورسوله والمؤمنين فهو مفلح فى الدنيا ومنصور فى الدنيا والأخرة

 

“Setiap orang yang rela dengan kekuasaan Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, dia beruntung di dunia dan akhirat serta beroleh pertolongan di dunia dan akhirat”.

Diantara Bentuk Loyalitas Kepada Rasulullah, adalah:

 

Pertama, Mencintai Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam

 

Berkenaan dengan loyalitas kepada Rasulullah tentunya memiliki beberapa bentuk. Diantaranya adalah dengan memberikan seluruh kecintaan kepada beliau melebihi cinta terhadap diri sendiri dan apa yang kita miliki. Maka dalam surah At Taubah ayat ke-24 dinyatakan bahwa ketika seseorang lebih mencintai pasangan hidupnya, keluarganya, jabatannya, tempat tinggalnya, bisnis yang dikhawatirkan akan kerugiannya daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan Allah maka tunggulah hingga datang keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (At Taubah: 24)

Bahkan sahabat Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu suatu kali pernah mengatakan kepada Rasulullah,

 

لأَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِيْ .

“Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri.”

 

فَقَالَ : لاَ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ .

Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri’.

 

فَقَالَ : لَهُ عُمَرُ : فَإِنَّكَ اْلآنَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ . فَقَالَ : اْلآنَ يَا عُمَرُ

Maka Umar berkata kepada beliau, ‘Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’ Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku) wahai Umar.” (HR. Bukhari)

 

Maka diantara bentuk loyalitas kepada Rasulullah adalah dengan mencintai Rasulullah adalah wajib melebihi kecintaan kita kepada kedua ortu, anak, keluarga, dan harta benda.

 

Kedua, Menaati Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam

Bentuk kedua dalam memberikan loyalitas kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam adalah dengan mentaatinya. Banyak ayat yang memerintahkan kita agar senantiasa menaati Allah dan Rasul-Nya. Diantaranya:

 

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (آل عمران: 132)

“Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat”. (Ali Imran: 132)

 

مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ وَمَن تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظاً (النساء: 80)

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah. dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”. (An Nisa’: 80)

Yang dimaksud dengan taat kepada Allah adalah dengan mentaati kitab-Nya. Dan yang dimaksud dengan taat kepada Rasulullah adalah dengan mengikuti sunnah-sunnahnya.

 

Ketiga, Melindunginya

Kemudian bentuk loyalitas selanjutnya adalah dengan menolong, membantu dan melindungi beliau Shallallahu Alaihi Wasallam.

Ketika perang Uhud dimana Rasulullah beserta sembilan sahabatnya -tujuh dari kalangan Anshar dan dua dari Muhajirin- dalam keadaan terjepit oleh pasukan Quraiys. Saat itu beliau menyeru para sahabatnya yang Sembilan orang dengan: “siapa yang berani melindungiku dari serangan mereka berhak mendapatkan surga! Dia akan menjadi temanku di surga!

Maka tampillah seorang laki-laki dari Anshar. Dia maju dan bertempur dengan sengit hingga terbunuh. Bagitulah seterusnya, satu demi satu kaum Anshar maju berperang hingga semuanya gugur sebagai syuhada’. Yang terakhir adalah Umarah bin Yazid bin As Sakan.

Tinggallah Rasulullah beserta dua orang sahabat dari kaum Muhajirin, yaitu Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Kaum musyrikin tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Utbah bin Abi Waqqash melemparkan batu ke arah Rasulullah, dan lemparannya mengenai wajah beliau. Akibatnya, gigi geraham beliau bagian kanan bawah terluka, serta bibir bawah berdarah. Tak sampai disitu, Abdullah bin Syihab Az Zuhry melukai kening Rasulullah.

 

Penunggang kuda dari quraiys, Abdullah bin Qum’ah memukul pundak Rasulullah dengan pedangnya. Namun, beliau tidak terluka parah karena memakai baju besi. Dia juga memukul pipi Rasulullah bagian atas dengan keras.

“Terimalah itu. Saya adalah Ibnu Qum’ah”. Kata Abdullah dengan sombong.

Rasulullah lalu mengusap darah dari wajahnya. “Semoga Allah menghinakanmu”, sahut Rasulullah.

Doa Rasulullah ini terbukti pada kemudian hari. Ketika Abdullah keluar rumah menuju ternaknya di bukit, dia terjatuh ke lembah dan tewas.

Dua orang sahabat Muhajirin yang bersama Rasulullah sekuat tenaga melindungi beliau. Mereka berperang dengan gagah berani. Bahkan, sahabat Thalhah sampai tidak meyadari jari-jari tangannya putus dan mendapat luka lebih dari 35 tikaman pedang serta lembing. Kelak, Thalhah terkenal dengan sebutan “syahid yang masih hidup” karena banyaknya luka yang diderita.

Adapun Sa’ad bin Abi Waqqash merupakan pemanah ulung. Beliau melindungi Rasulullah dengan memanah setiap orang yang menyerang beliau. Ketika itulah pertolongan Allah datang. Sa’ad menceritakan apa yang dilihatnya.

“Aku melihat Rasulullah pada perang Uhud ditemani oleh dua orang laki-laki yang berpakaian putih. Keduanya berperang dengan hebat, yang belum pernah kulihat sebelum dan sesudahnya”.

Itulah Malaikat Jibril dan Mikail. Malaikat Jibril berperang di sebelah kanan Rasulullah dan Malaikat Mikail disebelah kiri beliau.

 

Keempat, Tidak Melecehkan, Meremehkan Ataupun Memperolok-Olok Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam

Bentuk loyalitas lainnya adalah dilarang untuk melecehkan, menghujat dan memperolok-olok Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Allah Ta’ala berfirman,

 

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (التوبة: 65)

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (At Taubah: 65)

Melecehkan, meremehkan atau memperolok-olok nabi bisa dengan lisan baik dengan ungkapan ataupun syair-syair. Meremehkan Nabi dengan tulisan baik berbentuk novel atau cerita. Atau bahkan menghina nabi dengan gambar karikatur yang melecehkan dan lain sebagainya. Ini semua merupakan bentuk pelecehan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan ingatlah, jika pelakunya adalah seorang muslim, maka stastus keislamannya telah hilang.

Ishaq bin Rahawaih guru dari Imam Bukhari menyatakan bahwa para ulama’ sepakat bagi siapa yang menghina Rasul, orang tersebut keluar dari islam meskipun ia menghina nabi baik dengan gurauan atau sungguh-sungguh.

Demikian juga Rasulullah yang meminta para sahabat untuk membunuh Ka’ab Al Asyraf. Seorang pemuka Yahudi ahli syair warga Madinah bernama Ka’ab bin Al-Asyraf dibunuh oleh seorang sahabat Nabi shallallahu ’alaih wa sallam bernama Muhamad bin Maslamah radhiyallahu ‘anhu bersama sekelompok kecil dari orang-orang Anhsar dari suku Aus. Ia dibunuh karena telah menulis puisi yang menghujat Nabi shallallahu ’alaih wa sallam.

Ceritanya, setelah berita kekalahan kaum musyrikin Quraisy menghadapi pasukan Islam di dalam perang Badar sampai ke Madinah, maka Ka’ab berkata: ”Jika berita ini benar, maka berada di bawah tanah lebih baik bagi kami daripada di atasnya.” Artinya, ia merasa dirinya lebih baik mati daripada hidup setelah kekalahan kaum kuffar Quraisy. Lalu Ka’ab bin Al-Asyraf membuat syair-syair berisi ratapan atas kekalahan kaum musyrikin tersebut. Di dalamnya juga memuat hujatan terhadap Nabi shallallahu ’alaih wa sallam dan kaum muslimin. Lalu pergilah ia ke Mekkah untuk menampilkan puisinya dan turut berduka cita bersama kaum musyrikin Mekkah. Bahkan kaum muslimat juga ia lecehkan di dalam syairnya. Maka Nabi shallallahu ’alaih wa sallam kemudian bersabda:

 

من لي بكعب بن الأشرف فإنه قد أذى الله و رسوله

 

“Siapakah yang mau menangani Ka’ab bin Al-Asyraf karena ia sungguh telah mengganggu Allah dan RasulNya?”

Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu ‘anhu, salah satu dari orang-orang Ansar dari suku Aus berkata: ”Saya akan melakukannya Wahai Rasulullah..! Apakah Anda ingin saya untuk membunuh dia?”.

Nabi shallallahu ’alaih wa sallam menjawab: ” Ya!”

Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu ‘anhu telah memberikan suatu janji; ia telah berjanji dengan lisannya bahwa ia akan membunuh Ka’ab bin Al-Asyraf!

sumber: daruusalam.online.com

بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ

كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ