Berbagi asa di pedalaman Halmahera Timur

0

Berbagi asa di pedalaman Halmahera Timur

Tempat ibadah dalam tataran penyebaran dakwah memiliki peran yang sangat penting karena di sana akan menjadi pusat daripada sarana yang akan mempermudah untuk tersampaikanya pesan-pesan Islam. Kelayakan tempat ibadah secara fisik adalah sebuah keharusan agar ibadah yang di jalankan terasa nyaman.

Disaat di kota-kota Masjid maupun Musholla berdiri kokoh dan indah lengkap dengan segala fasilitas yang ada. Ternyata, kondisi demikian tidak seperti di desa Buli, kec. Maba, Halmahera Timur.

Yang mana mayoritas penduduknya 99 % beragama Islam tapi hanya terdapat satu saja sebuah musholla yang jauh dari kata layak menjadi sentral penyebaran dakwah dan kegiatan Islam.

1 Ramadhan 1439 H, kami di beri kesempatan langsung untuk bersilaturahmi menyapa saudara seiman di sana. Sungguh tak tega hati melihatnya anak-anak penduduk setempat yang sangat antusias mengikuti pengajian, mereka harus mengaji di tempat yang kurang layak untuk menjadi tempat proses belajar mengajar berupa musholla yang hanya terbangun dari kayu beratapkan asbes yang sudah banyak berlubang.

Di tambah dengan Qur’an yang mereka gunakan sudah sangat lusuh dan tak satupun yang bersampul. Diperparah di desa Buli ini yang mana mayoritas penduduknya adalah muslim terdapat satu gereja yang tampak megah dan kokoh padahal di sana hanya terdapat 1 pastur dan seorang istrinya.

Hal ini tentu menambah keprihatinan kami, ternyata banyak di belahan bumi sana terutama di Indonesia kaum muslimin hidup dengan kondisi yang memprihatinkan. Akhirnya, kami datang ke desa tersebut dengan membawa bantuan Mushaf Al Qur’an dari sebuah yayasan peduli kemanusiaan. Dan langsung di beri kesempatan untuk dapat mengajarkan Kalamullah kepada mereka.

Berbagi asa di pedalaman Halmahera Timur

Meski singkat, pertemuan ini memberikan kesan yang luar biasa dalam benak kami. Dan satu hal yang menjadi catatan kami bahwa Islam akan tetap jaya apabila muslim terhadap muslim lainnya, saling tolong-menolong dan peduli dengan sesama. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ
إِذَا اشْتَكَى عَضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُ
(رواه البخاري ومسلم)

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ustadz Adly Annashiri, Da’i Sahdan Madina di Indonesia Timur.