Bergaul Dengan Buku

0

Bergaul Dengan Buku

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah

Ayat pertama turun adalah “iqra” bacalah! Seiring dengan perkembangan dakwah islam, dunia Arab saat itu mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Spirit Islam untuk membaca itu terus merambah seiring tersebarnya Islam ke seantero dunia, sejalan dengan roda sejarah yang terus berputar. Baca dan tulis pun tak pernah lepas dari tradisi Islam, meskipun dengan alat dan sarana yang berbeda sesuai dengan perkembangan zaman. Begitupun dengan buku yang dahulunya hanya berupa tulisan-tulisan di atas pelepah kurma, atau lembaran-lembaran daun, hingga seperti sekarang ini, ratusan ribu karya ulama masih terekam dengan baik hingga saat ini.

Selain mendatangi ulama, membaca buku menjadi sarana pokok untuk menuntut ilmu. Lokasi ilmu memang di dua tempat, ‘ilmun fishshudur, ilmu yang di dada. Yakni ilmu yang dihafal, dipahami dan dihayati oleh pemiliknya. Untuk mendapatkannya, kita perlu mendatangi dan menimba ilmu dari ahlinya. Yang kedua adalah ‘ilmun fis suthur, yakni ilmu yang berada dalam lembaran dan buku-buku. Untuk menguasainya, kita harus membaca dan menelaahnya Karenanya, membaca buku menjadi tradisi para ulama dari zaman ke zaman.

Tapi sayang, kebiasaan membaca ini semakin langka kita dapatkan, selain hanya dalam komunitas yang sangat terbatas. Untuk itu, sejenak penulis mengajak Anda me-record kegemaran para ulama dalam membaca.

 

Hiburan yang Nikmat dan Berfaedah.

Bagi mereka, membaca bukan lagi menjadi beban yang dipaksakan, bahkan menjadi hiburan yang mengandung kenikmatan, sekaligus ada selaksa faedah yang bisa dirasakan.

Ketika orang-orang memperbincangkan tentang alternatif hiburan dan tempat rekreasi, Ibnu Duraid berkata, “Jika hiburan kebanyakan orang adalah biduanita, juga gelas minuman yang ditenggak, maka hiburan dan rekreasi kami adalah mudzakarah dan menelaah buku.”

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, Syaikh kami (yakni Ibnu Taimiyah) bercerita kepada kami, “Ketika saya mengalami sakit, tabib berkata kepada saya, “Jika Anda terlalu banyak membaca dan membahas tentang ilmu, maka sakitmu akan bertambah parah.” Saya katakan kepadanya, “Saya tidak bisa meninggalkannya. Saya bertanya Kepada Anda. jawablah sesuai dengan disiplin ilmu Anda, “Bukankah apabila jiwa kita gembira, bahagia dan kondisinya kuat maka semua itu akan bisa menghilangkan penyakit?” Ia menjawab, “Ya, tentu.” Saya berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya jiwa saya merasa senang bergelut dengan ilmu, dengannya kondisi jiwaku semakin kuat, aku pun merasa nyaman dan rileks.” Sang tabib berkata, “Kalau begitu, itu di luar lingkup pengobatan kami.”

Lihat pula hausnya Ibnu Al-Jauzy untuk menelaah buku, beliau berkata, “Jika saya katakan bahwa saya telah membaca 20.000 jilid buku, sebenarnya jumlahnya lebih banyak dari itu, pun demikian aku masih tetap mencari.” Beliau juga mengatakan, “Jika aku mendapatkan buku yang belum pernah kubaca, seakan-akan aku menemukan harta karun yang melimpah.”

 

Sebaik-baik Teman Adalah Buku.

Selagi bisa bersanding dengan buku, tak ada istilah kesepian maupun bete bagi para pemburu ilmu. Abdullah bin Mubarak yang dikenal sebagai Ami’rul mukminin fil hadits (pemimpin orang-orang dalam hal hadits) di masa tabi’in, sering menyendiri bersama buku, lalu beliau ditanya, “Apakah Anda tidak bosan duduk-duduk sendirian di rumah?” Beliau menjawab, “Aku tidak sendirian, saya bersama Nabi SAW dan para sahabatnya. “Yakni, beliau membaca buku yang menyebutkan ilmu dan kisah dari nabi dan para sahabat.

Seringnya beliau “bergaul” dengan Nabi SAW dan para sahabat, membuat karakter beliau sangat mirip dengan perilaku para sahabat. Hingga seorang temannya mengatakan, “Aku amati perbedaan antara Ibnu Mubarak dengan para sahabat Nabi SAW, aku dapatkan tak ada perbedaan antara keduanya, selain bahwa para sahabat bertemu langsung dengan Nabi SAW, sedangan Ibnu Mubarak tidak.”

Siapa pula yang tidak kenal dengan Imam Ahmad bin Hambal. Satu di antara Imam Madzhab yang terkenal, memiliki hafalan satu juta hadits, dan kefaqihannya diakui sendiri oleh gurunya, Imam Asy-Syafi’i. Di mana beliau mengatakan. “Aku tinggalkan Baghdad, dan aku tidak melihat di sana ada orang yang lebih faqih dari Ahmad bin Hambal.” Tahukah Anda, ada apa dibalik kesuksesan Imam Ahmad? Putera beliau yang bernama Abdullah bin Ahmad berkata, “Saya tidak melihat ayah, kecuali dalam keadaan tersenyum kepada orang lain, atau membaca buku dan menelaahnya.”

Karakter yang hampir sama dimiliki oleh ulama terkenal Al-Khathib al-Baghdadi RA. Salah seorang muridnya mengatakan, “Saya tidak melihat Al-Khathib, kecuali di tangannya ada buku yang dibacanya.”

Jika Anda mendapatkan para pecandu rokok selalu mengisi sakunya dengan rokok, maka akan Anda dapatkan seorang pecinta ilmu, kemanapun ia pergi, buku selalu menyertai dia. Semboyan mereka adalah

خَيْرُ جَلِيْسٍ فِيْ الزَمَانِ كِتَابٌ

“Sebaik-baik teman di segala kondisi adalah buku.”

Cukuplah kisah-kisah tersebut menjadi motivasi kita untuk mencintai buku. Karena buku adalah nutrisi akal. Buku adalah jendela ilmu, sedangkan orang berilmu diangkat derajatnya oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya,

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Jika bisa menjadi mukmin yang alim, tidak selayaknya kita memilih menjadi mukmin yang minim. (majalah ar-risalah 78)