Memandu dengan ilmu

Berharap Ampunan dan Takut Akan Siksaan

Berharap Ampunan dan Takut Akan Siksaan

0

Berharap Ampunan dan Takut Akan Siksaan

 

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (49) وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49-50)

Suatu kali datanglah orang yang sudah tua renta kepada Nabi. Kedua alisnya telah melorot, nyaris menutupi kedua matanya, sementara  telapak tangannya memegang erat tongkat penyangganya. Ketika telah berada di hadapan Rasulullah ia pun bertanya, “Bagaimana pendapat anda tentang seseorang yang pernah melakukan dosa apa saja tanpa sisa, tiada dosa besar maupun kecil kecuali ia telah mendatanginya. Dalam riwayat lain, “Kecuali ia telah memetiknya dengan tangan kanannya, yang seandainya dosa itu dibagi ke penduduk bumi, niscaya cukup untuk membinasakan  mereka.” Apakah masih terbuka peluang baginya untuk bertaubat?” Nabi balik bertanya, “Apakah anda masuk Islam?” Orang itu menjawab, “Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah, dan bahwa anda adalah utusan Allah.” Nabi bersabda, “Hendaknya engkau melakukan kebaikan-kebaikan, dan meninggalkan keburukan-keburukan, niscaya Allah akan menghitung semua yang kamu kerjakan sebagai kebaikan.” (HR. Thabrani, al-Mundziri mengatakan, “Sanadnya baik.”)

Orang itu bertanya, “Termasuk pengkhianatan dan dosaku?” beliau menjawab, “Ya.” Orang itu pergi sembari bergumam, Allahu Akbar… Allahu Akbar…!” hingga tak tampak pandangan mata.

 

Berharap Ampunan dan Kasih Sayang Allah

Allah tak hanya Maha Pengampun, kasih sayang Allah kepada Hamba-Nya juga terbukti, hingga orang yang berbuat dosa tidak langsung dicatat, tapi ditangguhkan hingga enam saat. Rasulullah saw bersabda,

إِنَّ صَاحِبَ الشِّمَالِ لِيَرْفَعُ القَلَمَ سِتَّ سَاعَاتٍ عَنِ العَبْدِ المُسْلِمِ المُخْطِئِ، فَإِنْ نَدِمَ وَاسْتَغْفَرَ اللهَ مِنْهَا أَلْقَاهَا وَإِلاَّ كُتِبَتْ وَاحِدَةً

Sesungguhya malaikat pencatat keburukan mengangkat pena selama enam saat atas seorang hamba yang melakukan dosa dan keburukan. Jika ia menyesal dan memohon ampun, niscaya malaikat mengurungkannya, namun jika tidak, baru dicatat dengan satu dosa.” (HR. Thabrani, al-Albani menyatakan haditsnya hasan)

Berbeda dengan kebaikan. Ketika seseorang baru berniat melakukannya, ia telah mendapat satu kebaikan, meksipun belum mengerjakannya. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَعَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا إِلىَ سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ

“Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan, maka ditulis baginya satu kebaikan. Dan barangsiapa yang bertekad melakukan kebaikan lalu mengamalkannya, mak ditulis baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat.” (HR. Muslim)

 

Bila Ampunan Disalah artikan

Allah memang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Hanya saja, terkadang ada yang salah dalam menyikapi sifat Allah ini. Dengan alasan husnuzhan terhadap pengampunan Allah, ada yang sengaja melanggar perintah-Nya, bergumul dengan dosa. Toh, Allah akan mengampuninya. Inilah karakter orang yang terpedaya. Tidak bisa membedakan antara husnuzhan dengan maghrur (terpedaya). Orang yang mengklaim berprasangka baik lalu menyengaja mengundang murka adalah pembangkang. Jika ada anak yang mengetahui bapaknya seorang penyabar, lalu dengan seenaknya ia menyakiti ayahnya dan membangkang dari perintahnya, maka tentu ia dihukumi sebagai anak durhaka.

Allah Maha Pengasih, Allah Maka Penyayang, tapi jika dengan alasan ini seseorang menyegaja berbuat dosa, ia telah durhaka kepada Allah. Ia tidak sedang husnuzhan, tapi maghrur, terpedaya. Seperti yang dikatakan oleh Ibnul Qayim rahimahullah, bahwa husnuzhan adalah husnul amal. Prasangka yang baik terbukti dengan tindakan yang baik.

Karenanya, setelah Allah menyebutkan sifat-Nya yang Maha Pengampun dan Penyayang, Allah menyebutkan sifatnya yang lain seperti pegimbang, “Sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang pedih.” Agar manusia tidak gegabah dalam menyikapi ampunan dan kasih sayang Allah. Allah menyeru hamba-Nya untuk senantiasa berharap kepada Allah, namun juga agar mereka takut akan siksa-Nya jika manusia membangkang.

 

Takut dan Harap, Mana Lebih Utama?

Jika Allah menyerukan kepada hamba-Nya untuk berharap kepada-Nya (raja’), juga agar  takut kepada-Nya, lalu manakah yang lebih  utama antara keduanya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan ilustrasi menarik tentang khauf dan raja’. Beliau berkata, “Barangsiapa yang bertanya, mana yang lebih utama antara takut dan harap, ia seperti bertanya, mana yang lebih utama antara roti dan air (makanan atau minuman -red).”

Begitulah gambaran khauf dan raja’. Ada kalanya seseorang tergiur untuk melakukan suatu kemaksiatan. Saat itu, yang perlu dihadirkan adalah khauf (takut). Karena jika yang dihadirkan adalah raja’, tentu ia akan terjerumus ke dalam dosa. Tapi jika datang kepada kita seseorang yang ingin bertaubat dari dosa-dosa, lalu bertanya tentang peluang untuk bertaubat, maka perlu dimotivasi dengan raja’, harapan kepada Allah, sebab jika kita menakut-nakuti, besar kemungkinan ia akan berputus asa.

Lalu kapan rasa harap dan takut dihadirkan bersamaan? Yakni dalam kondisi standar, ketika kita sedang berdoa dan beramal shalih secara umum. Allah berfirman yang artinya,

“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Alangkah indah perumpamaan yang digambarkan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah bahwa perjalanan hamba menuju Allah itu laksana seekor burung, di mana mahabbah (rasa cinta) itu sebagai kepala yang memandu tujuan, lalu khauf dan raja’nya sebagai kedua sayapnya. Terkadang kedua sayap mengepak secara bersamaan, terkadang cukup satu di antara keduanya. Wallahu a’lam.

Sumber: majalah ar risalah edisi 88