Memandu dengan ilmu

Berpegang Teguh dengan Tali Allah

0

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa ashhabihi wa man walahu.

Ikhwani fiddien barakakallahu fikum.

Salah satu nasehat yang Allah peruntukkan bagi hambanya adalah terdapat dalam surat Ali Imran ayat 102-103, hal mana Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. [QS. Ali ‘Imran: 102 – 103]

Dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala ingin menyampaikan dua hal penting, yaitu agar orang-orang beriman bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa. Ibnu Mas’ud menjelaskan bahwa makna “Haqqatuqatihi.” (taqwa dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya) adalah:

أن يُطاع فلا يُعصى، ويُذكر فلا ينسى، ويشكر فلا يكفر.

“Hendaknya Allah ditaati dan tidak dimaksiati, hendaknya diingat dan jangan dilupakan dan hendaknya disyukuri dan tidak dikufuri.” (Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya`: 7/238-239)

Inilah tiga poin utama agar seorang muslim dapat bertaqwa kepada Rabbnya dengan sebenar-benar ketaqwaan.

Salah satu cara untuk meninggkatkan nilai ketaqwaan, maka Allah memerintahkan kepada hambanya agar senantiasa berpegang teguh terhadap tali Allah yaitu mengikuti dien yang diridhai Allah, mengikuti syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw. Hal ini harus dijalani dan diikuti agar hidupnya terarah. Segala hal yang diperintahkan ditaati dan segala hal yang dilarang ditinggalkan.

Berpedoman terhadap syariat Allah merupakan pedoman mutlak yang harus diikuti oleh setiap muslim, sebagai way of life (pedoman hidup) bagi dirinya. Oleh karena itu ketika seseorang meninggalkan dien Islam dan syariatnya sebagai pedoman hidupnya, maka ia telah mengekor kepada keinginan hawa nafsu sedangkan hawa nafsu akan senantiasa menggiring manusia kepada sikap perpecahan. Sehingga Allah menesehatkan “wala tafarraqu…” (janganlah kalian berpecah-belah).

Karena perpecahan hanya akan menjauhkan seseorang dari Allah dan petunjuknya yaitu agama Islam, maka dapat menjadi ukuran ketika pada tubuh kaum muslimin terjadi perpecahan maka dapat dipastikan mereka sedang terpenjara dalam sikap mengikuti hawa nafsu atau karena mengikuti pengaruh syaitan.

Ikhwani fidien barakallahu fikum

Sehingga dari sini pentinnya kita untuk berpegang teguh terhadap tali Allah dan tidak berpecah belah, karena seharusnya kandungan kalimat tauhid akan melahirkan tauhidul kalimah (persatuan), ketika seorang muslim telah berikrar dengan kalimat syahadat “Laa Ilaha Illallah, muhammadar rasulullah.” maka ia harus pula menegakkan kalimat itu di muka bumi tentunya dilakukan dengan cara menyatukan umat.

Para ulama menegaskan bahwa kewajiban kaum muslimin setelah tulus mengikrarkan kalimat tauhid, maka kewajiban selanjutnya adalah menyatukan umat agar mereka bersatu dan menyatukan barisan umat Islam agar mereka tidak mudah dipecah belah oleh musuh-musuh Islam yang menginginkan terjadinya perpecahan di tubuh kaum muslimin. Ketika musuh mampu memecah belah barisan kaum muslimin, maka ini adalah titik kelemahan yang mereka dapatkan.

Seorang muslim tentunya tidak rela ketika kemurnian ajaran tauhid ini dinodai oleh musuh-musuh Islam, diselewengkan oleh orang-orang yang belebihan, dipalsukan oleh orang-orang yang menyimpang dan ditafsirkan sesuai keinginan orang-orang yang jahil (bodoh). Oleh karena itu untuk menangkal potensi-potensi yang berupaya merusak kemurnian ajaran kalimat tauhid, maka wajib bagi kaum muslimin berupaya bersama dan bersatu agar hal ini tidak terjadi.

Upaya untuk menangkal hal-hal di atas tidak akan wujud ketika kaum muslimin berpecah belah, satu sama lain tidak saling mendukung, maka Allah menegaskan dalam ayat-Nya “Wadzkuru ni’matallahi alaikum idz kuntum a’daa…” (dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah,)

Ketauhilah bahwa batas minimal persatuan dan persaudaraan ini adaah adanya sifat salamatus shadr, yaitu sikap tidak membenci, mendengki atau memusuhi sesama muslim justru yang terjadi adalah rasa cinta, rasa kasih dan rasa perhatian sehingga hasilnya kita menjadi satu kesatuan.

Adapun poin yang paling utama adalah tumbuhnya sifat Al Itsar yaitu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi. Sehingga ketika terjadi pertentangan antara kebutuhan kita secara pribadi dan kebutuhan umat secar umum, maka kita mendahulukan kebutuhan umat. Sehingga dengan ini Allah menyelamatkan kita di kehidupan dunia dan akhirat.

Semoga dengan kita berpegang teguh dengan tali Allah dengan memperkuat tali persaudaraan, kalimat tauhid ini tegak di muka bumi. Semoga nasehat ini dapat menambah kekuatan pad hati kaum muslimin dan kita senantiasa memohon kepada Allah agar kita dikuatkan dalam membela dien dan kaum muslimin. Wallahu a’lam.