Memandu dengan ilmu

Berqurban Untuk Orang Yang Telah Meninggal

0

Pertanyaan

Assalamualaikum saya punya dua pertanyaan, pertama, Bagaimana hukumnya qurban yang diniatkan untuk orang tua yang sudah meninggal Ustadz?  Mohon pencerahanya Sukron.

Kedua, Kalau dari timbangan syar’i yang dikatakan mampu berqurban yang bagaimana? adakah ukuran yang jelas tentang hal itu ustadz?? mohon maaf bila ada salah, syukron.

Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Alhamdulillah was shalaatu wassalaamu ‘ala rasulillah.
Berqurban yang diniatkan untuk orang yang telah meninggal ada tiga bentuknya;
1. Meniatkan berqurban untuk orang yang telah meninggal bersama orang yg masih hidup, Contohnya pak shalih meniatkan berqurban untuk anak dan istri yang masih hidup sekaligus untuk orang tuanya yang telah meninggal. maka ini hukumnya boleh.
2. Meniatkan berqurban untuk orang yang telah meninggal karena wasiat darinya, maka ini hukumnya wajib untuk dilaksanakan.

Dalilnya adalah hadits dari sahabat Sa’ad bin Ubadah ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dan dia masih memiliki tanggungan nadzar namun tidak sempat berwasiat.” Maka Rasulullah saw bersabda, “Tunaikanlah untuknya.” (HR. Abu Daud)
3. Meniatkan berqurban untuk orang yang telah meninggal sebagai shadaqah terpisah dari yang masih hidup (bukan wasiat dan tidak ikut yang hidup) maka inipun dibolehkan.

Para ulama Hanabilah (yang mengikuti madzhab Imam Ahmad) menegaskan bahwa pahalanya sampai ke mayit dan bermanfaat baginya dengan menganalogikannya kepada shadaqah.

Ibnu Taimiyyah berkata :

“Diperbolehkan menyembelih kurban bagi orang yang sudah meninggal sebagaimana diperolehkan haji dan shadaqah untuk orang yang sudah meninggal. Menyembelihnya di rumah dan tidak disembelih kurban dan yang lainnya di kuburan.”

Akan tetapi, saya tidak memandang benarnya pengkhususan kurban untuk orang yang sudah
meninggal sebagai sunnah, sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi was al sallam tidak pernah mengkhususkan menyembelih untuk seorang yang telah meninggal. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyembelih  qurban untuk Hamzah, pamannya, padahal Hamzah
merupakan kerabatnya yang paling dekat dan dicintainya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pula menyembelih kurban untuk anak-anaknya yang meninggal dimasa hidup beliau, yaitu tiga wanita yangtelah bersuami dan tiga putra yang masih kecil. Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak menyembelih qurban untuk istrinya, Khadijah, padahal ia merupakan
istri tercintanya. Demikian juga, tidak ada berita jika para sahabat menyembelih kurban bagi salah seorang yang telah meninggal.

Adapun untuk ukuran syar’i seseorang muslim dikatakan memiliki si’ah (keluasa harta) yang dengannya ia dianjurkan untuk berqurban adalah manakakala ia memiliki harta yang lebih dari nafkah pokok untuk diri dan keluarganya, atau hartanya telah melebihi nishob zakat atau hartanya bisa membayar harga Hewan qurban. Inilah tiga ukuran yang dengannya seseorang dikatakan memiliki kemampuan berqurban. wallahu a’lam.