Bila Manisnya Telah Dirasa

0

 

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapat manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karna Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila di lempar ke neraka.” (HR. Bukhari)

 

Manisnya Dunia Pahitnya Akhirat

Rasulullah saw mengumpamakan iman dengan suatu yang manis. Di kesempatan lain Rasulullah saw juga mengumpamakan dunia itu manis.

“Sesungguhnya dunia itu manis. Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepadamu sekalian. Kemudian Allah menunggu (memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu). Karena itu dakutilah dunia dan takutilah wanita, sesungguhnya sumber bencana Bani Isarail adalah wanita.” (HR. Muslim)

Maka siapa saja yang bisa merasakan sesuatu itu manis ia akan tamak dan tak mau berbagi. Namun manisnya dunia yang dikecap sesungguhnya adalah pahitnya akhirat. Bahkan Rasulullah saw memperingatkan kita, meski dunia itu manis takutilah ia, bukan malah merasakan kelezatannya. Dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (13/537) disebutkan perkataan Imam Thawus yang berkata, “Manisnya dunia adalah pahitnya Akhirat, dan pahitnya dunia adalah manisnya akhirat.”

 

Bertahan Dan Tak Mau Melepaskannya

Orang yang sedang menikmati manisnya sesuatu tentu tak akan melakukannya hal-hal yang dapat merusak kelezatannya. Ia akan mempertahankan dan tidak mau menambahi dengan sesuatu yang dapat mengurangi kelezatannya.

Begitulah keimanan bila sudah dirasa manisnya, ia akan dipertahankan dan tak mau dilepaskannya. Bahkan bila dunia pergi semua dan ia pertaruhkan satu-satunya jiwa yang dimilikinya untuk mempertahankan keimanan, maka ia akan melakukannya.

Ketika Nabi Syu’aib beserta pengikutnya hendak diusir kaumnya dan diminta kembali kepada agama mereka, Nabi Syu’aib berkata, “Kendatipun kami tidak menyukainya (pahit dirasa), sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang benar terhadap Allah jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami dari itu. Tidaklah kami patut kembali kepadanya.” (QS Al A’raf: 88-89)

Inilah bentuk kikir dalam agama, tidak mau melepaskannya tetap mempertahankannya meski nyawa taruhannya. Disebut dalam Mushannaf Abdurrazzak (11/234), disebutkan nama bilal di majelis Sa’id bin Musayyab, maka beliau berkata, kaana syahiihan ‘ala dinihi, ia sangatlah kikir terhadap agamanya. Beliau mendapatkan siksaan dijalan Allah, tidaklah seorang musyrik mendekatkan kepadanya kecuali ia berkata, Allah…Allah…

 

Tulus Mencintai Muslim Karena Allah Bukan Kerena Dunianya

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw, “Pada suatu ketika ada seorang lelaki yang mengunjungi saudaranya di desa lain. Kemudian Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menemui orang tersebut. Ketika orang itu di tengah perjalanannya ke desa yang di tuju, maka malaikat tersebut bertanya, ‘Hendak pergi kemana kamu?’ orang itu menjawab, ‘Saya akan menjenguk saudara saya yang berada di desa lain.’ Malaikat itu terus bertanya kepadanya, ‘Apakah kamu mempunyai satu perkaya yang menguntungkan dengannya?’ laki-laki itu menjawab, ‘Tidak, saya hanya mencintainya karna Allah Azza wa jalla.’ Akhirnya malaikat itu berkata; ‘sesungguhnya aku ini adalah malaikat utusan yang diutus untuk memberitahukan kepadamu bahwasannya Allah akan senantiasa mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah.” (HR. Muslim)

 

Tanda Seseorang Cinta Kepada Allah

Jika benar kita cinta kepada Allah maka pasti kita cinta untuk berjihad di jalan-nya, lemah lembut kepada sesame mukmin dan keras terhadap orang kafir serta tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Allah Ta’ala berfirman mensifati mukmin yang lebih memilih merasakan manisnya iman daripada manisnya dunia.

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS. Al-Maidah: 54).

 

Tanda Seseorang Cinta Kepada Rasulullah

Aisyah berkata, “Seseorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesengguhnya engkau lebih aku cinta daripada diriku dan anakku sendiri, ketika aku berada di rumah, aku teringat akan dirimu, aku tidak kuat menahan perasaan itu maka akupun datang kepadamu hingga aku bisa melihatmu. Jika aku teringat akan kematianku dan juga kematianmu, maka aku mengetahui bahwa engkau masuk surge dan diangkat bersama para Nabi lainnya, aku khawatir jika aku tidak dapat melihat dirimu lagi.” Belum sempat Nabi menjawabnya, Malaikat Jibril turun dengan membawa wahyu, “Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul nya, mereka itu akan bersama sama dengan orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu; para Nabi, para shiddiqqiin, oramh-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh, mereka itu lah teman yang sebaik-baiknya.” (HR. Thabrani)