Cahaya Islam Di Pulau Permaan NTT

Pulau Permaan adalah salah satu pulau di kabupaten Sikka, Maumere, provisnsi Nusa Tenggara Timur

0

Pulau Permaan adalah salah satu pulau di kabupaten Sikka, Maumere, provisnsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Permaan adalah nama lain dari parumaan dalam bahasa bajo. Pulau ini terletak ditengah laut yang kelilingi beberapa pulau kecil disekitarnya. Jarak pulau Permaan dengan kota Maumere kurang lebih 6 km. Atau bisa ditempuh dalam waktu 2 jam menggunakan motor laut /perahu.

Penduduk pulau Permaan mayoritas adalah suku bajo, nenek moyang mereka berasal dari Sulawesi Tengah yang sudah menduduki pulau tersebut secara turun temurun sejak abad ke 18. penduduknya 100% penganut agama islam yang kuat. Jantung perekonomian suku bajo adalah nelayan. Toleransi dan kemasyarakatannyapun sangat kuat disana. Rumah-rumah disini hampir semuanya rumah panggung dengan tinggi kolongnya 120 cm, dan dinding dindingya menggukan “halartede” semacam bambu panjang yang dibelah melebar, dan beratapkan seng, sangat jauh dari kata mewah.

Dari dulu pulau ini telah terbagi menjadi : kampung timur dan kampung barat tapi masih dalam 1 desa. Keindahan lautnya sangat mempesona, menakjubkan karena disana banyak terdapat taka ( laut dangkal) yang menampilkan keindahan terumbu karang, Bahkan ketika passang , lautnya akan menampilkan hamparan pasir putih membentang sepanjang 1 km.

Penduduknya berjumlah kira kira 1200 an jiwa, 100% muslim. Islam yang cukup kuat, terdapat 2 masjid yang lumayan besar dipulai ini, dikampung sisi timur, dan kampung sisi barat. Keduanya, ketika bulan ramdhan masjid maajid ini selalu padat dikunjungi terisi jamaah, dari yang tua hingga muda, terlebih ketika shalat tarwih, biasa sampai bludak ke teras luar.

Belum ada listrik dipulau ini, penerangan dan keperluan elektonik lainnya menggunakan pembangkit listrik tenaga surya yang hanya dipergunakan dimalam hari saja,beberapa menggunakan genset, listrik disini hanya digunakan sebatas untuk penerangan saja, yang biasanya jam 22.00 sudah dimatikan. Selain itu listrik juga digunakan untuk mengisi ulang HP, sangat jarang yang menggunakannya untuk elektronik, atau alat eletrik lainya, seperti tv, kulkas apalagi mesin cuci kcuali segelintir orang saja yang berekonomi diatas. Berbagai macam pekerjaan harian atau pekerjaan rumah tanggapun masih dikerjakan secara tradisional.

Majelis Dakwah Islam Indonesia dengan program tahunannya SAHDAN pada Ramadhan 1440 telah mengirimkan 85 dai ke berbagai penjuru provinsi Indonesia salah satunya adalah di Maumere, NTT.

Begitu kami datang menyapa jamaah disana kami disambut antusias, kabarnya dari salah satu pendamping dan penanggung jawab kami disini, masjid di pulau ini tidak ada kegiatan kajian setelah tarwih dan kegiatan keIslaman. Dan alhamdulillah adanya dai sahdan sangat menambah pencerahan bagi mereka, sekaligus motivasi iman bagi mereka, yang sangat jarang diupgrade.

Jamaah sangat berterima kasih kepada Madina dan sangat berharap kedepannya kelak ada dai yang bersedia menetap disana. Sebenarnya disana sudah ada panti milik sebuah lembaga, tapi santrinya sudah kembali kerumah masing masih sejak ustadz pengampunya nya tidak lagi menetap disana.

Ketika kami akan pulang kami distop salah satu warga untuk dipersilahkan makan malam, “Tidak boleh pulang kalau belum dihabiskan”, tukas sang tuan rumah dengan canda. Berbagai masakan ikan dihidangkannya, dari ikan goreng, ikan kuah asam hingga ikan bakar. Menu utama makanan masyarakat adalah ikan. Akhirnya, tanpa pikir pabjang, rizki jangan ditolak, kamipun menyantap hidangan yang tengah disajikan tuan rumah tesebut. kami langsung berpamitan, karna ketua rombongan sudah menunggu di perahu.

LENTERA QURAN DARI PULAU PEMANAAN

Hingga kami naik diatas perahu, dan mulai berselancar. Tadarus dipulau ini menggunakan speaker luar, beda dengan kota Maumere, yang hanya menggubakan suara dalam. Gema tilawah Quran masih terdengarkan, suara yang nyaring dengan irama yang khas menghiasi langit dipulau itu.

Masih banyak diantara mereka yang awam dengan beberapa keindahan ajaran islam. Namun kemampuan membaca alquran adalah ilmu wajib, yang telah mereka pelajari sejak kecil. Sehingga tidak heran hampir semua anak anak disini, sudah mahir baca quran, tak hanya itu, anak anak juga diberi kelebihan suara yang nyaring dan nafas panjang tak lupa disertai irama yang khas. Sebuah rutinitas Selepas shalat tarwih mereka buat lingkaran kecil melaksanakn tadarus quran, menggunakan pengeras luar yang bisa terdengar hingga penjuru pulau. Keindahan lantunan quran menyebar hingga ke sudut sudut pemukiman. Allahu akbar..

Atas inisatifnya sendiri ada seorang anak yatim piatu yang sangat ingin sekali mondok dijawa, ingin ke pondok tahfidz katanya. Tapi itu tentu bukan hal yang mudah melihat statusnya kini dan ekonomi yang terbatas.

Pulau Permaan adalah salah satu dari sekian banyak Pulau Muslim di Indonesia. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah jarang nya bahkan tidak adanya Dai ataupun Ustadz yang datang menyapa mereka. Maka pengiriman Dai oleh Madina ini merupakan sebuah solusi nyata. Iya solusi nyata, untuk menjaga “Dakwah” di setiap jengkal “Tanah”.

14 Mei 2019 M / 9 Ramadhan 1440 H
(Ustadz Muhammad Yunus, Dai SAHDAN Maumere)