Cara Mengetahui Darah Haid

0

Salah satu hal yang paling penting bagi seorang wanita adalah mengetahui darah kebiasaan yang keluar dari tubuh agar tidak terjadi kekeliruan dalam memperlakukan serta menyikapinya.

Darah yang keluar dari farj (kemaluan) wanita ada 3 jenis, yaitu ; darah Haid (darah yang keluar dalam keadaan sehat , darah istihadhoh (darah yang keluar dalam keadaan sakit ), darah Nifas (darah yang keluar karena melahirkan). Ketiga jenis darah tersebut berbeda antara satu dengan lainnya. Dalam makalah ini akan hanya memamparkan seputar darah haid.

Secara bahasa, haid berarti sesuatu yang mengalir. Dan secara syar’i ialah darah yang terjadi pada wanita secara alami (atau sesuai dengan karateristiknya adalah darah yang keluar dari pangkal Rahim wanita), bukan karena suatu sebab, dan pada waktu-waktu tertentu. Maka dari itu haid adalah darah normal, bukan darah yang disebabkan oleh suatu penyakit, luka, keguguran dan maupun kelahiran. Oleh karena haid adalah darah normal maka darah tersebut berbeda sesuai kondisi masing-masing wanita, lingkungan dan iklimnya, sehingga terjadi perbedaan yang nyata pada setiap wanita. [Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Risalah Fi Ad-Dima At-Thabi’iyah Linnisa, hal. 4]

Ada beberapa cara untuk mengetahui darah haid, yaitu dengan melihat dan memperhatikan  beberapa keadaan dan bentuknya, yang akan di jelaskan di bawah ini.

 

Umur Seorang Wanita Mengalami Haid

Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak ada batasan umur bagi wanita untuk tidak mendapatkan haid. Selama masih hidup maka haid pun mungkin terjadi. Namun pada umumnya bila telah mencapai umur enam puluh dua tahun.

Imam Ad-Darimi, setelah menyebutkan pendapat-pendapat dalam masalah ini, beliau mengatakan, “Yang menjadi acuan adalah keberadaan darah. Seberapa pun adanya, dalam kondisi bagaimana pun, dan pada usia berapa pun, darah tersebut wajib dihukumi sebagai darah haid. Dan  hanya Allah yang Maha Tahu.” [An-Nawawi, Al-Majmu’Syrhul Muhadzdzab, jus: 1, hal. 486]

 

Warna dan Sifat Darah Haid

Para ulama telah menyebutkan beberapa warna darah haid, di antaranya ulama Hanafiyah menyebutkan bahwa warna darah haid itu ada lima macam, yaitu; hitam, keruh, kehijauan, dan at-turbiyah (abu-abu seperti warna tanah) . Sedangkan ulama Syafi’iyah menyebutkan warna darah haid sesuai dengan kepekatan, yaitu; hitam, kemudian kuning, merah kekuning-kuningan (dalam pendapat Hanafiyah disebut dengan at-turbiyah), kuning, dan keruh. Beberapa warna yang disebutkan di atas adalah warna pada umumnya yang terjadi pada umumnya pada wanita. [DR. Wahbah Az-Zuhaily, Fiqhul Islam Wa Adillatuhu, jus: 1, hal. 458]

 

Waktu Lamanya Haid

Sebagian berpendapat bahwa minimal masa haid adalah tiga hari tiga malam, adapun kurang dari pada itu maka dianggap darah istihadoh, sebagaimana pendapat ulama hanafiyah. Namun sebagian lainnya berpendapat bahwa haid tidak mempunyai batas minimal, artinya dapat disebut darah haid meskipun  keluar dalam sekejap saja. Sebagian lainnya berpendapat bahwa batas maksimal haid adalah lima belas hari. Dikembalikan kepada kebiasaan wanita dan keadaanya.

Beberapa pendapat tersebut tidaklah bertentangan, sebab untuk mengetahui darah haid pada umumnya wanita dibagi menjadi dua; wanita yang baru mendapati darah haid, dan wanita yang sudah memiliki hari-hari kebiasaan haid. Bagi wanita yang baru pertama kali mendapati haid pada dirinya, maka dimana ia mendapati darah haid hendaknya tidak melaksanakan shalat meskipun hanya sekejap. Namun kebiasaan haid maka dikembalikan pada kebiasaan yang sudah ada dalam keadaan normal. [Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid, jus: 1, hal. 116-117]

 

Kebiasaan Wanita

Dalam hal ini, Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa apabila darah terus mengalir lebih dari hari kebiasaan haid maka darah tersebut dianggap istihadoh, bedasarkan sabda Nabi SAW untuk Fatimah binti Abi Hubais, “Jika engkau mendapati haid maka janganlah menjalankan shalat, jika masa kebiasaanya telah berlalu bersihkanlah (mandi) dirimu dari darah tersebut dan laksanakanlah shalat.” (HR. al-Bukhari)

Seorang wanita yang sudah memiliki kebiasaan haid pada setiap bulanya, dan ragu menentukan antara darah haid atau darah istihadhoh, maka ia dihukumi sebagai wanita mustahadhoh. Adapun untuk wanita yang baru pertama kali mendapati darah haid, maka hendaknya ia meninggalkan shalat ketika mendapati darah sampai maksimal lima belas hari, adapun selebihnya maka dianggap sebagai istihadhoh. [Ibnu Rusyd, Bidayatul Muqtashid, juz: 1, hal. 116-117] Wallahu a’lam.

sumber: majalah hujjah edisi 01