Cinta Allah dan Rasul-Nya

0

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكِ   أَنَّ أَعْرَابِيَّا قَالَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَتَى السَاعَةُ ؟ قَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهِ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَا أَعْدَدْتُ لهَاَ ؟ قَالَ حُبُّ اللهِ وَرَسُوْلِهِ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ.

Dari Anas bin Malik bahwa seorang Arab badui datang kepada Nabi saw sambil berkata; Kapankah kiamat? (Beliau saw) menjawab, “Apa yang telah engkau siapkan?” Dia menjawab; “Cinta Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.” Rasulullah saw bersabda: “Kau bersama dengan yang kau cinta.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Akhir Kehidupan Dan Pertanggunganjawaban

Manusia pasti akan mati dan dunia pun pasti akan musnah, namun kita tidak mengetahui kapan waktunya. Termasuk di antara keimanan seseorang muslim adalah menyakini bahwa Allah akan membangkitkan manusia setelah kematian dan Allah akan mengganti bumi ini dengan bumi yang lain. Allah berfirman yang artinya, “(yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang mahsyar) berkumpul menghadap ke hadiran Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS. Ibrahim: 48)

Semuanya akan menghadap kepada Allah, mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan selama di dunia. Maka Rasululah bertanya kepada orang Arab badui yang bertanya tentang kiamat, apa yang telah engkau siapkan?

Pertanyaannya pendek dan singkat, siapkah kita jawabannya?

 

Cinta Allah Dan Rosul-Nya

Orang badui itu pun menjawab (dalam riwayat Muslim yang lain), “Aku tidak mempersiapkan banyak untuk itu yang bisa aku banggakan kecuali hanya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Maka Rasulullah saw pun bersabda, “Kamu akan bersama dengan apa yang kamu cinta”.

Cinta kepada Allah adalah dasar dari keimanan seseorang, bahkan ia bisa merasakan manisnya iman yang ada pada dirinya dengan mendahulukan kecintaannya kepada Allah dari pada kecintaannya kepada selain-Nya. Lebih mencintai Rasulullah dibanding seluruh makhluk yang ada meskipun terhadap diri sendiri, orang tua dan anak.

Rasulullah saw bersabda, “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manis nya iman: dijadikannya Allah dan Rasu-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. jika ia mencintai seseorang dia tidak mencintainya kecuali karena Allah…” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Bagaimana Mencintai Allah?

Menyakini bahwasanya hanya Allah-lah yang layak dipuji dan mendapat pujian, tidak ada sedikitpun kekurangan dari sifat-sifat yang dimilikinya. Setiap nama-nama-Nya merupakan pujian dan kesempurnaan bagi Allah. Ini adalah rukun dalam kecintaan kerena seseorang tidak akan mencintai sesuatu yang tercela dan hina, namun orang akan mencintai yang dipuji dan mulia.

Yakin bahwa Allah selalu berbuat baik kepada para hamba-Nya dan memberikan banyak kenikmatan dan keutamaan, tidak boleh berprasangka bahwa pemberian Allah sedikit dan kewajiban yang diperintahkan banyak. Karena bila prasangkanya salah maka ia hanya akan menumbuhkan kebencian dan menghilangkan kmecintaan, karena tidak mungkin seorang yang dizhalimi akan tumbuh kecintaannya kepada yang menzhaliminya.

Setiap kewajiban adalah kebaikan karena bersumber dari Allah. Allah hendak menberikan kemudahan dan tidak memberatkan hamba-Nya. Ini akan menumbuhkan kenikmatan untuk selalu taat kepada-Nya. Dan ini adalah kecintaan. Kalu saja cintamu benar tentu kamu akan taat dan menurut karena orang yang mencintai sesuatu ia akan patuh kepada sesuatu itu.

Kenikmatan yang selalu meliputi dirinya adalah pemberian Allah, setiap yang diberikan Allah adalah kebaikan bagi dirinya, ini akan membuahkan syukur yang kemudian akan menambahkan kenikmatan kenikmatan lain yang akan diberikan Allah. Dan tentunya seorang akan mencintai kepada yang selalu memberi.

Hendaknya bila kecintaan kepada Allah yang diharapkan, maka harus dihadirkan rasa rindu dan takut bila berpaling dari-Nya serta menjauhkan persangkaan bahwa dirinya merasa tidak perlu Allah. Hal ini bisa terealisasi dengan selalu mengingat Nya, berdzikir pada setiap keadaan tidak hanya dengan lisan tetapi hati pun ikut berdzikir. Karena siapa yang mencintai sesuatu ia akan banyak mengingat dan menyebutnya.

Cinta kepada Allah melazimkan seseorang untuk mencintai Rasulullah saw dengan cara  mengikuti setiap arahan dan petunjuk Nabi Muhammad saw. Dengan selalu mengikuti Rasulullah saw, maka manusia mendapatkan balasan yang tak terkira nilainya, yaitu Allah mencintainya dan mengampuni dosa-dosanya. Allah berfirman:

“Katakanlah, ‘jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscahya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Ali Imran: 31).

Berteman dan membela orang yang mencintai Allah dan dekat dengan Nya, serta memusuhi dan memisahkan diri dari orang yang membenci dan memusuhi Allah. Allah berfirman,

“Katakanlah, ‘jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang k,au sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad dijalan Nya , maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS.At Taubah: 24).

“Kamu tak kan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka…” (QS. Al-Mujadilah: 22).

Panjatkan doa, karena Allah Maha mendengar dan mengijabahi kepada hamba yang meminta kepada-Nya, Rasulullah saw berdoa dan mengajarkan kepada kita lafadz doa supaya kita benar benar mencintai Allah, beliau berdoa:

“Ya Allah, sesungguhnya aku mengharap cinta-Mu, cinta-Nya orang yang mencintai-Mu, cinta pada amalan yang mendekatkanku pada cinta-Mu,” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

 

Sumber: majalah arrisalah edisi 166