Memandu dengan ilmu

Ciri Iman; Menghidupkan Syiar Islam, Memadamkan Syiar Jahiliyah

0

Ciri Iman; Menghidupkan Syiar Islam, Memadamkan Syiar Jahiliyah

 

Keimanan dan ketakwaan memiliki ciri khas sebagaimana kekufuran dan kefasikan memiliki ciri khas. Ciri dan sifat keimanan pasti berbeda dengan ciri dan sifat kekufuran. Salah satu ciri khas keimanan yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an adalah menghidupkan syiar Allah (Islam) dan memadamkan syiar Jahiliyah.

Allah ta’ala berfirman:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu sebagai tanda dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Syaikh Safar Al Hawali menjelaskan makna syiar, beliau berkata:

مَعَالِمُ الظَاهِرَةُ التِيْ جَعَلَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ بَعْضَهَا زَمَانِيًّا، وَجَعَلَ بَعْضَهَا مَكَانِيًّا.

“Simbol-simbol syariat yang zahir (nampak), dimana sebagiannya Allah jadikan berbentuk tempat dan sebagian berbentuk waktu.” (Syaikh Safar Al-Hawali)

Ketika Allah menyebutkan adanya istilah syiar Allah (Islam), hal ini menunjukkan adanya syiar yang tidak termasuk syiar Allah (Islam). Sebagaimana ketika Allah menyebutkan di dalam Al-Qur’an adanya hukum Allah, maka di sana pasti ada yang namanya hukum selain hukum Allah, yaitu hukum jahiliyah.

“…Demikianlah hukum Allah yang ditetapkanNya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Mumtahanah: 10)

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (QS. Al Maidah: 50)

Maka segala bentuk syiar yang tidak bersumber dari Islam maka disebut dengan syiar jahiliyah. Baik itu berasal dari agama apapun maka tetap disebut syiar jahiliyah.

Bila kita memperhatikan satu persatu syariat dalam Islam yang diajarkan Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya, maka kita akan dapatkan adanya semangat melaksanakan hal ini, menghidupkan syiar Allah dan memadamkan syiar jahiliyah. Di antara contohnya adalah:

Pertama, Larangan Menyembelih Hewan di Tempat Kemusyrikan

Salah seorang sahabat Rasulullah, Stabit bin Adh Dhahakh berkata:

نذر رجل أن ينحر إبلاً ببوانة، فسأله النبي صلى الله عليه وسلم فقال: (هل كان فيها وثن من أوثان الجاهلية يعبد)؟ قالوا: لا. قال: (فهل كان فيها عيد من أعيادهم)؟ قالوا: لا. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (أوف بنذرك، فإنه لا وفاء لنذر في معصية الله، ولا فيما لا يملك ابن آدم) [رواه أبو داود، وإسنادها على شرطهما].

“Ada seorang yang bernadzar akan menyembelih seekor unta di Buwanah (nama suatu tempat di sebelah selatan kota Mekkah sebelum Yalamlam, atau anak bukit sebelah Yanbu’) lalu orang itu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi pun balik bertanya, “Apakah di tempat itu pernah ada berhala jahiliyah yang disembah?” Para sahabat menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah di tempat itu pernah dilaksanakan salah satu perayaan hari raya mereka?” Mereka menjawab, “Tidak.” Maka Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penuhilah nadzarmu itu. Akan tetapi tidak boleh memenuhi nadzar yang menyalahi hukum Allah dan nadzar dalam perkara yang bukan milik seseorang.” [HR. Abu Dawud, dan isnadnya menurut persyaratan Bukhori dan Muslim. Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohihul Jami].

Apa tujuan Rasulullah memberikan peringatan agar hewan tidak disembelih di tempat penyembahan berhala dan di tempat dirayakannya hari raya orang jahiliyah? Jawabannya adalah untuk menghapus syiar-syiar jahiliyah. Ketika para sahabat menyembelih hewan di tempat-tempat tersebut, secara tidak langsung hal itu akan menghidupkan kembali syiar Jahiliyah meskipun hewan yang disembelih bukan untuk tujuan kemusyrikan.

 

Kedua, larangan ikut serta dalam hari raya orang musyrik

Dalam sebuah riwayat dari sahabat Anas bin Malik radhyallahu ‘anhu ia berkata:

قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال ما هذان اليومان قالوا كنا نلعب فيهما في الجاهلية فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الأضحى ويوم الفطر

“Di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam baru hijrah ke Madinah, warga Madinah memiliki dua hari raya yang biasanya di hari itu mereka bersenang-senang. Rasulullah bertanya: ‘Perayaan apakah yang dirayakan dalam dua hari ini?’. Warga madinah menjawab: ‘Pada dua hari raya ini, dahulu di masa Jahiliyyah kami biasa merayakannya dengan bersenang-senang’. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Sungguh Allah telah mengganti hari raya kalian dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan ‘Idul Fithri’ ” (HR. Abu Daud, 1134, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud, 1134)

Ketika melihat para sahabat masih melestarikan dan menghidupkan dua hari yang diagungkan di masa jahiliyah, maka Rasulullah tidak menyukai hal ini dan memberi gantinya dengan hari yang lebih mulia.

 

Ketiga, larangan tasyabbuh (menyerupai) orang kafir

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Hikmah di balik larangan tasyabbuh (menyerupai) orang kafir adalah agar kaum muslimin tidak condong dengan syiar orang-orang kafir.

 

Keempat, Sejarah Syariat Adzan

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan proses awal mula turunnya syariat Adzan, di mana beliau berkata,

 

كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلاَةَ، لَيْسَ يُنَادَى لَهَا، فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِى ذَلِكَ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى. وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ. فَقَالَ عُمَرُ أَوَلاَ تَبْعَثُونَ رَجُلاً يُنَادِى بِالصَّلاَةِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ »

“Kaum muslimin dahulu ketika datang di Madinah, mereka berkumpul lalu memperkira-kira waktu sholat, tanpa ada yang menyerunya, lalu mereka berbincang-bincang pada satu hari tentang hal itu. Sebagian mereka berkata, gunakan saja lonceng seperti lonceng yang digunakan oleh Nashrani. Sebagian mereka menyatakan, gunakan saja terompet seperti terompet yang digunakan kaum Yahudi. Lalu ‘Umar berkata, “Bukankah lebih baik dengan mengumandangkan suara untuk memanggil orang shalat.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Bilal bangunlah dan kumandangkanlah azan untuk shalat.”  (HR. Bukhari no. 604 dan Muslim no. 377).

Perhatikan, menggunakan terompet dan lonceng untuk hal yang makruf tetap tidak disukai oleh Rasulullah dan para sahabat, mengapa? Karena hal itu secara tidak langsung akan menghidupkan syiar agama lain.

Inilah beberapa contoh yang menunjukkan betapa Rasulullah dan para sahabat memiliki semangat dan kesadaran untuk senantiasa menghidupkan, mengagungkan, memuliakan, melestarikan syiar-syiar Allah (Islam), tidak hanya itu merekapun memiliki semangat untuk tidak mengagungkan syiar-syiar jahiliyah dan menutup serapat-rapatya agar tidak berkembang.

 

Menyikapi Perayaan Tahun Baru Masehi di Indonesia

Kita sering menyaksikan acara perayaan tahun baru Masehi di Indonesia. Secara umum, acara ini didominasi oleh para pemuda yang meniupkan terompet dan menyalakan kembang api. Jika ditinjau dari kajian Menghidupkan syiar-syiar Allah, Memadamkan syiar-syiar Jahiliyah, dapat dipastikan mengisi perayaan ini dengan meniupkan terompet dan menyalakan kembang api termasuk dalam katagori mehidupkan syiar jahiliyah.

Oleh karena itu, tidak sepatutnya bagi orang beriman untuk ikut serta dalam menghidupkan syiar jahiliyah. Alangkah baiknya jika malam perayaan tahun baru masehi diisi dengan menghidupkan syiar-syiar Islam, seperti shalat jama’ah, menghadiri kajian ilmu Islam dan lainnya. Wallahu a`lam.