Dakwah di Kota Industri Karawang

Karawang sebagai kota metropolitan dengan hiruk pikuk kehidupan khas

0

Madina.or.id – Karawang sebagai kota metropolitan dengan hiruk pikuk kehidupan khas kota metropolitan menjadikan kota ini sebagai destinasi para pencari kerja. Dengan masyarakat yang heterogen menjadikan kota Karawang memiliki interaksi sosial masyarakat yang beragam.

Selain dikenal sebagai kota lumbung padi, kota Karawang adalah salah satu kota industri terbesar di Indonesia. Ada beberapa kawasan industri di Karawang salah satunya yang terbesar adalah Karawang International Industry City (KIIC), kawasan industri yang dikembangkan oleh Sinar Mas Land dan ITOCHU Corporation of Japan diatas tanah seluar 1.400 hektar ini berisi puluhan perusahan multinasional. Maka tidak heran Kota Karawang menjadi salah satu kota dengan pendapatan upah minimum kota (UMK) tertinggi di Indonesia. Untuk tahun 2019 UMK kota Karawang berjumlah Rp. 4.234.000,- mengungguli Bekasi dan Surabaya yang berada pada urutan kedua dan kelima.

Sebagai kota Industri, Karawang memiliki daya tarik tersendiri bagi para pencari kerja. Sehingga mampu menyedot banyak tenaga kerja dari luar daerah. Akan tetapi di balik kemapanan secara finansial, Karawang juga menyimpan beberapa catatan. Salah satunya di tahun 2018 ada 1921 kasus pidana yang terjadi sebagaimana yang disebutkan Kapolres Kota Karawang AKBP Slamet Waloya saat diwawancarai Sindonews Jabar.

Dengan angka kriminalitas yang cukup tinggi, Dakwah akar rumput menjadi penting untuk diperhatikan. Karena dari banyak kasus yang terjadi dengan latar belakang minim pemahaman agama.

Dakwah Lapas

Alhamdulillah, pada kesempatan Safari Ramadhan kali ini kami diberi kesempatan untuk membersamai para warga binaan lembaga pemasyarakatan (Lapas) kelas II Karawang. Yang menarik di Lapas kelas II kota Karawang adalah; terdapat kelas santri bagi para warga binaan Lapas. Sebuah program Lapas dalam pembinaan terhadap para tahanan yang beragama Islam.

Dalam kelas santri tersebut para warga binaan dibimbing dan dididik sebagaimana layaknya para santri di pesantren. Dengan jadwal kegiatan yang cukup padat sejak pagi hingga malam hari. Kegiatannya pun beragam; mulai dari pengajian umum, Tahsin dan Tajwid Al-Quran, hingga kegiatan marawis dan juga buka bersama diadakan di kelas santri tersebut. Tercatat ada 150 warga binaan yang menjadi anggota kelas santri. Mereka adalah warga binaan yang berhasil dipilih dan diseleksi oleh pengurus Lapas untuk bisa direkomendasikan mengikuti program pesantren.

Jika ada istilah “Penjara Suci” maka inilah tempatnya, penjara yang memang diisi oleh para eks-pelaku kriminal yang sedang menata diri dalam kebaikan dan ketaatan. Kita akan melihat sudut-sudut masjid diisi oleh para warga binaan yang sedang berakrab ria dalam lantunan ayat suci. Sebagian yang lain khusyuk dalam zikir panjang sembari memutar tasbih dan sebagian yang lain beristirahat dengan dengkuran yang meramaikan suasana. Suasana Ramadhan di kelas santri benar-benar syahdu.

Selama empat pertemuan mengisi kajian disini, antusias para warga binaan luar biasa. Mereka semangat mengejar ketertinggalan mereka dalam memahami agama Islam. Terlepas dari masa lalu mereka yang kelam, tidak menyurutkan langkah mereka untuk mereguk lebih banyak pengetahuan. Dan dalam satu sesi tanya jawab salah seorang jamaah bertanya, “Ust, apakah kita boleh istigfar lebih dari 500 kali dalam sehari.” Sebuah pertanyaan yang menampar kami secara pribadi. Betapa semangat mereka untuk berbenah benar-benar patut diapresiasi.

Kepala Lapas Bapak Iskandar Irianto juga mengucapkan terima kasih kepada MADINA yang berkenang untuk berbagi ilmu bersama para warga binaan. Harapan beliau, setiap tahun kegiatan serupa bisa terus diadakan di lapas Karawang.

Pesisir Pantai

Jika kita bergeser 30 Km ke arah utara, kita akan mendapati satu tontonan yang cukup kontras. Di balik gemerlap dan sesaknya kota Karawang, masih banyak desa-desa di sekitar pesisir pantai yang hidup jauh dari kata cukup. Para petani yang mengurus sawah sembari menyeruput teh manisnya dan mesjid-mesjid yang sepi jam’ah.

Para dai sangat dibutuhkan disini untuk mengajarkan penduduk sekitar untuk belajar al-Quran dan tata cara sholat yang benar. Dan alhamduillah kami berkesempatan untuk menyambangi salah satu desa pesisir di kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang. Kami bekerjasama dengan YADISKA (Yayasan Dakwah Islam dan Sosial Karawang) dan komunitas RELA BAIK, sebuah komunitas yang bergerak di bidang sosial dan keagamaan yang aktif dalam melakukan kegiatan sosial masyarakat. Adapun event yang diselenggarakan adalah santunan anak yatim dan pesantren Ramadhan.

Masyarakat dan anak-anak menyambut kegiatan tersebut dengan antusias dan semangat. Meskipun kegiatan di mulai dari pagi hingga maghrib, anak-anak tetap mengikuti kegiatan pesantren Ramadhan dengan baik dan tertib hingga akhir acara.

Para pengurus YADISKA berharap tahun depan MADINA mengirimkan dai sebagai follow up dari berbagai kegiatan sosial yang sudah dilaksanakan disana. Karena masyarakat membutuhkan para dai yang bisa mengenalkan mereka lebih dalam tentang Islam.

Ustadz Fadjar Jaganegara.
(Dai Sahdan yang ditugaskan berdakwah di Kota Karawang)