Dakwah: Mencari Kawan Atau Mencari Lawan?

0

Dakwah: Mencari Kawan Atau Mencari Lawan?

Dalam sebuah kesempatan, seorang dai sedang berapi api menyampaikan materinya. Saking semangatnya, banyak kalimat yang tidak dia edit sebelumnya. Meluncur deras begitu saja. Tanpa peduli siapa jamaahnya. Respon pun bermunculan. Sesama hadirin saling menatap satu dengan yang lain. “Lho kok isinya seperti ini?”

Padahal sang dai baru beberapa pekan tinggal di pemukiman itu. Tapi tanpa survey tanpa tanya, segala materi dia sampaikan apa adanya. Lugas dan tanpa basa basi. Kontan saja penolakan terjadi. Minimal sang dai tidak diundang lagi, atau dia bahkan bisa saja diusir dari pemukiman itu.

Fenomena semacam itu acapkali terjadi di masyarakat kita. Orang menolak dakwah yang disampaikan. Pilihannya ada dua, satu kesalahan pada si penyampai. Yang kedua karena memang masyarakat belum atau tidak siap dengan materi yang disampaikan.

Penyampai dakwah tidak melihat dengan siapa dia berbicara. Tahap pemahaman agamanya bagaimana, apa latar belakang organisasi mereka dan lain lain. Ia hanya melihat bahwa ia harus menyampaikan.

Tanpa memahami bagaimana sikap atau kesiapan obyek dakwah dalam merespon dakwahnya.

Kemungkinan kedua, adalah penerima tidak dalam kondisi siap untuk menerima nasihat. Ia susah mendapatkan nasihat dari orang lain. Cenderung dipengaruhi hawa nafsu dan tidak siap untuk berubah. Kondisi ini membuat dia menolak dakwah karena hawa nafsunya.

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi. Seorang laki-laki bertanya:

“Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?) Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, no. 2749. dari ‘Abdulléh bin Mas’ud Radhiyallahu anhu]

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu -hafizhahuliahberkata: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengutus para Rasul kepada manusia, dan memerintahkan mereka dengan dakwah untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya. Namun mayoritas umat mendustakan para rasul. Mereka menolak al-haq yang telah diserukan kepada mereka, yaitu tauhid. Maka akibatnya adalah kehancuran.” (dalam kitab Minhajul-Firqah an-Najiyah)

Maka jika memang dakwah kita masih awal awal, sebaiknya kita memperkuat kekuatan dakwah kita. Yakni dengan mencari kawan dan bukan malah mencari lawan. Kawan kawan yang akan memberikan dukungan dakwah kepada kita. Saling bahu membahu menguatkan dakwah di wilayah tempat tinggal kita.

 

LAWAN TIDAK PERLU DICARI

Sebuah resiko dalam amal shalih adaiat para penentang dan para pembenci. Mereka tidak akan rela jika ada amal shalih yang dilakukan oleh umat Islam. Mereka akan melakukan apa saja untuk menghalangi dakwah. Karena memang sebuah keniscayaan, manakala anda mengibarkan bendera dakwah akan muncul orang orang yang tidak suka dengan dakwah anda.

Lalu apakah anda akan surut? Tentu saja tidak. Maka prioritas dalam dakwah bukan mencari musuh. Sebab tidak perlu dicari musuh akan dengan serta merta menyambut dakwah dengan permusuhan. Sebab mereka berada di jalan yang berbeda dengan jalan yang ditempuh oleh umat ini.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Azza wa Jalla dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). [QS. an-Nahl: 36]

Banyak orang justru merasa bahwa berdakwah berarti mencari musuh. Menyampaikan hal-hal yang dirasa banyak dipertentangkan, dan mengabaikan unsur-unsur yang mendatangkan persatuan. Lalu mereka sibuk dengan mencela saudaranya satu dengan yang lain. Tidak merasa perlu untuk menyusun kekuatan umat, tetapi malah sibuk dengan urusan-urusan yang bisa memperkeruh suasana.

Sehingga seseorang yang seharusnya bukan musuh, malah diposisikan sebagai musuh. Seseorang yang seharusnya dirangkul, malah dipukul. Seseorang yang semestinya diajak kerja dakwah bersama, malah dihajar bersama-sama. lni sebuah kerja dakwah yang kontra-produktif. Sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama.

Maka menjadi penting bagi para dai untuk fokus pada persoalan. Jangan sampai justru malah menambah persoalan-persoalan baru yang tidak perlu ada. Jadikanlah kawan sebagai sebenar benarnya kawan. Diperlakukan sebagai kawan akrab. Diajak bersinergi dalam kebaikan dan dalam dakwah. Sedangkan musuh, jadikanlah ia musuh. Diperlakukan sebagai musuh dan disikapi secara proporsional.

Dakwah adalah bagaimana kita mampu menguatkan sisi kekuatan dan potensi dai. Bukan malah menceraiberaikan sebuah persatuan, dan menghadirkan sebuah perpecahan. Galanglah kekuatan umat. Menuju pada sebuah kemajuan dakwah yang kuat. Bukan malah mendatangkan sebuah persoalan yang akan membuyarkan tujuan.

(arrisalah: 201)