Di Akhirat Istri Bersama Suami Yang Ke Berapa?

0

Di Akhirat Istri Bersama Suami Yang Ke Berapa?

 

Pertanyaan :

Assalamualaikum. Wr. Wb. Afwan ustadz bolehkah saya bertanya dan mohon bantuan dari ustadz.  Begini ustadz,  Jika seseorang wanita ditinggal meninggal oleh suaminya kemudian dia menikah lagi dengan siapakah dia akan bertemu kelak?

Dan jika ust berkenan tolong dipaparkan pula hadistnya yang paling shohih… Jzkmullah

Jawabannya:

Alhamdulillah Wasshalatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa keadaan wanita di dunia itu secara umum ada 6 macam, yaitu:

  1. Meninggal sebelum menikah.
  2. Ditalak suami pertama, dan tidak menikah lagi sampai meninggal.
  3. Menikah dengan laki-laki yang bukan muslim (bukan ahli surga). Seperti contoh, suaminya murtad atau melakukan kesyirikan.
  4. Meniggal lebih dahulu sebelum suaminya.
  5. Ditinggal mati suaminya, dan tidak menikah lagi meninggal.
  6. Ditalak atau ditinggal mati suaminya, kemudian menikah dengan lelaki lainnya.

Untuk wanita macam pertama, kedua, dan ketiga dia akan dinikahkan dengan seorang  lelaki yang menjadi penghuni surga. Dia memiliki sifat yang sempurna, sebagaimana penghuni surga lainnya. Hal ini sesuai hadits:

ما في الجنه أعزب

“Di Surga tidak ada orang  tidak menikah”. (HR. Muslim dan Ahmad).

Untuk wanita macam keempat dan kelima, dia akan dinikahkan dengan suaminya di dunia.

Adapun wanita macam yang keenam yaitu wanita yang ditalak atau ditinggal mati suaminya, kemudian menikah dengan lelaki lain. Para ulama berbeda pendapat:

Pendapat pertama, Wanita tersebut akan bersama suami yang paling mulia akhlaknya saat hidup bersamanya di dunia.

Ini pendapat Imam Al Qurtubi. Beliau menyebutkan satu riwayat dari Anas bin Malik Radhiyallohu Anhu, bahwa Ummu Habibah istri Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata: Wahai Rasulullah seorang wanita memiliki dua suami saat di dunia, kemudian mereka semua meniggal dan berkumpul di surga. Wanita tersebut akan menjadi milik siapa dari keduanya? Yang pertama atau terakhir? Rasululloh menjawab: “Untuk yang terbagus akhlaknya  wahai Ummu Habibah, akhlak yang bagus membawa kebaikam dunia dan akherat.” (al-Tazkiroh fi Ahwal al-Mauta wa al-Alhirah, 2:278).

Syaikh Sholih al-Munajjid berkata; hadits ini lemah sekali, karena ada 2 perawi yang cacat. Sehingga hadits ini tidak sah untuk dijadikan dalil, dia lemah sekali dan pendapat ini gugur.

Pendapat Kedua, wanita tersebut diberi pilihan untuk memilih di antara suami-suaminya.

Syaik Shalih al-Munajjid  mengomentari pendapat ini, “Aku tidak melihat orang yang berpendapat dengan pendapat ini mempunyai dalil”.

Imam al-Ajluni menyebutkan untuk yang terbaik akhlaknya dan disebutkan ia diberi pilihan. (Kasyfu al-Khafa’ 2/392).

Syaikh Utsaimin lebih merajihkan pendapat ini dan berkata,” ia berhak memilih di antara mereka, lalu ia akan memilih yang terbaik akhlaknya. (Lihat fatwa-fatwa Syaikh Utsaimin dan Abdurrahman bin Jibrin: Fatawa Mar’ah Muslimah, hlm.602-603).

Ada juga yang berpandangan jika wanita yang ditinggal wafat suaminya dirinya takut terjadi fitnah, tidak mempunyai kemampuan untuk mengurus dirinya dan anak-anaknya, apabila ada laki -laki yang melamarnya; baik akhlak dan agamanya hendaknya diterima dan tidak pantas menolaknya karena mengamalkan hadits,” Jika ada orang yang datang kepadamu lelaki yang telah engkau senangi aga dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia”. (HR. At-Tirmidzi, Syaikh Al AlBani Menghasankannya).

juga mengamalkan kaidah ushul fiqih:

“Menolak kerusakan lebih didahulukan dari pada mendatangkan maslahat.”

Pendapat ini juga mrngatakan jika suami pertama dan terakhir setara dalam akhlak dan keshalehannya, maka dia bersama yang terakhir. Namun jika tidak setara, maka dia memilih yang paling baik keshalehan dan akhlaknya.

Pendapat ini juga mendasarkan pendapatnya dengan hadits Ummu Salamah yang menjelaskan bahwa wanita yang pernah menikah dengan beberapa laki-laki di dunia, kelak di jannah diberi pilihan sehingga dia memilih yang paling baik di antara mereka. Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani, hadits ini lemah dan munkar menurut Al-Haitsami. ( Majma’ al-Zawaaid 8:52).

Pendapat ketiga, dia akan bersama suami terakhirnya. Ini berdasarkan hadits Nabi Shallallohu Alaihi Wasallam.

أيما امرأه توفي زوجها فتزوجت بعده فهي لاخر أزواجها

“Wanita manapun yang ditinggal mati suaminya, kemudia wanita tersebut menikah lagi, maka dia menjadi istri bagi suaminya yang terakhir.” (HR.al-Thabrani, dinilai shahih oleh Syaikh Al Bani).

Dalil -dalil yang menguatkan adalah atsar-atsar dari para sahabat Radhiyallohu Anhum, antara lain dari Ummu Darda’ ketika dilamar Muawiyah, atsar dari Hudzaifah ketika berkata kepada istrinya tentang hal wanita yang menikah lagi setelah suaminya meninggal, dan atsar dari sahabat Ikrimah. Atsar-atsar tersebut derajatnya shohih dan kuat (Lihat Silsilah Shahihah Syaik Slbani, 3: 276). Atsar-atsar tersebut juga menjelaskan wanita kelak di jannah akan menikah dengan suaminya yang paling terakhir. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Sholih al-Munajjid karena menurutnya paling shahih dan dekat dengan kebenaran. Juga dalil-dalil yang digunakan lebih kuat dan shahih. Allahu A’lam Bisshawab.

Pembahasan ini bisa dilihat di:

  1. Fatawa Syaikh Muhammad bin Sholih al-Munajjid.
  2. Imra’atus sami’in bi Aushafil Huril ‘In ( Bertemu Bidadari Surga) karya Abu Muhammad Jamal Ismail
  3. Ahwalun Nisa’Fil Jannah ( Hal Ihwal Wanita di Janna), karya Sulaiman bin Shaleh al-Khuraisy.