Dimensi Kemenangan Al-Haq

0

Dimensi Kemenangan Al-Haq

وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ (117) فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (118) فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ (119)

Kami wahyukan kepada Musa: Lemparkanlah tongkatmu. Maka ia segera menelan (ular) jadi-jadian yang mereka buat. Maka al-haqq menjadi jelas (menang) dan menjadi binasa apa yang mereka kerjakan. Maka mereka dikalahkan (oleh Musa) di sana, dan berubah menjadi hina. (QS. Al-A’raf: 117-119)

Adu kehebatan antara Musa as melawan Firaun yang diwakili oleh para ahli sihir berjalan dramatis. Musa as seorang diri dikeroyok oleh para ahli sihir. Musa as hanya membawa sebatang tongkat, sementara mereka menyiapkan berbatang-batang dan tali-temali yang banyak. Musa as tak punya suporter, sementara Firaun didukung semua penonton di lapangan. Sebuah pertarungan heroik tersaji.

Untungnya fatsun politik Firaun masih lumayan bagus. Firaun dengan gentle tidak mengusik Musa as meski pertarungan dimenangkan Musa as. Firaun berpegang pada komitmen untuk menyelenggarakan pertarungan secara fairplay, apalagi yang mengajukan tantangan adalah dirinya.

Menarik untuk dicermati, apa saja dimensi kemenangan Musa as.

Dimensi pertama, dimensi kemenangan mental sang pengusung al-haqq. Musa as berani memilih menang melawan Firaun yang punya kekuasaan super dan bisa mencelakakan Musa as kapan saja. Musa as dalam keadaan lemah, tidak mudah menghadapi kemenangan dalam situasi itu sementara lawannya punya reputasi kebrutalan yang tak diragukan. Kemenangan Musa as di ring, pasti akan memantik dendam kesumat Firaun di luar ring, dan bisa sangat serius buat Musa as.

Sesaat setelah pertandingan mungkin tidak terjadi apa-apa, tapi sesudah itu tidak bisa ditebak apa yang akan dilakukan Firaun terhadap Musa as. Bagaimana tidak, Firaun dipermalukan di depan penonton yang bejibun, dan mereka adalah para pengikut dan rakyatnya yang setia. Pemain akan merasa sakit dan sangat dipermalukan jika ia kalah di depan pendukungnya sendiri. Pada sisi lain Firaun punya kemampuan untuk melaksanakan dendam kapan saja dia suka di luar arena pertandingan.

Kemenangan Musa as memang kehendak Allah, tapi jika Musa as sendiri tidak menghendaki menang, tak mungkin kemenangan akan datang. Ada kalanya seorang aktifis Islam takut untuk menerima kemenangan saat dirinya lemah dan terancam.

Misalnya, dalam sebuah debat terbuka, sang tiran ingin memaksakan hasil diskusi bahwa tidak ada negara Islam dan tidak relevan lagi jikapun ada. Sementara aktifis Islam sebagai lawan debat punya segudang argumen bahwa negara Islam itu ada dan wajib ditegakkan oleh umat Islam saat ini. Kalau dia mau membuka daftar argumennya, niscaya dia akan menang.

Tapi karena ia berhitung, jika memilih menang maka harus siap mendapat stigma radikal dan dituduh punya rencana menggulingkan kekuasaa dan mendirikan negara Islam maka ia lebih memilih kekalahan. Dampak dari tuduhan itu, bisa berbuah penangkapan, penjara, bahkan eksekusi senyap. Masyarakat otomatis akan berpihak kepada sang tiran dan sang aktifis terkucil dari dinamika sosial umat Islam sendiri.

Debat tentang negara Islam vs negara sekuler akhirnya tanpa ending yang dramatis; kubu Islam menang gemilang. Tapi endingnya menjadi datar tanpa greget, karena sang aktifis malu-malu untuk untuk mengusung negara Islam. Itu artinya, sebuah konfrontasi antara al-haqq melawan al-batil dimulai dengan kekalahan.

Dimensi kedua, kemenangan al-haqq terhadap al-batil. Bahwa sejatinya yang sedang bertarung adalah al-haqq melawan kebatilan, meski gambar peristiwa adalah adu kehebatan antara dua ahli sihir – setidaknya dalam persepsi penonton. Saat itu sedang bertarung kekuatan Allah yang bersifat hakiki, melawan kekuatan syetan dalam bentuk sihir yang berbasis tipuan pandangan. Ular Musa as adalah lambang al-haqq, dan ular jadi-jadian hasil rekayasa para ahli sihir lambang kebatilan. Peristiwa tersebut menghasilkan kemenangan dramatis bagi al-haqq: kebatilan dilumat habis oleh al-haqq.

Musa as tak perlu bercerita lagi tentang kekuatan al-haqq, tapi bukti yang tersaji sudah berbicara sendiri. Ketika peristiwa ini direkam sebagai sejarah, bisa menjadi bukti pula bagi orang sesudahnya, termasuk kita yang membaca kisah tersebut melalui penuturan Al-Qur’an. Tak perlu Allah menunjukkan bukti kehebatan al-haqq seperti itu setiap zaman dan pada setiap kaum, cukup kisah Musa as diceritakan maka pendengar seperti menyaksikan sendiri peristiwanya.

Dimensi ketiga, kemenangan dakwah. Adegan dramatis kemenangan Musa as seorang diri terhadap gabungan ahli sihir terbaik se Mesir menjadi pesan dakwah yang sangat kuat. Ketika dakwah disampaikan dengan lisan saja, pendengar masih perlu bukti akan kebenarannya. Tapi ketika bukti nyata yang tersaji, pesan dakwah yang terkandung menjadi amat dahsyat. Seketika gumpalan syirik dan jahiliyah yang menngendap di hati dan pikiran penonton menjadi sirna tersapu oleh gelombang dahsyat bukti nyata al-haqq yang terekam mata kepala mereka sendiri.

Kedahsyatan pesan dakwah tersebut dapat dilihat dari reaksi para ahli sihir yang spontan sujud tanda iman, dan terpental rasa hubbud-dunya (cinta dunia) yang ditawarkan Firaun. Kepercayaan bahwa Firaun sosok hebat juga seketika sirna, karena ternyata hanya melongo tak bisa berbuat apa-apa ketika ular Musa as melahap habis ular tipuan.

Dan Musa as memang memaknai pertarungan itu sebagai momen dakwah yang istimewa. Perhatikan apa yang dilakukan Musa as setelah para ahli sihir melemparkan tali dan tongkat dan “berubah” menjadi ular, sementara penonton sudah tegang dan siap menikmati adegan lanjutan yang akan tersaji. Penonton yang berada di puncak ketegangan dan rasa penasaran dimanfaatkan oleh Musa as untuk menyampaikan prolog bahwa apa yang mereka saksikan saat itu akan dikalahkan oleh kekuatan Allah, Tuhan alam semesta bukan Tuhan abal-abal seperti Firaun.

Perhatikan rekaman ayat sebagai berikut:

فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ (81)

Setelah mereka (para ahli sihir) melemparkan (tali dan tongkat), Musa berkata: Sihir yang Anda datangkan ini pasti akan dihancurkan oleh Allah, karena Allah tak merestui perbuatan orang-orang yang menebar kerusakan. (QS. Yunus: 81)

Pidato Musa as ini menambah rasa penasaran. Bagi penonton, pidato tersebut masih dianggap sesumbar sampai Musa as benar-benar mampu mengalahkan para ahli sihir. Penonton menjadi sangat ingin melihat ending pertarungan, siapa yang akan menang. Bagi Musa as sendiri pidato ini menambah rasa malu jika kalah, tapi menjadi pelengkap kepuasan jika menang. Meski yang sejatinya diusung oleh Musa as bukan kepuasan menang atau malu jika kalah, tapi misi dahwah yang ingin dicapai. Dan Musa as sebagai nabi sangat yakin dengan janji Allah, tak ada ruang untuk ragu sedikitpun.

Ketika Musa as melemparkan tongkat, lalu berubah wujud menjadi ular hakiki, lalu menelan habis “ular-ular” ahli sihir, suasana menjadi senyap. Serangan pertama berupa pidato janji kemenangan disusul serangan kedua berupa bukti nyata atas pidato tersebut membuat semua orang terpana dan mulut terkunci. Apa yang mereka lihat membuktikan, apa yang dikatakan Musa as bahwa Allah akan menghancurkan tipuan sihir benar adanya, bukan bualan kesombongan atau penambah dramatis pertandingan. Semua penonton merekam adegan dakwah, dan membawa pulang pesan dakwah.

Melalui mekanisme “dari mulut ke mulut” pesan dakwah ini menjadi viral melalui media warung kopi, pos ronda dan sebagainya. Satu adegan dramatis menjadi pesan dakwah yang menjangkau seluruh penjuru Mesir, suatu hasil dakwah yang tak akan dicapai dengan pidato verbal semata.

Kemenangan dakwah yang lebih dramatis, lawan tanding Musa as takluk dan sujud tanda beriman. Kalau hanya mengaku kalah, lawan tanding masih penasaran untuk tanding ulang. Tapi yang terjadi mereka sujud dan beriman. Musa as menang secara pertandingan, menang pula secara aqidah. Dan kemenangan kedua lebih substansial dibanding kemenangan pertama, sebab Musa as seorang nabi bukan petarung demi bayaran.

Kemenangan masih berlanjut. Imannya para ahli sihir bukan adegan settingan, tapi reaksi alami dan hakiki. Terbukti ketika Firaun mengancam akan memotong kaki dan tangan mereka secara bersilang, dan menyalib mereka di pokok kurma, mereka tak bergeming. Mereka tegar menghadapi ancaman kematian, tak mundur setapakpun, karena bagi mereka siksa yang akan ditimpakan Firaun hanya berlaku terhadap kehidupan dunia mereka, Firaun tak akan bisa menyiksa alam akhirat mereka. Sebuah kedalaman iman yang fantastis untuk orang-orang yang baru saja mengenal iman.

Pelajaran bagi para aktifis, fokuslah memenangkan al-haqq, bukan kemenangan “saya” sebagai tokoh hebat, atau “kelompok saya” apalagi “kepentingan saya”. Jasad boleh binasa asal al-haqq terjaga kehormatannya. Fisik boleh tersiksa, asal tak terjadi kompromi antara al-haqq melawan al-batil. Maka keberanian, kesabaran dan tawakkal merupakan modal dakwah utama, bukan hanya kemahiran berpidato. Wallahua’lam bis-shawab.

@elhakimi