Disayang Allah Dicinta Sesama

0

Cinta dunia, apalagi menjadikan dunia sebagai tujuan adalah pangkal kesalahan dan kesengsaraan. Selain menyiksa jiwa karena rasa tidak pernah puas terhadap yang ada, pencarian dunia juga sangat menguras energi, hingga ibadah pun terbengkalai. Belum lagi kematian hati yang akan membuat para pecinta dunia menjadi kejam terhadap sesama, seperti sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, ia lebih buas daripada dua ekor serigala yang lapar. Sedang nikmat yang didapat tidak semahal ‘biaya’ yang terkuras.

Dalam konteks ini, sikap zuhud adalah sebuah kemuliaan dalam memandang dunia. Meski Sufyan at-Tsauri rahimahullah menyatakan bahwa zuhud tidak identik dengan makanan kasar dan pakaian compang-camping, namun menyeimbangkan antara sikap zuhud dan antusiasme mencari penghasilan dan kesuksesan duniawi jelas bukan perkara mudah. Seringkali, zuhud diindentikkan dengan penolakan terhadap dunia. Benarkah?

 

Memahami Secara Proposional

Membenarkan pemahaman kita tentang zuhud adalah langkah pertama yang harus kita lakukan. Sebab cara kita bersikap dan berbuat sejatinya ditentukan oleh cara kita memahami sesuatu. Hingga ketika ada orang-orang yang berpenampilan lusuh dan menyantap makanan kasar mengatasnamakan zuhud, kita menjadi tidak heran. Ada yang salah dalam pemahaman mereka.

Dalam hal ini Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak ada manfaatnya di akhirat.” Sedang Hasan al Basri berkata bahwa zuhud bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta. Zuhud adalah sikap mental seseorang dalam memandang dunia, bukan dengan meninggalkannya, sehingga mencari dunia bukanlah sebuah kesalahan jika tujuannya untuk membangun akhirat.

Maka, sikap menjauhi dunia bukanlah sikap bijaksana jika kita mampu meraih dunia. Sebab ini akan menjadi kontra produktif meningkat banyaknya amal shalih yang bisa dikerjakan dengan harta, juga manfaat secara sosial di tengah komunitas muslimin yang –mayoritas– mundur secara ekonomi.

Rasulullah sendiri mengakui betapa pentingnya harta kekayaan sebagai penopang hidup manusia modern baik dalam urusan dunia maupun agamanya. Hal ini tercermin dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh at-Thabrani, “Apabila akhir zaman datang, maka penopang agama dan dunia seseorang adalah dirham dan dinar.” Bahkan, Sufyan ats-Tsauri dengan tegas mengatakan, “Harta di zaman sekarang adalah senjata ampuh bagi orang mukmin.”

 

Merubah Cara Pandang

Yang diperlukan sekarang adalah perubahan cara memandang dunia. Bahwa ia bukanlah tujuan kehidupan ini, melainkan sebuah sarana mencapai kebahagiaan yang kekal. Sehingga seorang zahid tidak terperdaya oleh kenikmatan dunia, berapa pun harta itu melimpah di tangannya.

Saat kita mendapati tangan kita berkelimpahan harta, yang terfikirkan adalah banyaknya peluang amal shalih yang terbentang di hadapan mata. Sehingga harta itu hanya singgah di tangan kita, namun tidak di hati kita.

Selain itu, kita juga harus percaya bahwa harta dunia seluruhnya pasti akan lenyap. Ibnul Jala’ mengatakan bahwa zuhud adalah memandang dunia sebagai sesuatu yang akan segera musnah. Selain ia akan menjadi kecil dan remeh, ia juga mudah membuat hati kita berpaling, sehingga tidak menjadi tawanannya. Kesempatan memperoleh harta berlimpah adalah sebuah ujian yang akan mudah kita selesaikan jika ita menguasai dan mengetahui wilayah pembelanjaannya. Insyaallah.

 

Manata hati

Untuk itu, penataan hati adalah tugas selanjutnya. Bagaimana agar hati tidak menjadi terikat dengan dunia. Kemudian sibuk mengejarnya hingga lalai dan abai terhadap tugas-tugas penghambaan. Kita harus berusaha untuk ridha, rela, atau ‘nrimo ing pandum’, berapapun balasan duniawi yang Allah berikan kepada kita dari seluruh upaya mencurahkan potensi dan energi kehidupan kita. Karena seperti ucapan Fudhail bin Iyadh rahimahullah, “Pada dasarnya zuhud berarti rela menerima apa yang diberikan Allah.”

Ketika hati sudah tidak menjadi hamba harta, ia akan stabil dan tetap berhusnudhan kepada Allah bagaimanapun kondisi keuangan melingkupinya. Ia tidak terlalu gembira dengan kekayaan dunia saat ada pada dirinya, dan tidak berduka saat hilang darinya. Pada saat itulah seseorang hamba dengan uang seribu dinar pun bisa menjadi hamba yang zuhud, sebagaimana yang pernah dinyatakan Imam Ahmad.

Jadi zuhud tidak ada hubungannya dengan kekayaan atau kemiskinan. Sejatinya, zuhud lebih terkait pada cara memahami dunia beserta isinya dan penyikapan yang tepat atasnya.

 

Perbanyak berderma

Menurut Yahya bin Mu’adz, zuhud akan menjadikan manusia dermawan. Ia adalah buah pemahaman yang benar tentang zuhud, bukan kecintaan akan kemiskinan, sebab rezeki kita hakikatnya hanyalah titipan, yang jumlah besar kecilnya hanya Allah yang mengetahuinya. Said bin Musayyab pernah berkata bahwa tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau mengumpulkan harta dari barang halal.

Hamba yang zuhud sangat mengerti akan banyaknya manfaat harta miliknya bagi sesama dan perjuangan. Ia tidak akan menolak jika kekayaan menghampirinya, sebagaimana dia juga tidak akan menolak berbagai ‘proposal’  amal shalih yang diajukan kepadanya untuk dibiayai. Dia betul-betul telah menguasai, dan bukan dikuasai.

Dia akan banyak berderma dengan kekayaannya karena tahu akan kewajiban diri dan hak amal shalih di balik hartanya. Selain memberi manfaat dan berkah bagi sesama, dia juga telah mengamankan hatinya dari penghambaan dunia. Insyaallah dia kan memperoleh kehidupan yang jauh lebih baik dan berkualitas.

Zuhud adalah satu amalan yang bisa mengantarkan seseorang meraih kecintaan dari Allah dan sesama manusia. Dalam suatu riwayat dikisahkan tentang seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, tunjukilah saya satu amalan yang apabila saya amalkan Allah dan manusia akan senang kepada saya.” Rasulullah menjawab, “Berlaku zuhudlah engkau di dalam dunia, niscaya engkau akan disayangi Allah dan berlaku zuhudlah pada apa yang ada di dunia, niscaya engkau akan disayangi manusia.” (HR. Ibnu Majah)

 

Perbanyak ibadah

Selain itu, seorang hamba yang zuhud juga akan meluangkan waktu untuk beribadah, bermunajat kepada Allah. Sebab seperti pernyataan Abu Sulaiman ad-Darini, “Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang dapat melalaikan seseorang dari Allah.” Hamba yang zuhud akan berusaha agar pencarian dunianya tidak melalaikan dari mengingat Allah.

Dia akan memenej waktunya dengan cermat, agar kesempatan bermunajat dan bermuhasabah adalah agenda wajib yang menghiasi hari-hari hidupnya.

 

Kebiasaan Yang Baik

Salah satu hal yang membuat kita bisa bersikap zuhud adalah membiasakan diri untuk memiliki gaya hidup yang baik dan sehat. Sederhana dan tidak berlebih-lebihan dalam makan, pakaian, tempat tinggal, dan fasilitas kehidupan.

Sebuah kebiasaan yang akan mengantarkan kita kepada pemahaman bahwa kebutuhan pribadi kita, untuk hidup layak dari harta, sesungguhnya tidaklah terlalu banyak. Selain memberi ruangan bagi amal shalih di luar kepentingan pribadi, hal ini juga akan membentuk kebiasaan sehat untuk tidak selalu menghabiskan harta, berapapun banyaknya, hanya untuk memenuhi gaya hidup mewah.

 

Doa Sebagai Senjata

Hati kita lemah, rapuh, dan mudah berubah-ubah. Sedang daya tarik dunia demikian manis hebat. Untuk itu selalu berdoa kepada Allah agar hati kita tetap bisa memilih zuhud di dunia, mutlak harus kita lakukan.

Salah satunya adalah doa sahabat terkemuka, Abu Bakar as-Shidiq radhiyallahu anhu, “Ya Allah, jadikan dunia di tanganku, dan jadikanlah akhriat di hatiku.” Agar sebagian kecil dunia yang kini kita miliki, tidak memasuki diri kita untuk merusak akhirat kita. Wallahu a’lam.

Sumber: majalah arrisalah edisi 69 hal. 45-47