Dunia Itu Laksana Air

0

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Kahfi: 45)

Dalam kitabnya az-Zuhdu, Imam Ahmad menyebutkan, Umar bin Khattab radhiyallahu anhu berjalan melewati tempat sampah, lalu berhenti di sana. Sepertinya, ia prihatin pada sahabat-sahabatnya dan mereka terganggu dengan bau tempat sampah itu. Umar bin Khattab berkata kepada mereka, “Inilah dunia yang kalian buru.” Seperti itulah Umar bin Khattab men-tarbiyah para pengikutnya. Ia ingatkan mereka tentang hakikat dunia yang diperebutkan manusia. Dalam pandangan Umar bin Khattab, dunia hanyalah tempat sampah, yang sarat dengan barang-barang bekas dan tidak ada satu pun yang layak pakai. Apa saja di tempat sampah berbau busuk dan tidak utuh lagi. Ada hewan-hewan kecil, makanan basi, perabotan terpotong-potong, “peninggalan” manusia dan hewan. Dan memang ada akhirnya dunia itu menjadi sampah, ini dari sisi nilai dunia.

Padahal, untuk dan karena dunialah manusia saling membenci, saling memsuhi dan menghalalkan segala cara asal ia mampu menimbun sebanyak-banyak perbendaharaan yang pada akhirnya menjadi sampah itu. Dan sebelum menjadi sampah, dunia telah beralih dari satu tangan ke tangan yang lain, atau bahkan dari satu generasi ke generasi yang berikutnya. Baik suka ataupun tidak suka, siap atau tidak siap. Bahkan seringkali kepemilikian dunia itu bergeser pada saat seseorang baru menggandrunginya, membanggakannya dan tidak ingin melepaskannya. Sisi inilah yang diibaratkan oleh Allah bahwa dunia itu laksana air.

Allah ta’ala memberikan perumpamaan yang lebih indah lagi tentang hakikat dunia, di mana Allah mengumpamakan dunia seperti air.

Syaikh As-Sa’di rahimahullah mejelaskan tentang ayat tersebut, Allah ta’ala berfirman pertama-tama keada Nabi-Nya dan terarah kepada orang-orang yang mewarisi misinya sepeninggal beliau secara otomatis, ‘Buatkanlah untuk manusia tentang perumpamaan kehidupan dunia, agar mereka memahaminya dengan benar dan mengetahui hakekatnya secara zahir dan batin, lalu membandingkannya dengan kampung akhirat, hingga kemudian bisa mengambil sikap manakah yang seharusnya diutamakan. Sesungguhnya permisalan kehidupan dunia, ibarat air hujan yang turun ke tanah. Kemudian tumbuh-tumbuhan menjadi subur, menumbuhkan segala macam tanaman yang sedap dipandang. Pada saat perhiasan dan keindahannya membuat takjub orang-orang yang memandangnya dan membuat berseri orang-orang yang menyaksikannya, serta menggiurkan pandangan orang-orang yang lalai, tiba-tiba ia berubah menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Akibatnya tanaman yang indah dan bunga yang memikat serta panorama yang menarik menjadi sirna seketika. Tanah menjadi penuh dengan debu. Fokus pandangan pun beralih darinya, mata-mata berpaling darinya dan hati menjadi sesak.

Begitulah kondisi dunia, di saat pemiliknya terpukau dengan masa mudanya, berhasil mengalahkan kawan-kawan dan memunguti bunga-bunga kelezatannya, larut dalam kenikmatan-kenikmatannya di seluruh waktunya, dan diapun menyangka akan senantiasa di dalamnya di seluruh hari-harinya, tiba-tiba kematian mendatanginya atau kehancuran menimpa harta bendanya, kegembiraannya pudar, kelezatan dan kegirangannya hilang. Hatinya sesak karena didera berbagai macam kepedihan. Dia pun terpisah dengan masa mudanya, kekuatan, dan kekayaan. Tinggal sendirian ditemani amal baik atau (amal) buruknya.

Pada saat itulah, orang zhalim menggigit jarinya lantaran mengetahui kondisinya yang nyata dan berangan-angan bisa kembali ke dunia (untuk memperbaiki diri). Bukan untuk menuntaskan nafsu syahwatnya, akan tetapi dalam upaya menambal kekurang-kurangan yang dia kerjakan berupa kelalaian-kelalaian, dengan taubat dan beramal shalih.”

Adapun Imam al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkamil Qur`an menjelaskan bahwa Allah mengibaratkan dunia dengan air karena beberapa alasan,

Pertama, air tidaklah tetap dalam satu keadaan, seperti juga halnya dunia. Memang begitulah adanya, ia mengalir dari satu tempat ke tempat yang lain, berpindah dari satu unsur kepada unsur yang lain. Begitupula dunia yang tidak berhenti pada satu orang saja. Jika hari ini menjadi milik kita, esok hari bisa jadi menjadi milik orang lain. Dan begitulah seterusnya, meskipun kita sangat ingin memilikinya secara kekal. Hingga misalnya seseorang menguasai dunia semasa hidupnya, maka setelah matinya dunia akan diambil alih oleh orang yang masih hidup.

Kesamaan kedua menurut beliau, bahwa air itu akan menguap sebagaimana dunia juga akan sirna. Bahkan dunia laksana gelembung air yang tampak elok dipandang, namun sebentar kemudian sirna. Sisi kesamaan lain adalah bahwa siapapun yang masuk ke dalam air, niscaya ia akan basah, sebagaimana seseorang yang berkumpul dengan dunia niscaya berat baginya untuk aman dari godaannya dan mudah sekali ia larut dalam genangan dunia.

Dan keberadaan air itu sesuai kadar kebutuhan maka menjadi sesuatu yang bermanfaat menumbuhkan tanaman, namun ketika jumlahnya melewati batas, maka akan membahayakan. Begitulah dunia, ketika kita mengambil sesuai kadarnya niscaya akan bermanfaat. Tapi kita tamak terus mendorong seseorang untuk mereguk dunia, niscaya ia akan binasa. Maka, jika suatu kali kita meraih bagian dunia yang lebih sedikit dari apa yang kita kehendaki, bisa jadi itulah takaran terbaik untuk kita. Andai diberi lebih dari itu, bisa jadi akan memadharatkan kita, wallahu a’lam bishawab.

 

Sumber: majalah ar risalah edisi 170 hal. 50-51