Ekspedisi Dakwah Menembus Pulau Terluar Indonesia Di Samudera Hindia (Bag 1)

Pulau Enggano termasuk dalam wilayah kabupaten Bengkulu Utara

0

Madina.or.id – Banyak mungkin yang masih asing mendengar nama ini, ENGGANO; ya, sebuah pulau terluar Indonesia yang terletak di Samudera Hindia. Secara administratif, Pulau Enggano termasuk dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Enggano merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Bengkulu Utara dengan pusat pemerintahan berada di Desa Apoho. Luas wilayah Pulau Enggano mencapai 400,6 km2 yang terdiri dari enam desa yaitu Desa Kahyapu, Kaana, Malakoni, Apoho, Meok dan Banjarsari. Nama Enggano sendiri diambil dari catatan Cornelis de Houtman yang mengunjungi pulau ini tanggal 5 Juni 1596. Tidak diketahui dari mana de Houtman mengetahui nama pulau ini, yang dalam bahasa portugis, engano, berarti “kecewa”.

Dalam kegiatan Semarak Dakwah Ramadhan Nusantara (SAHDAN) oleh Majelis Dakwah Indonesia (MADINA) di tahun 1440 H/2019 ini, Pulau Enggano menjadi salah satu destinasi dakwah yang dituju oleh Dai Madina yang diutus ke Bengkulu Tengah. Meski bukan merupakan wilayah administratif kabupaten Bengkulu Tengah, dan jarak yang tidak bersahabat, tetapi tidak menyurutkan langkah DAI SAHDAN MADINA untuk membersamai kaum muslimin dalam dakwah di salah satu pulau terluar indonesia ini. Beranggotakan 4 personel, 3 orang merupakan warga bengkulu tengah, dengan berbekal beberapa bahan pokok untuk makan sehari-hari, perjalanan dakwah ke enggano-pun dimulai.

Perjalanan dimulai setelah ba’da jum’at pukul 13.00 menggunakan kendaraan roda dua menuju pelabuhan pulaubai yang terletak di kota bengkulu. Jarak yang ditempuh dari Bengkulu Tengah ke pelabuhan menghabiskan waktu sekitar 2,5-3 jam. Tim SAHDAN MADINA tidak hanya membawa bekal makanan untuk logistik dakwah, tapi juga mendapat titipan donasi muhsinin untuk saudara-saudara kaum muslimin yang ada di Enggano. “Alhamdulillaah, kami tidak sekedar dakwah, tpi juga mendapatkan titipan dari muhsinin yang peduli terhadap saudara-saudara kita yang ada di pulau enggano; qur’an, kurma dan santunan anak yatim”. Terang Ust. Martoni yang merupakan PJ DAI MADINA Bengkulu Tengah. di waktu petang, seluruh penumpang diintruksikkan untuk menaikkan barang dan kendaraan ke Kapal Fery karena kapal akan segera bertolak ke pulau enggano.

Menyeberangi laut lepas bagi beberapa orang yang baru pertama kali mungkin terlihat menakutkan, apalagi jika laut sedikit memberi candaannya dengan sundulan-sundulan gelombang kecil menerpa lambung dan perut kapal di malam hari. angin yang bertiup di tengah laut, bahkan bukan angin yang sering kita temui di daratan. Tidak ada satu titik cahaya di sekeliling yang menandakkan adanya daratan dekat yang bisa digapai. Tetapi, semangat mengalahkan segala-galanya. Dakwah lillaah merubahnya seolah menjadi liburan yang menyenangkan. Tawakkal semakin kuat kepada Allah dengan menyaksikan kebesaran penciptaan-Nya. Berbuka, sahur dan sholat dalam kondisi seperti ini menjadi ibadah manis yang berbeda dari hari-hari puasa biasanya.

Setelah menghabiskan kurang lebih 12 jam di tengah laut, sekitar pukul 05.30 WIB pelabuhan enggano sudah tampak di depan mata. Terlihat pemandangan pulau yang indah, mentari menambah kesegaran pagi yang dinikmati oleh seluruh hewan, burung-burung dan penduduk yang mulai tampak beraktifitas. Keasrian alam dan lautnya menjadi pesona yang mampu menghilangkan keletihan. Beberapa mobil terlihat keluar satu persatu dari kapal fery menuju daratan. Disusul beberapa buah motor dan tampak dua buah sepeda motor yang masing-masing berboncengan dengan muatan penuh depan-belakang. Dua sepeda motor itulah tim ekpedisi DAI SAHDAN MADINA.

Jalan yang dilalui dari pelabuhan ke Desa yang dituju adalah jalan tanah berbatu yang belum diaspal. Menurut salah satu anggota tim yang membersamai, jalan ini sebelumnya sudah pernah diaspal, namun rusak kembali. Sepanjang perjalanan adalah melewati tumbuhan bakau, kebun-kebun warga, beberapa rumah penduduk, area peternakan sapi dan lahan daratan yang terbentang luas. Ada juga aliran-aliran sungai yang dikerumuni oleh hutan-hutan kecil yang asri. Sekitar 3 km dari pelabuhan terdapat penginapan untuk para tamu atau pelancong yang berlibur di pulau enggano.

Target dakwah pertama untuk dijadikan posko adalah Desa Kaana. Dalam perjalanan, Pak Idzhar, salah satu anggota yang membersamai DAI SAHDAN MADINA, mengajak mampir ke rumah Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pulau Enggano, sekaligus menyampaikan maksud dan tujuan kehadiran DAI SAHDAN. Dengan respon yang positif dan sambutan hangat, pak KUA kecamatan Enggano siap menjadikan kantornya sebagai posko DAI SAHDAN serta berharap agar sering-sering melakukan kunjungan dakwah kesana. Madina juga memberikan oleh-oleh ramadhan berupa kurma kepada bapak KUA Kec. Enggano untuk takjil keluarga. Dari rumah KUA silaturrahmi dilanjutkan ke rumah Imam Masjid Al-Ikhlash dan pemberian kurma takjil. Selanjutnya perjalanan diteruskan menuju Posko Pertama di Desa Kaana… (Bersambung)

Ustadz Rusmin Ibrahim
(Dai Sahdan Madina)