Memandu dengan ilmu

Flores : Kami Ingin Sekolah di Jawa

0

Flores berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, termasuk dalam gugusan kepulauan Sunda Kecil bersama NTB dan Bali. Luas wilayah sekitar 14.300 km2, dengan jumlah penduduk 1,6 juta jiwa. Dengan semangat menyebarkan dan menjaga dakwah di setiap jengkal tanah, Madina menugaskan dai SAHDAN ke Flores.

Tempat tugas dai SAHDAN adalah di Kampung Kawukak, Desa Watanhura II, Kec. Solor Timur, Kab. Flores Timur, NTT. Secara umum umat Islam di Flores diibaratkan berada di kuali. Yaitu berada ditengah kepungan mayoritas nasrani dan muslim yang kental animisme. Kondisi tanah berbatuan sehingga air sulit di dapatkan. Ini pula yang menyebabkan pembangunan tidak berkembang disamping tidak seriusnya pemerintah pusat mempercepat pembangunan di wilayah timur ini. Setiap hari terlihat pemandangan anak-anak mengambil air dari desa sebelah. Pembuatan sumurpun sempat mengalami kerusakan mesin hingga tiga kali karena harus menembus batu. Pemukiman warga juga sebagian besar rumah dengan atap jerami. Kondisi terbelakang ini sangat nyata terlihat. Pasar Kowo, salah satu pasar di pusat keramaian, hanya tenda dengan atap terpal, itupun buka hanya hari senin.

Kebiasaan tiap hari, ambil air                                                                 Rumah warga

 

 

 

 

 

  Pasar yang hanya buka hari senin                         Tenda jualan hanya atap terpal

Islam Bercampur Animisme

Selain minoritas, umat Islam di sini juga sebagian besar masih tercampur dengan animisme. Pemahaman ini cukup kuat di tengah umat karena mereka keras memegang kebiasaan yang sudah ditinggalkan pendahulu mereka. Butuh kesabaran tinggi bagi dai untuk sedikit demi sedikit mengubah pada pemahaman Islam yang benar. Diantara tanda animisme yang sangat nampak adalah banyaknya sesajen-sesajen, meyakini pohon keramat. Umat Islam di sini juga masih mengadakan tarian-tarian adat untuk meminta sesuatu dan juga meminta pada pohon atau hutan. Bahkan seorang muslim ketika meninggal disampingnya harus ada air putih dan kemenyan, dan ketika dikubur juga tidak lepas dari sesajen, kemenyan dan tabur air.

  Acara warga dengan sesajen                                              Mengubur dengan kemenyan dan air putih

Memotong Generasi, Kami Ingin Sekolah di Jawa

Merubah pemahaman umat Islam di sini membutuhkan strategi dan ketelatenan tersendiri selain akan memakan waktu lama –atas izin Allah-. Untuk percepatan dakwah maka perlu upaya memotong generasi dengan mendidik para pemuda – demikian yang terpikir oleh dai SAHDAN. Rupanya gayung bersambut, para remaja ketika diajak diskusi mereka juga menyadari bahwa membangun daerah dibutuhkan tenaga-tenaga yang berpendidikan. Jika hanya mengandalkan kondisi di sini maka sulit berkembang, mereka ingin sekolah di Jawa. Ketika ditanya motivasinya mereka menjawab dengan tegas bahwa mereka akan kembali ke kampung halamannya untuk memahamkan Islam yang benar, membawa perubahan dan pembangunan. Ada 3 anak yang siap untuk sekolah ke Jawa, namun terkendala biaya. Dai SAHDAN ini meyakinkan Insya Allah akan ada muhsinin yang membantu niat baik mereka, mulai dari tiket perjalanan hingga biaya untuk sekolah di Jawa (calon donator yang siap, mungkin termasuk Anda yang membaca ini- semoga). Para remaja ini akan menjadi generasi pengajar kebaikan dan para donator akan menjadi bagian dari para pengajar kebaikan itu. Insya Allah

Silaturahmi dengan tokoh                                                Acara Ramadhan

Ust. Mohamad Nur Iskandar –dai SAHDAN asal Tasikmalaya- yang saat ini juga masih kuliah di Al Islam ini sangat bersemangat untuk mengupayakan perubahan di Flores. Disela-sela tugas dakwah Ramadhan seperti sholat tarawih, tadarus, kajian ibu-ibu dan mengajar TPQ, ust. Nur Iskandar bersilaturahmi dengan tokoh masyarakat dan perangkat desa. Mereka menyambut baik dakwah Ramadhan ini dan meminta untuk penugasan kembali di tahun berikutnya. Bahkan empat kampung telah disiapkan untuk dakwah dai Madina selanjutnya.(ya)

Masjid termegah di pulau Flores, di Kampung Lamakera, tempat kelahiran Abdur komedian asal Flores