Memandu dengan ilmu

Habib bin Zaid, Sekokoh Karang Sekuat Baja

0

Habib bin Zaid, Sekokoh Karang Sekuat Baja

Saat iman menghujam di dada, segala ujian dan cobaan akan terasa ringan. Tiap rasa sakit dan kesulitan akan dilihat sebagai ujian. Kala menghadapinya, bukan kesedihan yang dirasa, melainkan bahagia karena berhasil melewatinya dan membuktikan ketulusan dan kekuatan imannya kepada Allah. Inilah yang terjadi pada Habib bin Zaid, untuk mempertahankan imannya, ia rela mempertaruhkan nyawa.

Habib bin Zaid termasuk generasi awal shahabat Anshar. Sebelum berhijrah ke Madinah, Rasulullah mengirim Musab bin Umair sebagai juru dakwah. Lewat dakwah Mushab bin Umair inilah Zaid memeluk Agama Islam. Pertemuan pertamanya dengan Nabi terjadi pada peristiwa Ba’iat Aqabah kedua. Kala itu, Nabi mengumpulkan 73 shahabat dan 2 shahabiyah anshar dari kabilah Aus dan Khazraj di bukit Aqabah untuk bersumpah setia menjadi pembela dan penyebar risalah Islam.

Habib bin Zaid baktikan hidupnya untuk Islam. Ia ikut terjun dalam pertempuran-pertempuran penting. Pada perang Uhud, bersama ibunya, Ummu Umarah, Habib menjadi bagian dari pasukan Islam yang bertahan melawan pasukan kafir Quraisy. Namun, kisahnya yang paling menarik adalah saat Nabi memilihnya sebagai utusan Rasulullah kepada Musailamah al-Kadzdzab sang Nabi palsu.

Sebelum Musailamah mendeklarasikan diri sebagai Nabi, Bani Hanifiah dipimpin oleh Haudzah bin Ali. Nabi Muhammad n pernah mengirimkan shahabat Salith bin al-Amiry menyampaikan surat dakwah kepadanya. Ajakan ini diterima dengan baik dan ramah oleh Haudzah. Ia bersedia memeluk Islam sesuai ajakan Nabi n, tetapi mengajukan syarat untuk berbagi kekuasaan. Ia mengirim surat balasan tersebut dan memberikan berbagai macam hadiah bagi Nabi n, tetapi beliau tidak menanggapi syarat Haudzah.

Ketika Nabi n dalam perjalanan pulang dari Fathul Makkah, beliau mendengar kabar kematian Haudzah dari Malaikat Jibril. Beliau umumkan berita duka itu kepada para shahabat. Setelah itu beliau sampaikan sebuah ancaman baru akan terjadi.

“Akan muncul seorang pendusta yang mengaku sebagai nabi dari Yamamah. Setelah aku tiada, dia akan menjadi penjagal.”

Shahabat bertanya siapa yang akan dibunuh oleh Musailamah dan siapakah yang menjadi korbannya. Beliau menjawab, “Kalian dan teman-teman kalian.”

Prediksi Nabi di atas benar-benar terbukti. Musailamah mengangkat dirinya sebagai Nabi. Ia mendapat dukungan hingga jumlah pengikut terus bertambah besar. Khususnya dari Bani Hanifah dan penduduk Yamamah. Keberadaan mereka menjadi ancaman baru. Bahkan Musailamah berani meminta hak kenabian kepada Rasulullah saat beliau masih hidup. Dengan lancang ia mengawali suratnya, “Dari Musailamah Rasulullah kepada Muhammad Rasulullah.”

Nabi n mengirim balasan surat kepada Musailamah untuk membongkar kesesatannya dan menghentikan provokasinya kepada masyarakat Arab. Untuk menjalankan misi penting tersebut, Nabi n memilih Habib bin Zaid.

Habib sadar risiko yang akan dihadapinya. Misi tersebut mempertaruhkan nyawa. Namun ia siap menghadapinya. Baginya, hal itu tidak ada bedanya bertempur di medan perang melawan musuh-musuh Islam. Andai ia gugur, ia mati sebagai syahid.

Kala itu, telah menjadi etika umum bahwa seorang utusan tak boleh diganggu, dilukai apalagi dibunuh. Namun, Nabi palsu Musailamah tak mengindahkan etika tersebut. Ia perintahkan anak buahnya menangkap Habib dan menyiksanya tanpa peri kemanusiaan.

Esok harinya, Musailamah kumpulkan rakyatnya. Ia ingin menunjukkan seorang shahabat Anshar akan menjadi pendukung barunya dan murtad dari agama Islam. Jika itu terjadi, para pendukungnya akan semakin patuh dan percaya kepadanya. Wibawanya akan semakin tinggi.

Habib dibawa ke tengah kerumunan. Terlihat jelas bekas siksaan berat di sekujur tubuhnya. Setelah menghujani Habib dengan berbagai siksaan, Musailamah shahabat Anshar itu akan berubah haluan.
Musailamah bertanya dengan angkuh kepada Habib bin Zaid, “Apakah engkau mengakui Muhammad itu sebagai utusan Allah?”
“Ya, benar. Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah,” kata Habib.
Musailamah mulai geram, “Apakah engkau mengakui aku juga utusan Allah?”
“Apa? Apa yang kamu katakan? Aku tidak mendengar apapun,” kata Habib pura-pura tuli.

Amarah Musailamah langsung meledak hingga ke ubun-ubun. Ia bertanya sekali lagi, “Apakah engkau mengakui Muhammad itu sebagai utusan Allah?”
“Benar, saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah!” Jawab Habib mantap.
“Apakah engkau juga mengakui aku sebagai utusan Allah?”
Habib kembali pura-pura tak mendengar, “Apa yang kamu katakan. Aku tidak mendengar apa-apa.”

Kemarahan Musailamah tak terbendung lagi. Ia memerintahkan algojo memberinya pelajaran. Sang algojo menusukkan pedang ke tubuh Habib perlahan-lahan supaya ia merasakan sensasi kepedihan tak terperikan. Musailamah seakan tak puas melihat penderitaan Habib tersebut. Ia lalu perintahkan menyayat dan mengiris tubuh Habib sedikit demi sedikit dan sepotong demi sepotong.
Tak bisa dibayangkan rasa sakit yang menjadi penderitaan Habib bin Zaid. Siksaan berat itu benar-benar menguji keimanannya. Tapi, bukan teriakan ampun yang keluar dari mulut shahabat mulia tersebut, melainkan kalimat tauhid La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah. Ia bertekad menjaga keimanannya hingga hembusan nafas terakhir.

Habib bin Zaid lebih memilih mati dalam keimanan. Meski dalam kondisi tersebut ia mendapat ruhsah berpura-pura kafir. Ancaman maut yang dihadapinya benar-benar nyata. Ia dibiarkan hidup hanya jika mengaku beriman kepada Musailamah. Ia akan dibunuh jika masih beriman dan mengakui Muhammad sebagai Rasulullah. Tiada pilihan lain. Karena kondisi itulah, ia dibolehkan mengucapkan kalimat kufur, sedang hatinya mengingkari dan masih tetap beriman.

Kendati demikian, Habib lebih memilih mati syahid daripada harus bertaqiyah. Pilihan ini memang tidak ringan. Namun ia menjalaninya dengan tabah karena yakin pahala yang lebih besar dari Allah. [ali-ar risalah]