Memandu dengan ilmu

Hakekat Pertemuan Dan Perpisahan Dalam Kehidupan Manusia

0

Sesungguhnya di setiap kehidupan yang kita arungi dan kita lewati pasti kita akan mendapati episode-episode kehidupan, di antara episode itu adalah kita akan menjumpai yang namanya pertemuan dan perpisahan.

Siapapun ia kaya atau miskin, muda atau tua pasti akan menjumpai salah satu episode kehidupan yaitu ijtima’un wa furqatun (pertemuan/kebersamaan dan perpisahan). Karena kehidupan bukanlah episode yang tidak berakhir. Pastilah di dalamnya ada pertemuan dan akan diakhiri dengan suatu perpisahan.

Terdapat hal terpenting yang harus kita fahami dari episode pertemuan dan perpisahan ini, yaitu memahami hakekat pertemuan dan perpisahan sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Agar kita mengerti bagaimana sikap ketika kita bertemu dan sikap ketika kita berpisah. Ada empat sifat dari episode ini, bagi seorang mukmin hendaknya memperhatikan keempat sifat ini, sehingga dapat menentukan sikap yang tepat. Empat sifat itu adalah:

Sifat Pertama: Mereka yang bertemu di dunia namun tidak bertemu di akhirat.

Mereka adalah dari golongan orang-orang kafir dan musyrik. Allah menyebutkan dalam Al-Qur`an:

يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ (11) وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ (12) وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ (13) وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنْجِيهِ

“Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” (QS. Al Ma’arij: 11-14)

Ayat ini menjelaskan bahwa keadaan orang-orang yang berdosa baik kafir dan musyrik tidak memiliki keinginan untuk bertemu dengan keluarga dan sanak kerabatnya. Mereka berandai-andai jika anak, istri dan keluarga dapat dijadikan tebusan untuk menyelamatkannya dari azab neraka, meskipun keluarganya masuk ke dalam neraka.

Inilah gambaran ketika pertemuan itu didasarkan atas kekufuran dan kemaksiatan kepada Allah, mereka hanya bertemu di dunia dan berpisah di akhirat, bahkan rela untuk menggadaikan keluarga yang selama didunia melindunginya dan menyayanginya. Seorang anak menggadaikan ibunya, seorang ibu menggadaikan anaknya, seorang suami menggadaikan istrinya dan seorang istri menggadaikan suaminya, tidak ada petemuan yang kekal di antara mereka kecuali di dunia.

Maka jangan merasa kagum dan takjub terhadap romantisme dan cinta kasih mereka semala di dunia, sebab hal itu tidak akan terjadi ketika di akhirat kelak.

Sifat Kedua: Mereka tidak pernah bertemu di dunia, namun akan bertemu di akhirat.

Mereka adalah orang-orang beriman, mereka akan bertemu dan bersua dengan para Nabi, orang-orang shidiq terdahulu, para syuhada`, orang-orang shalih meskipun di dunia mereka tidak pernah bertemu. Allah berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa`: 69)

Semasa hidup kita tidak pernah bertemu dengan Rasulullah, para sahabatnya serta orang-orang shalih setelahnya, namun nama mereka selaku kita ingat dan ada dalam hati. Sehingga kelak kita akan bertemu dengan mereka di tempat yang jauh lebih indah dan mulia.

Sifat Ketiga: mereka bertemu di dunia dan akan bermusuhan di akhirat.

Mereka adalah golongan yang mendasarkan pertemuan di dunia untuk sekedar bersenang-senang, berfoya-foya, hanya saling meningatkankan tentang dunia dan keindahannya, harta, tahta dan selainnya, dan tidak pernah mengingatkan untuk beribadah dan beramal shalih, tentang mereka Allah berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

Mereka adalah golongan orang-orang yang saling mencintai dan mengasihi namun di akhirat mereka justru menjadi saling bermusuhan dan berlawanan. Hal ini melandaskan pertemuan di dunia bukan atas dasar ketakwaan, amal shalih, dan saling menasehati. Apapun pertemuan yang tidak didasarkan untuk saling menasehati dalam kebaikan akan berakhir pada permusuhan.

Seorang istri akan menggugat suami, mengapa ia tidak mengingatkannya untuk berbuat amal shalih. Begitupula suami akan menggugat istri mengapa ia tidak mengingatkannya untuk berbuat amal shalih. Begitupula akan terjadi pada anak kepada orang tua, antara sahabat karib.

Sifat Keempat: Mereka bertemu di dunia dan bertemu di akhirat.
Mereka adalah segolongan orang yang di waktu kehidupan dunianya selalu saling mengingatkan dan menasehati tentang kebaikan. Bersama-sama melakukan amal shalih. Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan benar. Mereka saling mencintai dan menyayangi atas dasar keimanan, ketika salah satu dari mereka salah atau lalai dari Allah merekapun menasehatinya. Sehingga kelak Allah akan mempertemukan mereka di tempat yang lebih baik yaitu di jannah-Nya.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath Thuur: 21)

Dalam ayat lain Allah menyebutkan:
“Dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya.” (QS. Ath Thuur: 25)

Semoga pertemuan kita dengan keluarga dan sanak saudara bukanlah pertemuan sesaat yang tidak ada lagi pertemuan setelah itu. Kita memohon agar kita dipertemukan di dunia atas dasar keimanan dan di kumpulkan lagi di akhirat dengan selamat. Wallahu a’lam.

MADINA -Majelis Dakwah Islam Indonesia-