Hanya Petunjuk Allah Yang Benar

0

Hanya Petunjuk Allah Yang Benar

Oleh: Abu Harits, Lc –غفر الله له ولواديه-

Ada perkara penting dan mendasar yang harus difahami dan diyakini oleh setiap individu muslim, yaitu keyakinan bahwa hanya petunjuk Allah yang benar. Petunjuk Allah yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ berupa Al Quran dan Al Hadits merupakan panduan hidup yang bersifat komprehensif meliputi seluruh aspek kehidupan.

Kerangka berfikir ini berdasarkan pada tuntutan Iman kepada Kitabulloh yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam rukun iman. Keimanan ini mengajak setiap individu mukmin untuk meyakini bahwa apa yang terkandung di dalamnya menjadi sumber petunjuk yang harus diamalkan. Sebagaimana yang Allah firmankan :

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا (136)﴾ – النساء: 136-

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya dan Kitab yang diturunkan (secara bertahap) kepada rasul-Nya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya, dan barang siapa yang kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari Akhir maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang saat jauh”. [QS. An Nisaa; 136]

Imam Ibnu Katsir –rohimahulloh- berkata dalam tafsirnya:

يأمر الله تعالى عباده المؤمنين بالدخول في جميع شرائع الإيمان وشعبه وأركانه ودعائمه، وليس هذا من باب تحصيل الحاصل، بل من باب تكميل الكامل وتقريره وتثبيته والاستمرار عليه

Artinya: “Allah memerintahkan para hamba-Nya kaum beriman untuk masuk (melaksanakan) semua syariat iman beserta cabang-cabangnya, rukun-rukunnya dan pilar-pilarnya bukan hanya sekedar melakukannya saja namun haruslah menyempurnakannya, menetapkannya, meneguhkannya dan konsisten”.[1]

Dari sini kita bisa memahami bahwa bentuk beriman kepada kitabulloh (Al Quran) adalah menjadikannya petunjuk kehidupan yang mengatur bagaimana seharusnya seluruh manusia hidup di atas muka bumi ini. Dengan kata lain bahwa al Quran menjadi undang-undang dasar dalam penetapan hukum-hukum positif yang mengatur manusia. Di poin inilah, ketaatan dan ketundukan terhadap apa yang Allah firmankan dan wahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ menjadi intisari ajaran Islam.

Penegasan dalam perkara ketundukan seluruh manusia kepada aturan Allah disebutkan dalam banyak ayat-ayat Al Quran. Di antaranya adalah apa yang Allah tegaskan kepada orang-orang yahudi dan nasrani saat mereka mencoba untuk menguji kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ dengan melemparkan banyak pertanyaan dan permintaan kepada beliau. Namun ujung dari itu semua adalah ketidak-relaan mereka untuk tunduk dan patuh kepada syari’at Islam yang dibawa oleh beliau dan mereka (orang-orang yahudi dan Nasrani) menginginkan agar Nabi Muhammad mengikuti ajaran mereka[2]. Maka Allah menurunkan firman-Nya:

﴿وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (120)﴾  -البقرة: 120-

Artinya: “Orang-orang yahudi dan Nasrani tidak akan rela terhadap engkau hingga engkau mengikuti agama mereka. katakanlah: sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika engkau mengikuti kemauan mereka setelah datang kepadamu pengetahuan, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. [QS. Al Baqoroh: 120]

Dalam ayat tersebut Allah ﷻ menegaskan dan sekaligus memberikan bantahan kepada orang-orang yahudi dan Nasrani bahwa hanya petunjuk-Nya lah yang benar. Selain dari pada petunjuk Allah sejatinya hanya membawa kepada kesesatan dan kebinasaan belaka. Hal semakna juga disampaikan dalam firman-Nya:

﴿ قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَى أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (71)﴾ -الأنعام: 71-

Artinya: “Katakanlah: Apakah kita akan menyeru selain dari pada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak pula mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang (syirik) sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan) : “marilah ikuti kami”. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk, dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam”. [QS. Al An’am: 71]

Ayat ini berkaitan dengan putra Abu Bakar yang bernama Abdul Ka’bah (sebelum masuk Islam). Dia mengajak kedua orang tuanya yaitu Abu Bakar dan Ummu Ruman binti al Harits untuk kembali ke pangkuan ajaran nenek moyang. Dia menganggap bahwa agama dan ajaran nenek moyang lebih baik dari pada ajaran Islam. Maka turunlah ayat ini untuk diserukan kepada seluruh kaum kafir bahwa petunjuk Allah yang termuat dalam syariat Islam yang mulia ini adalah satu-satunya petunjuk kehidupan yang benar. Akhirnya Abdul Ka’bah masuk Islam dan namanya diganti oleh Rosululloh ﷺ dengan nama Abdur Rohman.[3]

Hari ini kaum muslimin dihadapkan dengan suatu kenyataan yang pahit di mana tersebarnya fitnah-fitnah keji yang menganggap bahwa petunjuk Allah yang berupa syariat Islam tidak relevan untuk diterapkan dalam kehidupan manusia. Tentunya pemahaman seperti ini tidak pernah terjadi pada diri kaum muslimin kecuali setelah terjadinya kolonialisme dan imperialisme global yang dilancarkan oleh kaum kafir barat. Karena mereka mengetahui rahasia di balik kekuatan kaum muslimin yaitu saat mereka berpegang teguh dengan petunjuk Allah. Maka ketika kaum muslimin dijauhkan dari petunjuk-Nya terjadilah kelemahan dalam diri mereka.

Sudah saatnya kaum muslimin memahami betul tentang pentingnya berpegang teguh dengan petunjuk Allah ﷻ. Hanya dengan wasilah itulah pertolongan Allah semakin dekat dengan mereka. Akan tetapi, jika kaum muslimin melupakan petunjuk Allah, niscaya Allah juga akan melupakan mereka. Hanya kepada Allah sajalah kita memohon kekuatan iman untuk selalu istiqomah berpegang teguh dengan petunjuk-Nya hingga akhir hayat nanti.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن والاه إلى يوم القيامة

والله أعلم بالصواب

[1]  Abu al FIda Ismail bin Umar bin Katsir al Qurosyi al Dimsyiqy, Tafsir Al Quran al ‘Adzim, (Dâr al Thoyyibah lil nasyr wa al tauzi’, 1420/1999, cetakan II) juz 2 hal 434

[2] Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Anshori al Qurthubi, Al Jâmi’ liahkâm Al Qurân (Kairo: Dâr al Hadîts, tc, 1426 H-2005M) juz 2 hal 507

[3]  Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Anshori al Qurthubi, Al Jâmi’ liahkâm Al Qurân, juz 7 hal 20 – 21