Hidayah Dengan Al-Qur’an

0

Hidayah Dengan Al-Qur’an

Oleh: Ust. Dr. Ahmad Zain An Najah, MA

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Al-Qashash ayat 85:

إِنَّ ٱلَّذِى فَرَضَ عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لَرَآدُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ ۚ قُل رَّبِّىٓ أَعْلَمُ مَن جَآءَ بِٱلْهُدَىٰ وَمَنْ هُوَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

“Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali. Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.”

Allah mewajibkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Al-Qur’an:

  1. Membaca, mentadabburi, mengamalkan dan mendakwahkannya.

Membaca Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya surah An-Naml ayat 91-92.

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنْذِرِين

 

Ayat di atas menunjukkan beberapa hal:

  1. Kewajiban utk menyembah Allah
  2. Untuk menjadi orang yang pasrah kepada-Nya dengan agama Islam. Selain Islam tidak diterima ibadahnya.
  3. Membaca Al-Qur’an

Kaitan antara ketiga hal tersebut adalah kepasrahan mutlak kepada-Nya dan cara menyembah-Nya harus memahami pembacaan Al-Qur’an.

  1. Membaca Al-Qur’an menyebabkan turunnya hidayah, berpaling darinya menyebabkan sesat.

Banyak orang masuk Islam setelah mendengar bacaan Al-Qur’an, contohnya Umar bin Khaththab. Abu Bakr ash-Shiddiq suka membaca Al-Qur’an dengan suara merdu di depan rumahnya sehingga tetangga-tetangganya yang kafir ikut mendengarkannya.

Di Amerika dilakukan penelitian diperdengarkan Al-Qur’an terhadap 4 golongan, yaitu: orang kafir Amerika tidak faham bahasa Arab, orang kafir Amerika yang faham bahasa Arab, orang muslim Amerika yang tidak faham bahasa Arab, orang muslim Amerika faham bahasa Arab. Diperdengarkan Al-Qur’an memberikan efek ketenangan pada keempat golongan tersebut. Namun efek terbaik Al-Qur’an pada golongan yang terakhir. Hal ini sesuai dengan surah Al-Anfal ayat 2-4 yang menjelaskan ciri orang beriman adalah ketika disebut nama Allah bergetar hatinya dan dibacakan Al-Qur’an maka bertambah imannya.

  1. Wajib memberikan peringatan dengan Al-Qur’an kepada orang yang tersesat di jalan-Nya. Jihad yang besar itu menerangkan Al-Qur’an kepada orang-orang kafir.

Terkait dengan bacaan Al-Qur’an membawa hidayah terdapat dalam surah Al-Isra’ ayat 82:

(وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا)

Al-Qur’an pada ayat di atas bisa menjadikan obat dan rahmah. Obat bagi penyakit hati seperti kegelisahan jiwa, ketidaktenangan, syubhat, nifaq dan kekufuran; serta penyakit fisik. Rahmah artinya memberikan hidayah bagi yang membaca dan beriman kepada-Nya, menambah ilmu, mengetahui halal & haram.

Menambah ilmu misalnya dalam hal pola makanan sehat bagi orang-orang beriman. Di dalam surah Al-Waqi’ah ayat 20-22 disebutkan ada tiga, yaitu buah-buahan, daging burung (unggas) dan bidadari. Jadi dahulukan memakan buah-buahan sebelum memakan menu yang lain seperti lauk, daging, karbohidrat, dsb. Makan itu enaknya bersama istri-istri.

Terkait dengan Al-Qur’an sebagai hidayah, dikuatkan dengan surah Al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَان

  1. Kewajiban mentadabburi

Sebagaimana dalam surah An-Nisa ayat 82:

(أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا)

Perhatikan keserasian antara kedua ayat tersebut yang menyebutkan tentang Al-Qur’an pada ayat 82. Ayat di atas memberitakan kita untuk mentadabburi Al-Qur’an. Dari sini kita simpulkan ayat satu dengan lainnya saling terkait sebagaimana dalam inter-networking.

Tadabbur berasal kata dari dabara yang artinya belakang, maksudnya adalah merenungi hal-hal yang mengakibatkan sesuatu di masa mendatang atau meneliti suatu sebab akibat sebuah perbuatan. Tadabbur: mengaitkan masa yang lalu untuk dijadikan pedoman pada masa depan.

Tentang tadabbur dikuatkan oleh surah Shad ayat 29.

(كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ)

Ayat di atas menunjukkan beberapa hal sbb:

  1. Kitab ini diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari atas.

Yakni dari Lauhul Mahfuzh menuju langit yang terdekat dengan kita sebanyak 30 juz secara sekaligus pada bulan Ramadhan. Kemudian diturunkan dari langit yang terdekat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur selama 23 tahun dan ayat pertama diturunkan pada bulan Ramadhan. Inilah makna dari firman Allah surah Al-Baqarah ayat 185:

(شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

  1. Fungsi Al-Qur’an ada tiga:

(1) untuk diambil berkahnya dengan:

(a) membacanya, menghafalnya, mentadabburinya serta mengamalkannya dan mendakwahkan kepadanya.

(b) memperbanyak memegang mushaf Al-Qur’an

(c) membacakannya dalam air yang kemudian meminumnya, dll.

Makna berkah itu sendiri diambil dari kata birkah yaitu kolam air yang menunjukkan dua hal: (1) banyak kebaikannya dan (2) kebaikannya menetap.

(2) mentadabbur sebagaimana telah dijelaskan di atas.

(3) diambil pelajarannya oleh orang-orang cedik cendekia. Diantara hal yang visa diambil pelajarannya adalah masalah halal dan haram. Ulil Albab menunjukkan bahwa dengan sering mbaca dan mentadabbur Al-Qur’an kita akan menjadi orang yang cerdik cendekia. Wallahu a’lam.