Memandu dengan ilmu

Homs, Saksi Bisu Keadilan Islam

0

Homs, sebuah kota tua yang sarat dengan peninggalan sejarah peradaban manusia. Dari mulai peradaban kerajaan asiriyah hingga emperium Romawi serta kerajaan Yunani kuno pernah meninggalkan jejak kekuasaannya di bumi Homs.

Selama kurang lebih 2000 tahun, jauh sebelum pendudukan emeprium Romawi, Homs telah menjadi kunci pasar agricultural dan pusat perdagangan di wilayah Syiria bagian utara. Sebelum api revolusi meletus di tahun 2011, Homs telah dikenal pula sebagai kota industri dan perekonomian di dataran Syiria.

Homs telah menjadi saksi bisu atas kepahlawanan pasukan kaum Muslimin yang dipimpin oleh sahabat Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- yang bernama Abu Ubaidah bin Jarroh –rodliyalloh ‘anhu-. Tepatnya di tahun ke 15 Hijriyah, di musim dingin yang diselimuti salju, pasukan kaum muslimin mengepung kota Homs. Penaklukan kota Homs menjadi agenda penting berikutnya setelah kemenangan gemilang kaum muslimin pada perang Yarmuk serta jatuhnya kota Damaskus ke tangan kaum muslimin. Itu semua atas arahan dan perintah kholifah rosyidah Umar bin Khotthob –rodliyalloh ‘anhu-.

Akhirnya kota Homs berhasil dikuasai kaum muslimin setelah pengepungan yang berlangsung sampai berakhirnya musim dingin. Semula mereka -pasukan Romawi- enggan untuk menyerah, namun setelah mereka melihat ketegaran dan keteguhan pasukan kaum muslimin serta pekikan takbir yang berkali-kali mengguncang kota Homs, akhirnya mereka menyerah. Sampai ada di antara mereka menyaksikan beberapa rumah dan dinding hancur hanya dengan pekikan takbir dari kaum muslimin. Allah Akbar…[Al Bidayah wan Nihayah; juz 7; hal 50].

Setelah dikuasainya Homs, kholifah Umar bin Khotthob –rodliyalloh ‘anhu- mengutus salah seorang sahabat Nabi yang bernama Sa’id bin ‘Amir al Jumahi –rodliyalloh ‘anhu-. Beliau ditunjuk sebagai gubernur di wilayah Homs. Sa’id bin ‘Amir adalah sosok cendekiawan dan rendah hati. Sikap waro’ dan zuhud selalu menghiasai kehidupan beliau. Beliaulah yang perkataannya paling didengar oleh Umar bin Khotthob di hari-hari pertama kekholifahan beliau. Sa’id bin ‘Amir berbicara dengan tegas kepada kholifah dan dengan penuh hormat beliau menyampaikan :

“Wahai Umar, aku mewasiatkan kepadamu untuk selalu takut kepada Allah dalam hak-hak manusia dan janganlah engkau takut kepada manusia dalam hak-hak Allah. Janganlah ucapanmu menyelesihi perbuatanmu, ketahuilah bahwa sebaik-baik perkataan adalah apa yang dibenarkan dengan perbuatannya”.

“Wahai Umar, perhatikan kepada orang-orang yang mana Allah telah menjadikanmu wali bagi mereka baik dari yang jauh maupun yang dekat dari kaum muslimin. Hendaklah engkau mencintai untuk mereka sebagaimana engkau mencintai untuk dirimu sendiri. Bencilah untuk mereka seperti engkau membenci sesuatu untuk dirimu dan keluargamu. Dan hendaklah engkau kembalikan kesesatan menuju kepada kebenaran dan janganlah engkau takut celaan orang yang mencela saat engkau menegakkan hak-hak Allah”.

Lalu kholifah Umar bin Khotthob berkata : “ dan siapakah yang bisa melakukan hal itu wahai Sa’id?”

Sa’id menjawab : “Yang bisa melakukan hal itu adalah orang seperti engkau dari  orang-orang yang Allah telah menjadikan mereka pemimpin bagi umat Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam-  dan tidak ada seseorangpun di antara dia dan Allah”. [Shuwar min hayatis shohabah; hal 20]

Pantas saja, karena ketakwaan yang dimiliki oleh beliau, kholifah Umar menunjuk beliau menjadi gubernur Homs. Semula Sa’id menolak amanah besar itu. Beliau berkata : “Wahai Umar janganlah engkau memberikan kepadaku fitnah besar !”

Kemudian Umar marah : “Celaka engkau, engkau serahkan urusan kekholifahan kepadaku lalu engkau berlepas tangan dari ku !”

Setelah itu bergegaslah Sa’id bin ‘Amir menuju Homs untuk segera menjalankan tugas sebagai gubernur di wilyah tersebut. Hingga tidak selang begitu lama, kholifah Umar bin Khotthob mengunjungi Homs. Beliau mendapati sebagian dari penduduk Homs yang bisa dipercaya untuk mencatatkan nama-nama orang fakir miskin dari Homs. Dengan sigap mereka pun menulis daftar nama-nama orang fakir miskin.

Betapa terkejutnya kholifah Umar ketika disodorkan kepada beliau nama-nama orang fakir miskin, tertulis di urutan pertama adalah orang yang bernama Sa’id bin ‘Amir. Lalu kholifah Umar bertanya ; “Siapakah Sa’id ini ? apakah dia gubernur kalian ?” mereka menjawab : “ya, benar”. “Gubernur kalian faqir ?!” Tanya kholifah Umar keheranan. Mereka pun menjawab lagi ; “Ya, benar. Demi  Allah telah berlalu hari-hari dan kami tidak mendapati rumah beliau dinyalakan api untuk memasak”.

Menangislah Umar bin Khotthob mendengar berita tentang Sa’id bin ‘Amir, hingga air mata membasahi jenggot beliau yang lebat. Akhirnya beliau pun memutuskan untuk memberikan kepada Sa’id sang Gubernur Homs santunan dana sebesar 1000 dinar dengan dibungkus kain. Kemudian kholifah Umar berkata : “sampaikan salam dariku untuk beliau, dan katakanlah kepadanya bahwa amirul mukminin mengirim bantuan dana ini untuk membantu keperluhan dan kebutuhan hajat hidupnya”.

Kemudian datanglah utusan kholifah Umar kepada Gubernur Homs Sa’id bin ‘Amir untuk menyampaikan amanah berupa bantuan dana sebesar 1000 dinar. Tatkala Sa’id bin Amir melihat tumpukan dinar tersebut beliau secara reflex menjauh dan spontan berucap : “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun…!” Beliau mengucapkan kalimat istirja’ seakan-akan ada musibah besar yang menimpanya. Hingga suara beliau terdengar oleh sang istri yang sat itu sedang berada di belakang rumah. Dengan keheranan sang istri bertanya ; “Apa yang terjadi wahai Sa’id? Apakah kholifah meninggal dunia ?” Sa’id menjawab ; “tidak, bahkan sesuatu yang lebih besar dari pada itu”. Kemudian sang istri bertanya lagi : “apakah kaum muslimin kalah dalam peperangan ?”  Sa’id menjawab; “Tidak, bahkan lebih besar dari pada itu”. Sang istri bertanya lagi; “Apa gerangan yang lebih dari pada itu semua ?” Sa’id menjawab ; “telah masuk kepadaku dunia untuk merusak akhiratku dan telah masuk pula fitnah di rumahku”. Kemudian sang istri berujar ; “kalau begitu segeralah engkau hilangkan fitnah itu”. Sementara sang istri tidak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Lalu Sa’id berkata kepada istrinya ; “Maukah engkau membantuku untuk menghilangkan fitnah itu ?”  Sang istri menjawab : “Ya, tentu saja”.

Kemudian sang Gubernur Sa’id bin ‘Amir membungkus dinar-dinar tersebut dengan kain lalu membagi habis semuanya kepada orang-orang fakir-miskin yang ada di kota Homs. Hingga akhirnya penduduk Homs merasakan keadilan yang merata dan keindahan hidup bersama Islam.

Demikianlah sekilas tentang kota Homs pada masa kekholifahan Umar bin Khotthob dan  di bawah seorang gubernur sekaliber Sa’id bin ‘Amir al Jumahi –rodliyalloh ‘anhuma-. Namun saat sekarang ini, kenangan indah tersebut tak lagi Nampak di kota Homs. Sekarang ini yang ada adalah puing-puing bangunan yang hancur akibat tindakan brutal rezim basyar asad yang membunuh ratusan ribu kaum muslimin.

Di Homs saat ini yang ada tidak lagi keadilan yang merata namun penumpahan darah dan terobeknya kehormatan kaum muslimin. Sekarang ini, yang ada adalah sebagian kecil dari kaum muslimin yang sedang berjihad dengan kesendirian mereka untuk berjuang melawan penindasan dari rezim, serangan pasukan kafir-salibis, kekejaman syiah antek zionis dan makar kekuatan inernasional lainnya.

Akankah Homs bisa menjadi saksi kembali atas keadilan Islam yang sempat menaunginya di era kekholifahan Islam ? Hasbunalloh wa ni’mal Wakiil.