Memandu dengan ilmu

Hujan Deras di Hari Jum’at

0

Pertanyaan

Bila pada hari jumat hujan deras, adakah keringanan untuk mengerjakan shalat Zhuhur di rumah? Ataukah harus tetap ke masjid untuk mengerjakan shalat Jumat?

Abdullah – Grogol

Jawaban

Alhamdulillah wasshalaatu wassalaamu ‘ala rasuulillah.

Salah satu bentuk rahmat Allah terhadap hamba-hamba-Nya adalah Allah menjadikan beban-beban taklif di bawah kadar kemampuan mereka dan mereka dapat melakukannya dengan mudah tanpa merasakan adanya beban berat. Allah berfirman, “Allah tidak memberi beban kepada seseorang kecuali sekedar keluasannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Berdasarkan ini, jika seorang muslim mendapati keadaan sehingga ia merasa amat berat untuk mengerjakan suatu amal ibadah, keringanan pun menyertai amal tersebut sebagai satu bentuk rahmat dan kemurahan dari Allah.

Allah berfirman, “Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian!” (QS. At-Taghabun: 16)

“Allah menghendaki kemudian bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS. Al Baqarah: 185)

“Dan Dia tidak menjadikan kesulitan bagi kalian di dalam agama.” (QS. Al Hajj: 78)

Tentu saja ini bukan berarti setiap ada yang merasa berat untuk melaksanakan kewajiban lantas di sana ada keringanan. Sebab taklif sendiri berarti pembebanan; dan setiap pembebanan pasti ada rasa berat yang dapat terasa. Rujukan dari perkara apa saja yang menjadikan adanya keringanan dalam suatu ibadah mesti dikembalikan kepada para ulama dan ahli fiqh.

Sehubungan dengan pertanyaan di atas, para ahli fiqh menjelaskan alasan-alasan yang karenaya seseorang boleh tidak mengerjakan shalat Jum’at. Di antaranya adalah sakit, khawatir hilangnya harta –lantaran tidak ada yang menjaga, hujan deras, angin ribut, atau badai salju, dan yang semisal dengannya.

Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim bahwa Ibnu Abbas memerintahkan muadzin untuk mengumandangkan adzan Jumat pada hari hujan deras. Saat muadzin sampai di lafal “Hayya ‘alash shalah,” Ibnu Abbas memerintahkannya untuk menggantikannya dengan “Ash-Shalaatu fir rihaal.” Orang-orang yang mendengarnya menganggap hal itu sebagai sesuatu yang mungkar, sehingga Ibnu Abbas berkata, “Apakah kalian merasa heran? Sungguh, orang yang leibh baik daripada aku –yakni Nabi Muhammad saw- telah melakukanya.”

Jika untuk hadir seseorang hanya merasakan ada sedikit kesulitan, seperti rumahnya hanya berjarak beberapa meter saja dari masjid; atau jika ada sarana  untuk menghilangkan kesulitan, seperti punya mobil dan bisa mengendarainya ke masjid atau yang semisal dengannya, maka lebih baik hadir.

Jika pun tidak hadir, maka di rumah hendaklah mereka mengerjakan shalat Zhuhur secara berjamaah bersama keluarga. Wallahu a’lam.

Sumber: arrisalah edisi 153