Hukum Darah Haidh Dan Cara Membersihkannya

0

 

عَنْ أَسْمَاءَ قَالَتْ جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ أَرَأَيْتَ إِحْدَانَا تَحِيضُ فِي الثَّوْبِ كَيْفَ تَصْنَعُ فَقَالَ تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ وَتَنْضَحُهُ وَتُصَلِّي فِيهِ

Asma’ radhiyallahu anha bercerita bahwa seorang wanita datang menemui Nabi shallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya, “Bagamana menurut anda jika ada wanita yang bajunya terkena darah haidh. Apa yang ia lakukan?” Nabi menjawab, “Ia mengeriknya, lalu menguceknya dengan air, dan barulah mencucinya. Sesudah itu baru dia gunakan untuk shalat.”

Takhrij hadits

Hadits ini diriwayatkan dari dua sanad (jalur) yang semuanya shahih. Sanad pertama, dari Asma’ bahwasannya ada seorang wanita yang bertanya kepada Nabi. Sanad kedua, bahwa yang bertanya adalah Asma’ sendiri.

Adapun jalur pertama, salah satunya adalah hadits di atas. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam Kitab shahihnya (Kitab Wudhu’, Bab Membersihkan Darah) dan Imam Muslim di dalam Shahihnya (Kitab Thaharah, Bab Najisnya Darah dan cara membersihkannya)

Imam Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, ad-Darimi, Abu ‘Awanah, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi juga meriwayatkannya; juga Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’i.

Sedangkan jalur kedua diriwayatkan oleh Imam Syafi’i di dalam Musnadnya. Wanita yang bertanya kepada Nabi adalah Asma’. Derajat haditsnya adalah shahih. (Lihad al-Badr al-Munir, Ibnul Mulqin, 1/512; Irwa` al-Ghalil, 1/188)

Asma’ adalah putri Abu Bakar ash-Shiddiq. Dia termasuk sahabat wanita yang pertama kali masuk Islam di Makkah. Adiknya yang bernama Aisyah adalah istri Rasulullah. Lebih tepatnya, Aisyah adalah saudari tiri Asma. Ibu Asma bernama Qutaibah binti Abdul Uzza al-Amiriyah. Sedangkan ibu Aisyah adalah Ummu Ruman binti Amir al-Kinaniyah. Usia Asma sepuluh tahun lebih tua dari Aisyah. Dia dijuluki Dzatu Nithaqaini, artinya pemilik dua ikat pinggang. Menurut riwayat, Asma membantu Rasulullah hijrah ke Madinah, ia bertugas menyediakan makanan dan minuman selama Nabi bersembunyi di Gua Tsur. Asma’ memotong ikat pinggangnya menjadi dua. Dia gunakan ikat pinggangnya guna menyembunyikan makanan dan minuman untuk Rasulullah dan ayahnya.

Suaminya adalah Zubair bin Awwam. Hijrah ke Madinah pada umur 27 tahun, dalam keadaan hamil Abdullah bin Zubair dan lahir setelah tiba di Quba’, yaitu pada tahun 1 Hijriyah. Dia memiliki dua orang putra Abdullah bin Urwan. Setelah Asma` diceraikan oleh Zubair bin Awwam. Ia hidup bersama putranya Abdullah hingga akhir hayatnya.

Asma’ dikaruniai umur yang panjang tanpa ada gigi yag copot dan tidak terkena pikun sampai masa kekhilafahan putranya, Abdullah. Hingga putranya terbunuh di tangan Hajjaj bin Yusuf, yaitu pada bulan Jumadal Ula 73 H. Beberapa hari setelah kematian putranya, Asma’ meninggal duani pada usia 100 tahun. Semoga Allah meridhainya selalu. (Lihat Siyar A’lam an-Nubala’, 2/287-296)

 

Intasari Hadits

  1. Berdasarkan hadits Asma’ di atas, kesucian pakaian dari najis adalah salah satu syarat sah shalat. Sebagaimana pada edisi sebelumnya (hadits Arab badui yang kencing di masjid), kesucian lantai juga termasuk syarat sah shalat.
  2. Darah haidh adalah najis berdasarkan ijma’ kaum muslimin. Walaupun sedikit tetap dikatakan najis dan tidak dimaafkan. Tidak seorangpun yang meragukan keabsahan ijma’ ini.
  3. Pakaian yang terkena najis hanya bisa disucikan dengan air. Hadits Asma’ di atas adalah dalilnya.
  4. Darah haidh adalah najis, wajib dicuci dengan air. Dan lebih sempurna jika dicuci dengan air serta daun bidara atau sabun.
  5. Ketika najis sudah mengering, dianjurkan untuk mengeriknya dahulu agar mempermudah lunturnya najis. Setelah itu barulah dibersihkan dengan air.
  6. Caranya adalah mengeriknya dengan ujung-ujung kuku atau benda lainnya yang bisa melunturkan najis. Lalu menguceknya dengan air, dan sesudah itu disiram dan dicuci dengan air. Dan ini harus dilakukan secara berurutan.
  7. Wanita boleh bertanya urusan-urusan yang dianggap tabu atau merasa malu saat bertanya karena hal itu menyangkut urusan privat, bilamana dipandang darurat dan bermanfaat. (Lihat, Nailul Authar, 1/68-70; Taudhih al-Ahkam, 1/187-188)

 

Fiqh Hadits

Dari hadits di atas bisa diambil beberapa kesimpulan hukum:

Pertama, suci badan. Pakaian dan tempat shalat adalah wajib menurut jumhur ulama. Kecuali madzhab Maliki pada umumnya tidak mewajibkannya. Menurut madzhab Hanafi, jika najisnya kurang dari ukuran logam dirham, maka itu dimaafkan dan tidak wajib dibersihkan. Adapun madzhab Syafi’i dan Ahmad tetap mewajibkan walaupun najis tersebut kurang dari ukuran logam dirham. (Lihat, ‘Uyun al-Adillah, Ibnu Qassar, 1/369)

Kedua, najis menjadi ma’fu (dimaafkan) jika lupa aau tidak tahu ada najis di bajunya. Tidak perlu baginya mengulangi shalatnya. Demikian menurut pendapat terkuat. (Lihat, Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 21/477).

Ketiga, ada dua pendapat di kalangan ulama’, apakah hukum semua darah disamakan dengan darah haidh? Pendapat pertama mengatakan ada kesamaan hukum antara darah haidh dan darah-darah lainnya.

Imam ibnu Abdil Barr berkata, “Semua darah hukumnya seperti darah haidh. Hanya darah yang sedikit itu dimaafkan, karena syarat darah itu dikatakan najis menurut ketetapan Allah adalah yang mengalir.” (Lihat, at-Tamhid, 20/230)

 

Pendapat Kedua Membedakan Antara Darah Haidh Dan Darah-Darah Lainnya.

Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin mengatakan, “Jika ditanyakan, mengapa darah-darah tersebut tidak diqiyaskan kepada darah haidh? Padahal darah haidh adalah najis. Dengan dalil bahwasannya Nabi menyuruh seorang wanita agar mengeriknya, kemudian menguceknya dengan air, kemudian menyiramnya (mencucinya) dengan air, dan baru digunakan untuk shalat.

Jawabnya adalah,  bahwa antara keduanya ada perbedaan. Pertama, darah haidh itu adalah darah yang rutin dikeluarkan wanit setiap bulan. Sebagaimana disabdakan Nabi, “Sesungguhnya itu adalah darah dari pembuluh darah.” Dimana beliau membedakan antara keduanya.

Kedua, darah haidh adalah darah yang kental yang aromanya menyengat; statusnya sama dengan air seni dan kotoran. Dan tidak betul kalau darah yang keluar bukan dari qubul dan dubur diqiyaskan dengan darah yang berasal dari jalan haidh, nifas dan istihadhah.” (Asy-Syarh Al-Mumti’, 1/442)

Keempat, dzat apapun boleh digunakan untuk menghilangkan najis, lalu dicuci dengan air. Contohnya adalah garam, daun bidara dan sabun atau alat pembersih lainnya.

Dalam al-Mughni (1/44) disebutkan, “Apabila dia menggunakan sesuatu yang mampu untuk menghilangkan najis seperti garam dan lain-lainnya, maka itu bagus.”

Imam al-Khattabi berkata, “Garam boleh digunakan untuk mencuci dan membersihkan pakaian dari darah; dan garam adalah bahan makanan. Maka, madu boleh digunakan untuk mencuci bagu yang terbuat dari sutera (khusus wanita) jika dengan sabun bisa merusaknya. Ataupun cuka buat membersihkan baju yang terkena tinta. Atau bahan-bahan lainnya yang memiliki daya ampuh. Wallahu a’lam. (Lihat, ‘Aun al-Ma’bud, 1/347)

Kelima, jika najisnya sudah mengering; dianjurkan untuk mengeriknya dengan kuku atau benda lainnya seperti ranting. Tujuannya  agar dzat najis yang menempel di baju gampang hilangnya ketika dikucek dengan air dan daun bidara/sabun/pembersih lainnya. Kemudian baru dicuci dengan air.

Ummu Qais binti Mihshan pernah menanyakan darah haidh yang mengenai baju kepada Rasululah. Beliau menjawab, “Keriklah dengan ranting, dan cucilah dengan air dan daun bidara.” (HR. Abu Daud; Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no. 300)

Keenam, jika najisnya bisa hilang bila dicuci dengan air saja; itu sudah dianggap cukup. Dan jika nodanya tetap membandel dan membekas, maka itu tidak mengapa. Shalatnya dianggap sah bila pakaian tersebut dikenakannya untuk shalat. (Lihat, al-Mughni, 1/44)

Khaulah binti Yasar pernah datang menemui Nabi dan bertanya, “Ya Rasulullah aku tidak punya pakaian kecuali hanya satu, dan aku mengenakannya ketika sedang haid, lalu apa yang harus aku lakukan?”

Rasulullah menjawab, “Jika engkau telah suci (dari haidh), cucilah bagian yang terkena darah, lalu shalatlah dengan pakaian tersebut.” Khaulah bertanya lagi, “Dan jika darah yang menempel tersebut tidak keluar (tidak bisa hilang nodanya)?” beliau menjawab, “Cukup bagimu mencucinya dengan air, dan tidak mengapa bagimu bekasnya.” (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud; Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no. 298)

Sumber: majalah an-najah edisi 121 hal. 53-55

Penulis : Ustadz Abu Asiyah Zarkasyi