Memandu dengan ilmu

Hukum Hadaya ‘Ummal (Hadiah Pegawai) Dalam Islam

0

Hukum Hadaya ‘Ummal (Hadiah Pegawai) Dalam Islam

Pertanyaan
Assalamu’alaykum, Ustad mau tanya apabila ada seseorang yang meminta tolong kepada kita untuk memasukkan kerja,  Disaat pas memang sedang membutuhkan karyawan.. Dengan melalui proses interview, psikotes dll dan yang memutuskan HDR… lalu setelah masuk keluarga yang meminta tolong memberikan uang sebagai tanda terimakasih…yang ditanyakan bolehkah kita menerimanya? Lalu haram atau halal kah uang tersebut… Jazakallahu khair

Jawaban

Hukum asal memberi hadiah adalah sunnah (dianjurkan). Hal ini berdasarkan hadits,

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

“Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrod no. 594. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan sebagaimana dalam Irwaul Gholil no. 1601)

Namun terdapat hadiah yang terlarang. Di antaranya adalah hadiah yang diberikan sebagai prasayarat tambahan dari utang piutang. Begitu pula termasuk hadiah yang terlarang adalah hadiah yang diberikan pada pegawai negeri (PNS) yang bertanggung jawab mengurus suatu urusan tertentu.

Termasuk pula dalam hadiah yang terlarang adalah hadiah dari seorang murid (mahasiswa) kepada guru (dosennya). (Syaikh Dr. Ahmad Al Kholil http://alkhlel.com/mktba/play-5812.html)

Namun terhadap kasus yang penanya sampaikan bukan termasuk katagori hadaya ‘ummal (hadiah pekerja) yang dilarang, sebab anda tidak menjadi tim yang mementukan (HRD) diterima atau tidaknya teman anda, peran anda hanyalah mengenalkan kepada perusahan tempat anda berkerja. Berbeda jika peran anda adalah menjadi tim HRD, maka hadiah yang anda dapatkan termasuk katagori hadaya ‘ummal yang dilarang, sebagaimana terhadap dalam riwayat hadits dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari bapaknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ

“Siapa saja yang dipekerjakan dalam suatu amalan lantas ia mendapatkan gaji dari pekerjaan tersebut kemudian ia mendapatkan tambahan lain dari pekerjaan itu, maka itu adalah ghulul (hadiah khianat).” (HR. Abu Daud no. 2943. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) wallahu a’lam.