Hukum Shaf Anak Kecil

0

Pertanyaan

Ustadz, bolehkah anak kecil yang belum baligh berdiri bersama laki-laki dewasa saat mengerjakan shalat jamaah? Apakah keberadaannya dapat memutus shaf tersebut.

(Abu Azra—Lampung)

Jawaban

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah ruah kepada Rasulullah.

Ada banyak hadits shahih yang menerangkan anjuran bagi ahli ilmu dan orang-orang yang memiliki keutamaan untuk mengisi shaf pertama. Di antara alasannya adalah apabila imam membutuhkan orang yang dapat menggantikannya atau mengingatkannya baik berkenaan dengan bacaan Al-Qur’an maupun gerakan shalat jika imam lupa, maka ada yang membantunya.

Meskipun demikian, apabila ada anak kecil yang sudah mumayiz, sudah dapat mengerjakan shalat dengan benar menempati shaf depan, pendapat yang lebih kuat adalah ia tidak boleh disuruh pindah. Berbeda halnya dengan apabila ia adalah anak kecil yang belum bisa mengerjakan shalat dengan benar. Jika ia masih belajar shalat, hendaklah ia tidak berdiri di shaf pertama, boleh di shaf kedua dan hendaknya diapit oleh laki-laki dewasa agar mereka tidak ramai dan mengganggu jamaah yang lain.

Mengajak anak yang telah berumur 7 tahun dengan penghitungan kalender hijriyah ke masjid adalah sunnah. Pengajaran shalat ini meliputi syarat rukun shalat, pembatal shalat, dan kewajiban untuk mengerjakannya secara berjamaah jika ia adalah anak-anak laki-laki.

Biasanya anak-anak akan ramai jika mereka berdiri di satu shaf bersama sesama mereka. Oleh karenanya mereka dishafkan dengan diapit atau didekat walinya atau lelaki dewasa yang mereka segani.

Sahabat Amru bin Salamah pernah menjadi imam saat ia berumur 7 tahun. Peristiwa yang terjadi pada masa kenabian tersebut dijadikan dasar oleh para ulama, jika ia sah menjadi imam, maka berdiri di mana pun sah. Ini pendapat kebanyakan ulama. Sedangkan menurut Imam Ahmad dan Ibnu Qudamah, anak-anak harus dibariskan di shaf belakang, meskipun jika mereka berdiri bersama laki-laki dewasa, shalat seluruh jamaah tetap sah. Wallahu A’lam bis Showab.

Sumber: Majalah An-Najah Edisi 120