Ibadah, Perbudakan Terpuji

0

Ibadah, Perbudakan Terpuji

Oleh: Ust. Luqman H. Syuhada’, Lc

Misi pertama Islam adalah mengembalikan hak Allah yang dirampas manusia. Seringkali manusia tak sadar telah merampas hak Allah hanya karena Allah tidak pernah “komplain” secara langsung. Sebab Allah tidak memilih berbicara secara langsung dengan setiap orang, tapi cukup sekali melalui perantara bernama Nabi Muhammad saw, dan dibukukan melalui Al-Qur’an. Hanya dengan kembali kepada Al-Qur’an manusia akan tahu apakah ia merampas hak Allah atau tidak.

Cara mengembalikan hak Allah adalah dengan melihat kehidupan ini secara makro. Bahwa alam semesta merupakan kerajaan berdaulat. Raja tertingginya Allah. Sekaligus pencipta dan pemelihara. Manusia hanya makhluk kecil dan lemah di tengah gugusan alam semesta. Sementara Allah Maha Besar dan Maha Tinggi, yang sanggup mencipta alam semesta dan kelak menggulungnya kembali pada hari Kiamat.

Pemahaman ini bukan hanya pengetahuan yang berhenti pada akal. Tapi mesti diturunkan ke hati menjadi keyakinan. Dan dipraktekkan oleh anggota badan dalam bentuk ketaatan kepada apapun aturan Allah.

Menempatkan diri sebagai hamba yang hina di hadapan Maha Kuasa lalu tunduk total kepada Allah disebut ibadah atau ubudiyah. Pilihan kata ini menarik direnungkan, agar kita memahami gambaran makna ibadah dan bisa menempatkan diri dengan benar sebagai hamba yang baik.

Ibadah ( عبادة) dari kata ( عبد ) yang artinya budak atau hamba. Kata perintahnya ( اعبد ) jika satu obyek, dan ( اعبدوا ) jika obyek yang diperintah banyak. Arti dari perintah ini, jadilah kamu budak, atau posisikan dirimu sebagai budak, atau membudaklah kamu. Menjadi budak untuk siapa? Untuk Allah !

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai manusia, jadilah Anda semua sebagai budak bagi Rabb (Tuhan) Anda, yang telah menciptakan Anda, agar Anda bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 21)

Allah menginginkan manusia menjadi budak atau hamba di hadapan Allah. Hanya kata budak atau hamba yang bisa mewakili posisi yang pas buat manusia di hadapan Allah. Itupun masih kurang sempurna jika mengacu kepada makna budak atau hamba yang dikenal manusia.

Kata budak atau hamba tak bisa dilepaskan dari sejarah munculnya perbudakan. Pada zaman dahulu, antara satu suku dengan suku yang lain kerap terjadi peperangan. Suku pemenang punya kebebasan mutlak untuk memperlakukan pihak yang kalah sesukanya. Benar-benar hukum rimba. Pemenang boleh membunuhnya, meminta tebusan sesukanya, atau menjadikannya sebagai budak.

Anggaplah terjadi dialog seperti ini antara pemenang dengan pihak yang kalah. “Saya pemenang, kamu pilih mana, saya bunuh atau menjadi budak untukku”. Andaikan Anda dalam posisi kalah, lalu diberi dua opsi seperti itu, akan memilih mana ?

Tentu manusia cenderung memilih kedua, menjadi budak. Sebab ia tak sanggup menghadapi horor digiring ke tempat eksekusi lalu meregang nyawa. Meski konsekwensi memilih menjadi budak sangat berat; ia dimiliki oleh si pemenang laksana hewan, bisa dijual kepada orang lain, bisa dihadiahkan dan diwariskan, bisa digauli jika perempuan, harus nurut apapun kata si pemenang, dan hak milik pribadinya hilang karena dirinya bahkan dimiliki oleh si pemenang. Kebebasan dan haknya sebagai manusia seketika hilang, lebih menyerupai hewan piaraan bagi si pemenang. Bukan hanya menjadi warga negara kelas dua, tapi bahkan menjadi warga kelas kambing.

Ia rela menghilangkan hak dan kebebasan dirinya, sebagai imbalan kesempatan hidup yang diberikan si pemenang. Itupun masih untung diberi opsi hidup, daripada tidak ada sama sekali opsi hidup, langsung dieksekusi mati oleh pemanang.

Perbudakan kemudian menjadi tradisi turun-temurun. Selama peperangan masih terjadi antar suku, tradisi ini masih terus berlanjut. Tapi kita patut bersyukur, zaman sekarang manusia menolak perbudakan. Meski masih ada perang, namun pihak yang kalah tidak lantas dijadikan budak. Perbudakan dianggap sebagai warisan masa lalu yang sudah tidak relevan dengan perkambangan zaman.

Kata budak merupakan kata terbaik yang menggambarkan ketundukan absolut yang dikenal manusia. Tak ditemukan kata lain yang lebih tinggi. Maka dipakai oleh Allah untuk menggambarkan posisi manusia yang harus tunduk absolut kepada Allah.

Manusia mengenal banyak bentuk interaksi. Sahabat, bermakna setara. Anggota, bermakna ketundukan dalam organisasi. Juragan-anak buah. Bos-kaki tangan. Rakyat-pemerintah. Suami-istri. Dan seterusnya. Tapi dari semua istilah itu, tak ada yang bisa menandingi tingkat kehinaan, kerendahan dan ketundukan kepada pihak lain dibanding kata budak atau hamba. Karenanya Al-Qur’an menggunakan istilah itu.

Padahal penggunaan kata budak atau hamba dalam tradisi perbudakan yang dikenal manusia dengan budak atau hamba yang Allah inginkan, tidak sama persis. Perbudakan kepada Allah lebih tepat disebut budak plus. Atau hamba plus.

Budak hanya perlu tunduk secara lahir, sebab si tuan tak tahu perkara batin yang tersimpan di hati si budak. Baginya, sepanjang si budak menunjukkan ketaatan, ketundukan, penghormatan dan sikap sopan di hadapannya, sudah cukup.

Berbeda dengan hamba di hadapan Allah. Harus diawali dengan kerelaan hati menempatkan diri sebagai budak di hadapan Allah. Cinta posisi itu. Ikhlas menjalaninya. Ada kombinasi rasa takut dan harapan di dalam hati. Baru kemudian secara lahir dibuktikan dengan taat, tunduk dan melaksanakan dengan gembira apapun yang menjadi aturan Allah. Sambil meninggikan Allah setingginya. Mensucikannya. Bukan hanya dalam ucapan, termasuk tidak boleh terbersit pikiran negatif kepada Allah sama sekali.

Maka makna beribadahlah kamu semua wahai manusia kepada Allah, mengandung semua rangkaian makna tersebut. Bukan hanya shalat dan ibadah-ibadah lain yang dikenal manusia. Tapi meluas pada aspek batin berupa rela, cinta, ikhlas, pasrah, tawakkal, takut, harapan dan seterusnya. Dan aspek lahir berupa shalat, baca Al-Qur’an, sedekah, haji, dan seterusnya.

Allah menginginkan semua manusia memahami ini. Dan menempatkan dirinya sebagai hamba. Sebab hanya dengan cara ini hak Allah kembali. Sebagai Rabbul Alamin. Bukan sebagai sosok yang diabaikan haknya oleh manusia.

Ketika ada pihak yang menolak bahkan menghalangi penghambaan ini, mereka yang sudah menjadi hamba diminta membela Allah. Jangan hanya asyik bersolek menjadikan diri sendiri hamba terbaik, tapi tak peduli dengan orang lain yang belum paham penghambaan kepada Allah, dan mereka yang menolak bahkan menghalangi penghambaan kepada Allah.

@elhakimi – 15072019

Gabung channel telegram.me/islamulia