Memandu dengan ilmu

IBADAH SEKEPING DUNIA

0

Di tengah era yang serba hedonis dan glamour seperti saat sekarang ini, kebutuhan akan peningkatan materi menjadi suatu hal yang sangat diidamkan oleh setiap orang. Mencari materi dunia dan kekayaannya menjadi tujuan dari setiap aktivitas yang dilakukan. Bahkan lebih dari itu, keuntungan materi duniawi telah menjadi sesembahan selain dari Allah ta’ala.

Fenomena tersebut dapat ditangkap dari geliat sikap pragmatis yang semakin kental di tengah masyarakat. Dengan hanya iming-iming beberapa lembar rupiah atau dollar seseorang langsung tergiur untuk melakukan hal-hal yang sarat dengan perkara haram. Ada pula yang menyalahgunakan ibadah sebagai sarana untuk menggapai obsesi dunianya. Tidaklah dirinya mendekatkan diri kepada Allah melainkan hanya sekedar keinginan dunianya tergapai. Seringnya pertimbangan duniawi menjadi perkara yang diprioritaskan dari pada pertimbangan akhiratnya.

Memang tidak salah seratus persen jika seseorang beribadah kepada Allah mengharap kebaikan di dunia dan di akhirat. Hakikatnya setiap amalan ibadah yang diperintahkan dalam Islam mengandung kebaikan dan kemashlahatan bukan hanya di akhirat kelak namun juga di dunia. Dari mulai shalat hingga perkara silaturahmi merupakan ibadah agung yang sarat dengan janji-janji kebaikan di dunia dan juga akhirat. Namun yang menjadi masalah manakala obsesi keduniaan itulah yang mendominasi dalam ibadahnya.

Banyak orang yang tergiur untuk mempraktekkan beberapa amalan ibadah karena manfaat dunianya. Namun ketika manfaat dunianya tak kunjung tiba, dengan mudahnya ia meninggalkan amalannya tersebut. Bahkan muncul keragu-raguan dalam dirinya akan kebenaran janji Allah. Wal ‘iyaadzu billah.

Gejala beribadah hanya sekedar untuk sekeping dunia seperti ini juga pernah muncul pada awal-awal Islam. Dahulu ada seseorang bernama Syaibah bin Robi’ah. Dirinya mendatangi Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- sembari berkata : “Do’akanlah untukku (wahai Muhammad) kepada Rabbmu agar kiranya Dia menganugerahkan kepadaku harta, onta, kuda dan anak laki-laki hingga aku nantinya mau beriman kepadamu dan condong kepada agamamu”.

Lalu Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- mendoakan untuknya. Doa beliaupun dikabulkan oleh Allah ta’ala. Kemudian Allah ta’ala hendak menguji keimanan Syaibah bin Robi’ah –sementara Allah Maha Tahu perihal dirinya-. Dikurangilah sedikit demi sedikit karunia yang Allah berikan kepadanya setelah dia berIslam. Hingga akhirnya dia marah dan tidak rela dengan ujian yang menimpanya lalu dia pun murtad dari Islam.

Berkenaan dengan tingkah laku beragama seperti Syaibah bin Robi’ah tersebut, maka Allah menurunkan firman-Nya yag Mulia :

(وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ (11

“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah di atas keragu-raguan. Apabila dia mendapatkan kebaikan tenanglah dirinya, dan jika ujian menimpanya, dirinya langsung berbalik atas wajahnya. Dia merugi di dunia dan di akhirat. Demikian itulah kerugian yang nyata”. (QS. Al Hajj : 11)

Imam Hasan al Bashri berkata : “Demikianlah ibadahnya seorang munafiq, dirinya menyembah Allah hanya dengan lisannya tanpa hatinya”. Imam al Qurthubi menjelaskan; “Apabila dirinya mendapatkan kebaikan berupa sehatnya badan dan kenyamanan hidup maka dirinya ridha dan mengerjakan perintah agama. Namun jika dirinya ditimpa ujian berupa sakitnya badan dan sempitnya hidup dia berbalik wajahnya menjadi murtad kembali kepada kekufurannya yang dahulu”. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an juz 12 hal 340).

Abdullah bin ‘Abbas seorang pakar tafsir dari kalangan sahabat berkata; “Dahulu ada seorang datang ke Madinah, maka jika istrinya melahirkan seorang anak laki-laki dan kuda tunggangannya berkembang biak, dia pun langsung berkata ini adalah agama yang baik. Namun jika istrinya tidak melahirkan seorang anak pun dan kudanya tidak berkembang biak maka dia pun berkata ; ini adalah agama yang buruk”. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an juz 12 hal 399).

Tidak mengherankan jika kemudian Allah menyematkan label rugi bagi orang-orang yang bermain-main dengan ibadahnya. Karena mereka telah menipu Allah dengan ibadahnya, sementara tidaklah mereka menipu kecuali menipu dirinya sendiri. Di dunia dirinya rugi karena penatnya ibadah dan di akhirat merugi mendapatkan siksaan di neraka.

Sikap inilah yang menjadi sebab banyaknya pemurtadan di akhir zaman. Hanya karena sekeping dunia seseorang rela melepas atau menjual agamanya secara disadari atau tanpa disadari. Sebagaimana sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا»

Dari Abu Huroiroh bahwa Rosulullah -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda : “bersegeralah kalian beramal sebelum datangnya ujian-ujian seperti sepenggal malam yang gelap gulita, seseorang di pagi harinya beriman di sore harinya menjadi kafir, atau seseorang di sore harinya beriman, di pagi harinya telah menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan sekeping dari dunia”. (HR. Muslim)

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita sikap zuhud dan cinta akhirat. Kita berharap pula agar ibadah kita bukan hanya sekedar mencari dunia. Semoga Allah menerima amal ibadah kita.

اللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك…

Yaa Allah, tolonglah kami untuk selalu ingat kepada-Mu, dan selalu mensyukuri-Mu serta ihsan dalam beribadah kepada-Mu…

Wallahu a’lam.