Memandu dengan ilmu

Ikhlas Berdakwah Raih Ridho Allah

0

Ikhlas Berdakwah Raih Ridho Allah

 

Di masa salaf, banyak ulama-ulama ternama yang benar-benar mewarisi karakteristik para Nabi.  Mereka senantiasa ikhlas dan menjaga keikhlasan saat memberi nasihat. Para Nabi selalu mengatakan, “Aku tidak pernah mengharap upah dari kalian, upahku hanyalah dari Allah.”

Kalimat ini bukan isapan jempol belaka. Dakwah para Nabi adalah dakwah yang bersih, suci, dan ikhlas. Tak secuil pun diracuni tendensi duniawi. Profit yang diharapkan adalah profit akhirat, untuk dirinnya dan umatnya. Kalaupun kalau ada Nabi yang kaya, kekayaannya berasal dari Allah, bukan dari profit mengajarkan Risalah-Nya. Itupun hanya beberapa Nabi saja karena para Nabi lebih memilih jalan hidup sederhana agar lebih menyatu dengan umatnya.

Demikian pula, para ulama salaf. Setiap kali diundang di hadapan pejabat untuk berceramah atau di datangi untuk diminta nasihat lalu diberi hadiah, hampir semuannya menolaknya mentah-mentah.

Imam Muhammad bin Sirrin pernah dihadiahi 40.000 dinar oleh khalifah setelah berceramah di istana. Satu dinar nilainya 4,25 gram atau sekitar 2 juta Rupiah, dikali 40.000  saman dengan 80 milyar.  Orang sekarang mungkin berkata, uang itu cukup untuk tujuh turunan, tapi beliau menolaknya dan tidak mengambil sepeserpun. Bukan apa-apa beliau hanya tidak ingin nasihatnya dihargai dengan dunia sementara yang beliau harapkan adalah pahala Akhirat.

Mengapa ditolak ? Apakah menerima hadiah semacam itu dilarang ? Tidak. boleh saja menerimanya. Hanya saja, para ulama tidak menerimanya demi menjaga keikhlasan. Tapi bukankah jika memang tidak mau, hadiah itu bisa diterima lantas disedekahkan kepada fakir miskin ? Benar. Cara itu juga sangat baik, namun imam Thawus (dzakwan) bin kaisan tidak mengambilnya.

Ketika berceramah di hadapan gurbernur dan di beri hadiah baju mahal, beliau menolaknya. Kawannya berkata,”Demi Allah, sebenarnya kita tidak perlu mmbuat dia tidak marah kepada kita. Apa salahnya jika anda menerima pakaian tadi kemudian anda jual dan hasilnya disedekahkan kepada fakir miskin ?”

Thawus berkata, “Apa yang akan anda katakan memang benar jika aku tidak mengkhawatirkan para ulama setelah kita berkata, “Kami meneladani Thawus bin kaisan, akan tetapi mereka tidak melakukan seperti yang anda ucapkan.” Maksudnya, meneladani menerima hadiah, tapi tidak memberikannya sebagai sedekah.

Cerdik dan teliti. Begitulah para imam salaf menjaga keikhlasan hati dari rayuan dan tipu daya dunia. Mereka melakukan antisipasi dari hal-hal kecil tapi sebenarnya membahayakan.

Berbeda sekali dengan orang hari ini. Banyak yang disebut atau mendeklarasikan diri sebagai pewaris Nabi, tapi justru menggunakan dakwah sebagai ladang mencari dunia. Untuk berceramah mereka menentukan tarif dan upah. Ada yang benar-benar mematok harga, ada pula yang patokan harganya berdasarkan kebiasaan yang tersebar dari mulut ke mulut.

Di zaman ini, Da’i-da’i seikhlas ulama salaf sangatlah jarang. Yang ada justru orang- orang yang mengaku sebagai dai tapi menjadikan dakwah sebagai kendaraan mencari keuntungan duniawi. Mematok tarif tinggi untuk 1 atau 2 jam menyampaikan nasihat. Sebuah ironi yang tidak disukai tapi diakui secara diam-diam di kalangan umat menjadi permakluman bersama. Ustadz ini tarif manggungnya sekian sedang kyai ini sekian.

Dari sudut dakwah adalah hanya mengharap Ridho Allah dan tersampaikannya ilmu kepada umat. Jangankan mematok harga, bagi da’i yang ikhlas, menerima amplop pemberian panitia saja dianggap sebagai hal yang mengkhawatirkan. Ia khwatir amplop itu mempengaruhi keikhlasannya meski secara hukum tidak ada larangan menerimanya.

Pengaruh itu bisa dideteksi ketika kali lain berceramah dan isi amplopnya tak sebesar sebelumnya atau bahkan amplopnya hanya, “Syukran, Ustadz….” Alias tak ada amplop sama sekali, terbetik rasa kecewa di hati. Ia tak menginginkan hal itu terjadi dan berusaha menjaga diri dari rasa ini. Akhirnya, ada sebagian yang menolak, tapi kebanyakan tetap menerima hanya karena ogah eyel-eyelan dengan panitia.

Sebagai da’i, hendaknya selalu waspada terhadap persoalan semacam ini. Godaan-godaan duniawi sangat halus dan tipis dalam merusak keikhlasan. Memancangkan niat berdakwah karena Allah dan bukan demi selain-Nya harus senantiasa dilakukan dalam dakwah. Ada tidaknya profit duniawi, jangan sampai mempengaruhi hati, apalagi menurunkan semangat diri. Semoga dengan begitu, Allah akan menjadikan kita manusia mukhlas, yang hatinya senantiasa dituntun untuk selalu ikhlas dalam beramal. Bukan orang yang tendensinya melulu soal dunia saja karena hal itu akan membuat kita binasa.

مَنْ أَصْبَحَ وَهَمُّهُ الدُّنْيَا، شَتَّتَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرُهُ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَاكُتِبَ لَهُ، وَمَنْ أَصْبَحَ و هَمُّهُ الآخِرَة، جَمَعَ اللهُ لَهُ هَمَّهُ، وَحَفِظَ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

      “Siapa yang hasratnya adalah dunia, Allah akan mencerai beraikan urusanya, membuatnya takut terhadap hartanya, menjadikan kefakiran tampak di hadapannya dan dunia tidak datang kepadanya melainkan yang sudah ditentukan untuknya. Dan siapa yang hasratnya adalah akhirat, Allah akan menghimpun hasratnya, menjaga hartanya, menjadikan kekayaan ada di hatinya dan dunia datang kepadanya sedang dia enggan.” (HR.Ahmad,ad Darimi, Ibnu Hibban)

Adapun posisi kita sebagai murid (thalibul ilmi), memang sudah sepantasnya untuk menghormati para ulama dan kyai. Menyambut mereka dengan baik, dan memberikan apa yang dimampui sebagai ganti transport atau ucapan terima kasih atas waktu yang disediakan. Ini merupakan ikram dan ta’zhim kepada orang berilmu. Soal beliau menerima atau tidak, atau menyedekahkan kembali pemberian, itu urusan Beliau. Wallahu A’lam

(anwar. ar risalah: 148)