Memandu dengan ilmu

Ikhtilath (Campur Baur) di Angkot

0

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Ustadz, ana seorang mahasiswi yang harus pulang pergi ke kampus dengan angkot. Terus terang ana merasa tidak nyaman karena penumpangnya ikhtilath. Bahkan biasanya, lebih banyak lelakinya.

Meski berusaha agar duduk dengan sesama jenis, namun tidak selalu berhasil. Apa yang sebaiknya ana lakukan ustadz? Jazakallah atas nasihatnya.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Muslimah-Bumi Allah

 Jawaban

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

Ukhti muslimah yang shalihah, saya bersyukur jika ukhti merasa tidak nyaman berpergian ke kampus naik kendaraan umum. Hal ini sebagai tanda tingginya harga diri dan kehormatan yang ada pada diri ukhti. Sesuatu yang kini jarang kita temukan di kalangan wanita.

Kalau memungkinkan, usahakan untuk mencari tempat kos muslimah yang menyerupai pesantren. Selain lebih aman, ukhti bahkan bisa memperoleh banyak manfaat, berupa ilmu agama, lingkungan yang kondusif, dan teman-teman yang seiman.

Namun kalau memang pilihannya harus tetap berkendaraan umum dengan berbagai hal pertimbangan, berhati-hatilah. Sebab seringkali kejahatan atau keusilan yang terjadi di dalam kendaraan umum, sasaran empuknya adalah kaum perempuan. Untuk itu, usahakan agar perjalanan ukhti terjaga keamanan dan pelaksanaan syariahnya.

Berusahalah untuk mendapatkan teman perjalanan sesama jenis. Selain bisa duduk berdampingan yang itu bisa meminimalisir fitnah ikhtilath, bisa juga sebagai teman ngobrol dan menjaga diri. Ukhti bisa mengajak mahasiswi lain yang berasal dari satu kota dengan ukhti kan?

Selain itu, berusahalah untuk menundukkan pandangan mata. Sebab pandangan mata yang liar seringkali menjadi sumber bencana. Bukankah mata adalah duta syahwat?

Jagalah pula penampilan dengan berpakaian secara syariat. Berjilbab longgar, tidak transparan, tidak ketat, tidak menyerupai pakaian lelaki, dan tidak meniru pakaian orang-orang kafir. Seringkali, penampilan perempuan adalah sebab dia berhak mendapatkan pelecehan itu sendiri. Misalnya penampilan yang sensual dan menggoda.

Selanjutnya adalah bersikap santun dengan tetap menjaga wibawa, baik ucapan maupun prilaku. Hindari suara yang mendayu, perhiasan yang gemerincing, dan parfum yang beraroma kuat. Hal ini agar kita tidak menjadi obyek perhatian lawan jenis, sehingga menimbulkan kesan gampangan. Namun jangan juga terkesan angkuh dan sombong.

Terakhir, perbanyaklah berdoa. Semoga Allah menjaga keselamatan dan kehormatan diri kita. Wallahu a’lam.

Sumber: majalah arrisalah edisi 67 hal. 8