Memandu dengan ilmu

Ikhtilath; Konsekuensi Kesetaraan Gender

0

Mencermati pemberitaan radar kota-kota kabupaten sering menemukan fakta mencengangkan. Diantaranya, perselingkuhan antar sesama PNS yang sudah mencapai tingkat mengkhawatirkan. Operasi pekat (penyakit masyarakat) pada jam kerja semakin sering memergoki pasangan tidak sah yang ngamar bedua, pada jam kantor, masih dengan pakaian dinas. Hal itu diasumsikan sebagai puncak gunung es; fakta sesungguhnya jauh lebih besar dibandingkan gajala yang mencuat di permukaan.

Mengapa aparat birokrasi yang seharusnya sebagai teladan di masyarakat justru yang terjadi sebaliknya? Tentu, fakta yang mengemuka bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, tetapi buah dari proses yang panjang, bertahap hingga sampai pad atahap seperti itu.

 

Kesetaraan Gender dalam Penanaman Investasi dan Hutang

Pemerintah di negara-negara berkembang pada umumnya menggantungkan pengembangan perkenomian dari  investasi modal asing, bahkan dalam keuangan negara krisis, tak jarang birokrasi pemerintahan digaji dengan pinjaman utang.

Investasi modal dan pinjaman utang selalu disertai syarat tak hanya besar-kecilnya suku bunga pengembalian utang dan jangka waktu pelunasan. Ada syarat-syarat lain yang tak secara langsung terkait dengan keuntungan ekonomi, diantaranya menyerap sekian persen tenaga wanita. Membuka peluang kerja bagi kaum wanita demi merealisir konsep kesetaraan gender selalu menjadi argumentasi penekan dikucurkannya hutang.

Terkait dengan komitment ini, pemerintahan bahkan terus mendorong peningkatan  partisipasi  perempuan dalam lembaga legislatif, diusahakan hingga mencapai 30%. Adapun dalam struktur birokrasi, penyerapan kaum hawa sudah lebih awal dimulai, bahkan sudah mapan. Di sektor pelayanan publik kaum wanita bahkan dijadikan sebagai ujung tombak.

 

Latar Belakang

Kesetaraan gender merupakan salah satu isu sentral diantara isu-isu yang diusung kelompok liberal, sebagaimana pentingnya isu demokrastisasi dalam bidang politik. Isu kesetaraan gender, atau (meskipun tidak sama persis) emansipasi yang lebih dikenal dalam khazanah nasional, bukan suatu gejala yang berdiri sendir. Isu tersebut merupakan ‘paket komplit’ sekulerisasi kehidupan dari pengaruh agama, bertitik tolak dari spirit liberal untuk berjuang melepaskan diri dari belenggu norma agama.

Di tempat asal tumbuhnya, kesetaraan gender adalah pemberontakan untuk membebaskan diri dari keterikatan norma-norma agama dan moral. Ketika isu itu dieksport ke negara-negara berkembang, menyatu  dalam paket bantuan dan atau hutang, spirit itu tak tertinggal, menempel dan tetap terbawa.

Ketika investasi di sektor industri dimulai, pabrik-pabrik untuk beragam produk bermunculan, perekrutan tenaga kerja yang murah dan massal dimulai pula. Laki-laki dan perempuan bercampur dalam unit-unit kerja yang sama, berdekatan, saling membantu dalam kerja, baik yang masuk kerja pada shift pagi sampai sore, sore sampai malam, maupun malam hari sampai pagi, tak ada beda. Mereka yang jauh dari desa, boros dan tidak efisien jika harus pulang pergi, maka disediakan mess hunian di sekitar pabrik yang murah dan massal, dan itu pun tidak memenuhi persyaratan kesehatan fisik maupun moral. Dan disini muncul persoalan ikutan mulai dari pergaulan bebas hingga perselingkuhan yang menghancurkan keutuhan rumah tangga.

Meskipun di negara-negara berkembang kemunculan industri bukan berhulu dari pemberontakan terhadap norma-norma agama dan moral, tetapi produk hilir sampingan industrialisasi tidak bisa lepas dari produk samping yang dihasilkan di habitat awal tumbuhnya. Masalahnya, berdirinya sebuah industri tertentu telah dipersyaratkan dengan syarat-syarat yang jika dijalani akan menghasilkan produk sampingan kerusakan itu. Andai negara-negara tujuan investasi mempunyai posisi tawar untuk meniadakan persyaratan-persyaratan yang merusak itu, barangkali efek buruknya dapat dikurangi.

 

Selingkuh PSH

Perselingkuhan di kalangan pegawai, baik PNS maupun swasta bermula dari sebab-sebab yang kurang lebih serupa dengan yang menjalar di dunia buruh sebagai efek samping industrialisasi. Frekuensi pertemuan antara sesama rekan sekantor dengan durasi yang begitu panjang dalam suasana kerja sehari-hari membuka peluang tersemainya bibit-bibit pelanggaran susila. Jika diamati lebih cermat keberadaan aparat birokrasi 6 hingga 8 jam sehari di kantor, 5 hari dalam sepekan, meja asling berhadapan atau bersebelahan dalam satu ruangan, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tentu saja membawa pengaruh. Kadang seseorang begitu hafal bau parfum rekan perempuan sekantornya, bahkan sebelum pemakainya nampak.

Apalagi dunia pertemanan jauh berbeda dengan dunia kerumahtanggaan. Dunia kerumahtanggaan adalah dunia kesungguhan dan tanggung jawab, sedang dunia pertemanan (jika tidak hati-hati) adalah dunia kepura-puraan, kepalsuan dan kesenangan. Ketika seseorang sedang menghadapi persoalan di rumah tangganya, tak jarang teman sejawat lawan jenis yang menjadi tumpahan ‘curhat’. Awalnya mungkin hanya kasihan, lalu tumbuh simpati, kemudian berkembang ke arah hubungan haram yang lebih jauh dan lebih dalam. Apalagi jika teman curhatnya juga sedang menghadapi problem rumah tangga serupa, klop sudah.

Syaitan mendapatkan tempat persemaian bibit pelanggaran zina yang sangat poensial. Jangan lupa, iblis moyang syaitan pun menyematkan mahkota sebagai penghargaan khusus bagi anak buahnya yang berhasil menjerumuskan pasangan anak Adam berzina. Ketika ‘innan-nafsa la ammaaarotun bis-suu’, hawa nafsu yang cenderung menyeluruh melakukan perbuatan buruk telah berkerja, iblis dan qabilahnya mendapatkan pintu masuk untuk menghidupkan swicth ON sehingga jatuhlah ke dalam kubangan maksiat. Tak heran jika dalam operasi pekat semakin sering ditemukan pasangan haram di hotel kelas melati masih dengan PSH (Pakaian Sipil Harian)-nya.

 

Blow-up Media dan Dukungan Teknologi Informasi

Media massa, terutama TV benar-benar menjadi ujung tombak penyebaran budaya ikhtilath, pergaulan bebas, hubungan campur baur laki-laki perempuan tanpa batas dan tanpa penjagaan kesopanan ini. Tanpa serangan delegitimasi saja seorang yang mengkonsumsi asupan siaran itu terus-menerus akan terpengaruh, apalagi tak cukup dengan tampilan, anggapan kuno, ketinggalan zaman, kurang pergaulan dan cemoohan serupa terus diarahkan kepada mereka yang masih berpegang kepada adat kesopanan.

Peran media massa yang begitu sentral dalam penyebaran budaya percampuran tanpa batas ini, masih juga diperkuat dengan dukungan media sosial di dunia maya yang semakin praktis, massal, murah, dan luas jangkauannya. Media internet, facebook, twitter dan fasilitas dunia maya lain yang terus berkembang semakin menguatkan budaya ikhtilath hingga diterima sebagai sebuah kebenaran dan kewajaran.

Ketika telah melembaga sebagai budaya, maka adanya individu atau komunitas kecil yang tidak menerimanya akan dianggap asing dan nyeleneh. ‘Hari ini kok masih ada orang yang tidak mau salaman dengan lawan jenis, kuno!’. Zaman seperti ini kok masih tabu melakukan selingkuh!’. Masyaa Allah!

Bukankah kenyataan bergerak ke arah ini? Begitulah gambaran ringkas dari hulu ke hilir konsekuensi memilih sistem hidup sekuler. Bersiaplah untuk terasing jika ingin tetap berpegang dien pada masa seperti ini. (Muslim S)

 

Sumber: majalah arrisalah edisi 129